Senin, 06 Juni 2011

Tentang Oligarki, Rizal Ramli, dan Sri Mulyani

Tentang Oligarki, Rizal Ramli, dan Sri Mulyani

(Wawancara dengan Jeffrey A Winters)

Profesor Jeffrey A Winters berbicara memukau di Rumah Integrasi di Jalan Latuharhary Nomor 16, Jakarta Pusat pada Jumat, 3 Juni 2011. Pengajar di Departemen Ilmu Politik Northwestern University, Amerika Serikat, ini diundang Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) yang tidak lain adalah lembaga yang punya kecenderungan kuat mendukung Sri Mulyani Indrawati. Di Rumah Integrasi itu pun, foto-foto mantan menteri keuangan ini mejeng dengan ukuran besar.

Ratusan orang menyempatkan diri mendengar pemikiran seorang indonesianis ini walaupun ruangan sangat pengap karena pendingin yang tak berfungsi. Dengan hanya mengenakan kaus hijau dan jeans, Jeffrey berceloteh panjang mengenai kelahiran oligarki (bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat) di Indonesia. Bahasa Indonesianya lancar, terkadang penulis buku Dosa-Dosa Politik Orde Baru ini mengambil perumpamaan yang cerdas untuk menggambarkan pikirannya.

Berikut adalah wawancara selama 5 menit 49 detik selepas kuliah umum. Pada wawancara ini, selain tentu saja menanyakan tentang para oligark (pelaku oligarki atau bisa juga diterjemahkan sebagai pengusaha pengisap kekayaan Indonesia) yang banyak dibahas dalam buku terbarunya Oligarchy, saya dan satu teman mencoba memintanya untuk menakar siapa sosok yang cocok memimpin Indonesia.

Berikut petikan lengkap wawancara tersebut:

Anda mengatakan, sesudah Partai Komunis Indonesia, tidak ada partai politik yang mampu memobilisasi massa?Maksud saya, hanya pernah dalam sejarah Indonesia ada dua kasus, dua contoh partai yang punya akar rumput, yakini Partai Nasional Indonesia dan Partai Komunis Indonesia. Keduanya punya sifat lain selain elitis. Dan sejak PKI, tidak pernah ada partai atau organisasi yang punya massa akar rumput. Semua bersifat elitis dan menengah ke atas.

Dan tidak hanya itu. Kalau boleh saya mengkritisi gerakan mahasiswa di Indonesia, segala upaya untuk membuat baik di Indonesia, justru mereka yang paling elitis dan paling alergi dengan masyarakat. Karena mereka menganggap ada batasan kampus, di mana batasan kampus itu sama dengan tembok yang tinggi sekali.
Dan saya mengerti bahwa mahasiswa suka bicara atas nama rakyat, tapi cobalah campur langsung dengan rakyat. Itukan lain lagi.

Caranya?Selama ini, mahasiswa paling bisa bergabung dengan mahasiswa lain. Sampai di situ. Tetapi mahasiswa terlibat langsung sebagai leader of the people, belum terjadi. Dan saya rasa mahasiswa hanya bisa benar-benar mewujudkan posisi sejarah mereka kalau mereka bisa mengatasi limitation ini.

Jadi apa yang salah di Indonesia ini? Apa yang mesti diperbaiki?Menjinakkan oligarkinya.

Dengan cara?Memperkuat sistem hukum

Apakah selama ini sistem hukum di Indonesia belum kuat?Hampir tidak ada.

Sistemnya atau orangnya?Enggak, maksud saya, kalau kita definisikan sistem hukum yang kuat dan definisi cukup kuat untuk membuat orang kuat tunduk terhadap hukum, jelas Indonesia gagal. Jadi, jangan kita mengukur sistem hukum dari apakah orang biasa tunduk kepada hukum. Karena setiap hari orang biasa tunduk kepada hukum. Yang menjadi ukuran, apakah orang yang paling kuat di Indonesia tunduk kepada hukum? Dan sampai sekarang itu tidak terjadi.

Seberapa besar ancaman oligarki buat politik di Indonesia?Mungkin tidak ada ancaman yang lebih daripada itu. (Ancaman datang dari) Oligarki liar, bukan oligarki saja. Oligarki liar yang tidak tunduk terhadap hukum. Jadi, yang perlu oligarki jinak di Indonesia.

Apakah karena tidak adanya kepemimpinan yang kuat juga?Soal kepemimpinan, jelas Soeharto sebagai pemimpin bisa menjinakkan oligarki, tetapi kita lihat juga, untuk masa depan panjang Indonesia itu jalan buntu. Karena, orang tidak membangun sistem. Yang perlu, sistem yang lebih kuat daripada orang.
Dan yang diciptakan Soeharto justru orang yang lebih kuat daripada sistem. Yang diwariskan dari zaman Soeharto dan Orde Baru, justru institusi-institusi yang hancur total dan tidak mampu untuk mengendalikan orang yang paling kuat di Indonesia.
Jadi, harus dibangun sistem, bukan orang. Jelas dengan membangun sistem. Namun, itu harus dibantu oleh leader yang tegas, kuat. Orang yang tegas dan kuat itu justru harus bertugas untuk membangun sistem yang kuat, bukan kekuasaan dia sendiri.

Untuk membuat sistem yang kuat harus dimulai dari mana?Saya tidak punya instruction book untuk how to do it. Indonesia harus mencari caranya yang khas. Indonesia sendiri. Konteks Indonesia, sejarah Indonesia, kebudayaan Indonesia dan seterusnya.
Jadi saya tidak bisa katakan, ‘this is how you do it’. Indonesia sendiri harus mobilisasi dan cari sendiri. Kalau ini ga jalan, coba yang ini, coba yang lain. Don’t give up. Saya yakin bisa menang. Don’t give up.

Untuk Pemilihan Umum 2014 idealnya seperti apa?Idealnya Rizal Ramli.

Kenapa?Karena saya menganggap dia leader yang luar biasa, eeee (jeda sebentar), dalam sejarahnya dia, eeee, membuktikan bahwa dia berani ambil risiko, tidak takut siapapun dan selalu konsisten dalam prinsip untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sri Mulyani?Ee (jeda sebentar lagi), Sri Mulyani juga bagus.

Di antara mereka?Ee (kembali jeda untuk berpikir), kenapa harus pilih di antara mereka. Kenapa tidak digabung saja berdua. Hehehe, itu lebih bagus lagi..hahahaha.(***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar