Minggu, 19 Februari 2012

Pijat Minus-Minus

Waspada Jika Duduk di Bangku Belakang (Foto: riamrtumimomor.blogspot.com)
Seumur-umur baru kali ini gw kecopetan...walaupun cuma dua item yang diembat, tapi lumayan nyesek juga. Maklum, satu item yang ilang itu blackberry. Tipenya memang yang paling murah, cuma gemini. Tapi, banyak data belum sempet dialihin. Ada yang udah jadi, ada juga yang masih bahan mentah. Belum lagi nomor-nomor telepon narsum yang susah payah didapetin. Nomor2 PIN narsum juga terpaksa harus diikhlaskan pergi.

Sebelumnya gw udah punya firasat buruk. Tapi, karena males, jadi terus ditunda-tunda mau mindahin data dari HP ke tempat lain yang lebih aman. Email misalnya. Yah, begitulah, nyesel pasti di depan.

Item kedua yang ilang juga cuma kartu langganan kereta. Ini ga terlalu berharga. Paling cuma dua minggu menderita harus ikut antre beli tiket lagi. Setelah itu, gw bisa beli lagi kartu baru bulan depan.

Baik, daripada berpanjang-panjang, ini nih kronologis gw kecopetan. Walaupun salah kutip umur (di berita tertera umur 30 tahun, padahal gw masih 29 tahun, hehehe...takut merasa terlalu tua), selebihnya kronologis itu demikian adanya. Yang menarik, di Seputar Indonesia dikatakan gw udah lapor ke Polsek terdekat. Sebenernya gw ga melakukan itu. Tapi, gpp...lagian itu ga bikin gw rugi.. Malah gw bersyukur smoga tuh komplotan pencopet bisa ditangkep tangan sama pulisi.

Ini nih barbuknya, gan.......



Copet Bermodus Pijat Intai Penumpang Bus
Fabian Januarius Kuwado | Aloysius Gonsaga Angi Ebo | Kamis, 16 Februari 2012 | 17:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ada-ada saja modus yang digunakan para pelaku kejahatan jalanan, terutama para copet yang kerap melakukan aksinya di angkutan umum. Selama ini, modus yang dikenal masyarakat antara lain dengan pura-pura muntah atau dengan berkomplot. Namun peristiwa kali ini, pencopet berpura-pura dengan menjadi tukang pijat dan menimpa seorang wartawan harian Koran Jakarta, Wandi (30).

Saat itu, sekitar pukul 11.30 WIB, ia hendak mendatangi lokasi diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat dengan menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2/2012). "Saya naik dari depan Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional), Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," ujar Wandi.

Wandi melanjutkan, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Tak lama berselang, pria berbadan gemuk tersebut juga memijat kaki kiri Wandi. "Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujar Wandi.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui ponsel Blackberry yang semula berada di saku itu telah raib. "Saya periksa pria yang memijat, tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih saja," ujarnya kesal.

Polda Metro Jaya tengah menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari mendatang. Selama operasi yang terhitung sejak tanggal 4 sampai 13 Februari itu, Polda Metro Jaya telah menahan sebanyak 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 senjata tajam, 56 kendaraan roda dua, 13 kendaraan roda empat, 67 ponsel, 651 botol minuman keras, dan uang tunai senilai Rp 63.198.000.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/16/17385936/Copet.Bermodus.Pijat.Intai.Penumpang.Bus


+++++
Waspadai Pencopetan Bermodus Pemijatan di Kopaja
Penulis : Donny Andhika AM
Kamis, 16 Februari 2012 17:16 WIB    


JAKARTA--MICOM: Gerombolan pencopet kembali beraksi di angkutan umum Jakarta. Modus klasik yakni dengan cara memijat korban kembali dilakukan.

Peristiwa pencopetan dengan modus ini dialami seorang wartawan surat kabar bernama Wandi Jusuf, 30, saat menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2), sekitar pukul 11.30 WIB.

Saat itu Wandi hendak mendatangi lokasi diskusi Timsel KPU di Hotel Millenium.

"Saya naik dari depan Lemhanas, Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang. Setelah duduk, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Terakhir pria bertubuh gemuk itu memijat kaki kiri saya. Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujar Wandi.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui telepon genggam BlackBerry yang semula berada di saku depannya raib.

"Saya periksa pria yang memijat tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih perhatian saja," tuturnya.

Maraknya kejahatan jalanan salah satunya pencopetan seperti yang dialami Wandi membuat Polda berinisiatif menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari mendatang.

Selama gelar Operasi Berantas Jaya selama tanggal 04-13 Februari, Polda Metro Jaya dan jajaran telah menahan 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 bilah senjata tajam, 56 unit kendaraan roda dua, 13 unit kendaraan roda empat, 67 handphone dan 651 botol minuman keras dan uang tunai senilai Rp 63 juta. (OX/OL-9)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/02/16/298975/37/5/Waspadai-Pencopetan-Bermodus-Pemijatan-di-Kopaja


+++++
Kaki Dipijat, BlackBerry Hilang
Friday, 17 February 2012

Tindak kriminal di Ibu Kota sepertinya tidak pernah sepi.Berbagai modus operandi kejahatan baru dilancarkan komplotan penjahat.Salah satu modus baru kejahatan yakni komplotan pencopet di angkutan umum dengan modus sebagai pemijat.

Korban kejahatan modus pencopet berkedok pemijat ini yakni Wandi,30,wartawan salah satu koran nasional. Lelaki ini harus kehilangan smartphoneBlackBerry saat menumpangi Kopaja 502 jurusan Tanah Abang–Kampung Melayu, kemarin siang. Wandi menceritakan, siang itu dirinya berniat melakukan peliputan diskusi Timsel KPU di salah satu hotel ternama.

Wandi pun menaiki Kopaja 502 dari depan kantor Lemhanas menuju hotel tersebut. Ketika naik dari pintu belakang Kopaja tersebut,tiba-tiba saja Wandi dipepet sejumlah pria hingga akhirnya duduk di bagian belakang angkutan umum tersebut. Tanpa curiga, Wandi pun duduk di samping seorang lelaki yang terlihat sedang asyik dipijat seorang pria bertubuh gemuk.

Sekitar 10 menit memijat penumpang itu,tanpa diduga pemijat tersebut memijat kaki Wandi. Pijatan ini sontak saja ditolak Wandi karena dirinya tidak biasa dipijat. Meski ditolak,pemijat itu terus memijat kaki Wandi di tengah panasnya suasana dalam Kopaja.Wandi pun mulai masuk dalam jebakan komplotan pencopet ini.Benar saja,ketika hendak turun, Wandi memeriksa BlackBerry di saku kirinya.

Wandi terkejut ketika merogoh saku celananya, ponsel tersebut telah hilang. “Saya curiga dan menggeledah pakaian pemijat itu,tetapi handphonesaya tidak ada,”ungkapnya.Wandi meyakini pemijat itu bagian dari komplotan penjahat yang bertugas mengalihkan konsentrasi dirinya. Meski curiga dengan pemijat itu,Wandi pun tak dapat berbuat banyak karena tidak mendapatkan barang bukti di pemijat tersebut.

Tak terima dengan kejadian yang dialaminya,Wandi melaporkan kasus tersebut ke petugas Polsek Gambir. Kepala Unit Reskrim Polsek Gambir Kompol Taufik Mansyur mengatakan,pihaknya telah menerima laporan dari korban dan saat ini sedang menyelidiki kasus tersebut. “Ini modus baru pencopetan, dengan menjadikan pemijat sebagai pengalih untuk pelaku lain mengambil barang korban,”tukasnya.

Biasanya kejahatan di dalam angkutan umum dengan modus berpura-pura muntah atau kejang-kejang. Kompol Taufik Mansyur mengimbau,kepada pengguna angkutan umum untuk selalu waspada terhadap bentuk kegiatan apa pun di dalam angkutan.Bahkan,jika merasa keamanannya terancam,lebih baik turun dan meminta bantuan petugas terdekat. 

RIDWANSYAH
Jakarta

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/470194/


++++++
Modus Baru! Copet Pura-pura Pijat Penumpang Angkutan Umum
TRIBUNnews.com
Oleh Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bertambah lagi modus yang digunakan oleh para pelaku kejahatan, khususnya para pencopet yang beraksi di angkutan umum. Salah satunya adalah dengan berpura-pura menjadi tukang pijat.

Peristiwa pencopetan ini menimpa seorang wartawan Koran Jakarta, Wandi (30), yang sedang menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu. "Saya naik dari depan Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional), Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu, saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," ujar Wandi, Kamis (16/2/2012).

Wandi juga mengatakan bahwa saat itu dirinya hendak mendatangi lokasi diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Setelah duduk, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Nggak lama, pria bertubuh gemuk itu juga memijat kaki kiri saya, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," tuturnya.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui ponsel Blackberry yang semula berada di sakunya telah raib. "Saya periksa pria yang memijat, tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih saja," ucapnya.

Diketahui bahwa Polda Metro Jaya tengah menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari mendatang. Selama operasi yang terhitung sejak tanggal 4 sampai 13 Februari itu, Polda Metro Jaya telah menahan sebanyak 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 senjata tajam, 56 kendaraan roda dua, 13 kendaraan roda empat, 67 ponsel, 651 botol minuman keras, dan uang tunai senilai Rp 63.198.000.(*)

Sumber: http://id.berita.yahoo.com/modus-baru-copet-pura-pura-pijat-penumpang-angkutan-021231328.html


+++++
Kamis, 16 Februari 2012 , 17:08:00
Waspadai Copet Modus Pijat di Angkot

JAKARTA-Bermacam modus kejahatan terus bermunculan.Seorang wartawan media cetak, Koran Jakarta, Wandi (30), menjadi korban pencopet bermodus tukat pijat yang beraksi di angkutan umum di Kota Jakarta, Kamis (16/2).

Peristiwa itu terjadi saat Wandi menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, sekitar pukul 11.30. Wandi hendak mendatangi lokasi diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum di salah satu hotel di Jakarta.

"Saya naik dari depan Lemhanas, Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," kata Wandi, Kamis (16/). Setelah duduk, kata dia, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang.

"Terakhir pria bertubuh gemuk itu memijit kaki kiri saya. Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujarnya.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya. Dan ia baru menyadari bahwa blackberry-nya sudah hilang. "Saya periksa pria yang memijat tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih saja," kata Wandi.

Maraknya kejahatan jalanan, seperti pencopetan yang dialami Wandi membuat Polda berinisiatif menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari. Pada gelar Operasi Berantas Jaya 4 hingga 13 Februari, Polda Metro Jaya dan jajaran telah menahan 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 bilah senjata tajam, 56 unit kendaraan roda dua, 13 unit kendaraan roda empat, 67 handphone dan 651 botol minuman keras dan uang tunai senilai Rp 63. 198.000. (boy/jpnn)

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2012/02/16/117596/Waspadai-Copet-Modus-Pijat-di-Angkot-


+++++
Jakarta | Thursday, 16 February 2012 | Oscar Ferri
Waspada! Copet Bermodus Pijat di Angkutan Umum

Jurnas.com | BERPURA-pura menjadi tukang pijat kini menjadi modus pencopet, khususnya yang beraksi di angkutan umum. Wandi (30), seorang wartawan Harian 'Koran Jakarta", menjadi korban pencopetan dengan modus tukang pijat tersebut.

Dituturkan Wandi, kejadian tersebut berlangsung saat ia sedang menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2), sekitar pukul 11.30 WIB.

Saat itu Wandi hendak mendatangi lokasi diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Saya naik dari depan Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional), Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," kata Wandi menceritakan kembali kronologis pencopetan itu.

Setelah duduk, lanjut Wandi, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Tak lama berselang, pria bertubuh gemuk itu juga memijat kaki kiri Wandi. "Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujar Wandi.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui ponsel Blackberry yang semula berada di sakunya telah raib. "Saya periksa pria yang memijat, tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih saja," ucapnya.

Sumber: http://www.jurnas.com/news/52976/Waspada_Copet_Bermodus_Pijat_di_Angkutan_Umum_/1/Ibu_Kota/Kriminal


+++++
"Tukang Pijat" Sikat Blackberry Wartawan di Bus
Oleh: Marlen Sitompul
Metropolitan - Jumat, 17 Februari 2012 | 05:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Bagi masyarakat pengguna angkutan umum diminta agar berhati-hati terhadap para bandit jalanan khususnya terhadap para pencopet.

Berbagai macam modus pencopetan kini kian marak, seperti, menjadi tukang pijat yang tengah ngetren di Ibukota. Seperti yang dialami Wandi (30), seorang wartawan di salah satu harian yang berada di Jakarta.

Wandi menuturkan, kejadian itu berlangsung saatmenumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2/2012) siang. Rencananya, Wandi hendak mengikuti diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Saya naik dari depan Lemhanas, Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," jelas Wandi menceritakan kembali kronologis pencopetan itu.

Setelah duduk, lanjut Wandi, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Tak lama berselang, pencopet bermodus tukang pijat itu pun langsung memijat bagian kaki Wandi.

"Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," terangnya lagi. Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui bahwa ponsel BlackBerry yang semula berada di sakunya pun raib.[dit]

Sumber: http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1831161/tukang-pijat-sikat-blacberry-wartawan-di-bus


+++++
Hati-hati, Ada Pencopet Bermodus Tukang Pijat 
Riski Adam
16/02/2012 21:15

Liputan6.com, Jakarta: Masyarakat sepertinya harus lebih waspada terhadap kejahatan di Jakarta. Belakangan, ditemukan gerombolan pencopet yang kerap beraksi di sejumlah angkutan umum. Modusnya terbilang baru, yaitu pura-pura menjadi tukang pijat.

Kejahatan ini dialami seorang wartawan Koran Jakarta bernama Wandi. Ketika itu, ia menaiki angkutan umum Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2), sekitar pukul 11.30 WIB. Wandi bertugas mendatangi lokasi diskusi tim seleksi Komisi Pemilihan Umum di Hotel Millenium, Jakarta Pusat.

"Saya naik dari depan Lemhanas, Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja, saya dipepet hingga terpaksa duduk di bangku belakang. Setelah duduk, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Terakhir pria bertubuh gemuk memijit kaki kiri saya. Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujar Wandi pada Liputan6.com, Jakarta, Kamis (16/2).

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya. Ia terkejut karena telepon genggam merek Blackberry raib. "Saya periksa saku saya setelah pria itu memijat, tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan pencopet. Pemijat hanya sebagai pengalih perhatian," ungkapnya.

Maraknya kejahatan jalanan semacam ini menarik perhatian polisi. Polda Metro Jaya berinisiatif menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari mendatang.

Perlu diketahui, selama Operasi Berantas Jaya pada 4 hingga 13 Februari lalu, Polda Metro dan jajarannya telah menahan 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 bilah senjata tajam, 56 unit kendaraan roda dua, dan 13 unit kendaraan roda empat. Selain itu 67 telepon genggam, 651 botol minuman keras, serta uang tunai Rp 63.198.000.(WIL/ULF)

Sumber: http://berita.liputan6.com/read/377722/hati-hati-ada-pencopet-bermodus-tukang-pijat



Kamis, 09 Juni 2011

Korban Kopkamtib Tolak RUU Intelijen

(Logo diambil dari Wikipedia)
Korban kekerasan yang dilakukan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) menolak Rancangan Undang-Undang Intelijen yang saat ini dibahas di tingkat Panitia Kerja Komisi 1 DPR.

Penolakan dilakukan karena mereka tak setuju dengan beberapa pasal yang disinyalir bisa membuat lembaga intelijen kembali seperti Kopkamtib pada masa Orde Baru yang sewenang-wenang menyiksa korban.

“Kalau disahkan, kami khawatir UU ini akan menjadi payung hukum untuk menangkap orang-orang kritis,” kata Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan Tahun 1965-1966 (YPKP) Bedjo Untung, di Jakarta, Rabu (8/6).

Bedjo sebenarnya tak masalah dengan pengaturan terhadap intelijen, namun dia tak setuju jika dalam regulasi masih terdapat pasal tentang kewenangan intelijen menyadap dan melakukan pemeriksaan intensif selama 7x24 jam. Menurutnya, RUU tersebut juga harus tegas menyatakan siapa yang menjadi lawan negara.

Dan sebelum disahkan, Bedjo berharap RUU Intelijen disosialisasikan ke publik agar publik, khususnya para korban kekerasan aparat intelijen, mengetahui.

Tahrin, korban kekerasan Peristiwa 1965, juga menolak jika Juli ini RUU Intelijen disahkan. “Kami sendiri belum tahu detail peraturan itu, tapi kenapa ada wacana Juli ini akan disahkan,” katanya.

Umar, korban kekerasan Peristiwa 1965, juga ingin memastikan bahwa RUU Intelijen harus berpihak kepada rakyat. “Selama tak berpihak kepada rakyat, jangan harap UU ini berhasil membela rakyat,” katanya.

Peneliti dari Komisi untuk Orang hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Puri Kencana Putri mengatakan setidaknya ada lima hal yang harus diperbaiki sebelum RUU Intelijen disahkan.

Pertama terkait dengan kewenangan khusus yang meliputi pasal penangkapan dan pemeriksaan intensif. Kedua, definisi tentang informasi intelijen yang masih sumir. Ketiga, harus dimasukkan hak dan kewajiban serta perlindungan terhadap aparat intelijen. Keempat, harus dijelaskan fungsi Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN).

“Jangan sampai pembentukan LKIN itu justru mengulang pembentukan Kopkamtib seperti masa Orde Baru,” kata Puri. Terakhir, Kontras juga melihat RUU tersebut belum ada mekanisme koreksi yang harus diawasi sebuah komisi independen yang anggotanya tidak hanya dari anggota DPR.

“Kami sebenarnya setuju dengan adanya UU Intelijen, tapi UU tersebut harus memasukkan prinsip-prinsip demokratik, rule of law, dan melindungi hak asasi manusia,” katanya.

Rencananya, Kontras bersama YPKP akan mengirim petisi ke Komisi 1 yang isinya beberapa hal yang tadi disebutkan. Kontras dan YPKP juga mengirim surat ke Komisi 1 agar diajak berdiskusi tentang RUU Intelijen.

“Kalau ternyata permintaan diskusi dan pasal yang kita tolak itu tetap dimasukkan, kami berencana membuat aksi di depan gedung DPR,” kata Peneliti di bidang Advokasi Kontras, Krisbiantoro.

Intelijen Bukan Penegak Hukum
Secara terpisah, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono mengatakan intelijen bukan lembaga penegak hukum. Dia melihat RUU Intelijen memandang intelijen sebagai institusi penegak hukum. “Intelijen itu tugasnya mencegah sesuatu sebelum kejadian bahaya terjadi,” katanya.

Untuk itu, dia berharap RUU Intelijen memasukkan aturan bagaimana aparat intelijen bisa mencegah terjadinya bahaya. Di RUU tersebut juga harus ada penjelasan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan intelijen. “Jadi, jangan pada ranahnya hukum, intelijen kan tidak ada urusannya untuk menghukum dan menangkap,” katanya.

Regulasi yang mengatur tentang intelijen tambahnya harus menitikberatkan pada usaha untuk membantu aparat intelijen dalam mencegah terorisme. Sayangnya, RUU Intelijen yang saat ini sedang dibahas cenderung hanya mengatur BIN. “Aparat intelijen kan bukan hanya ada di BIN, tapi ada juga di TNI, kepolisian, imigrasi, bea dan cukai, atau kejaksaan,” katanya.(way)

Senin, 06 Juni 2011

Tentang Oligarki, Rizal Ramli, dan Sri Mulyani

Tentang Oligarki, Rizal Ramli, dan Sri Mulyani

(Wawancara dengan Jeffrey A Winters)

Profesor Jeffrey A Winters berbicara memukau di Rumah Integrasi di Jalan Latuharhary Nomor 16, Jakarta Pusat pada Jumat, 3 Juni 2011. Pengajar di Departemen Ilmu Politik Northwestern University, Amerika Serikat, ini diundang Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) yang tidak lain adalah lembaga yang punya kecenderungan kuat mendukung Sri Mulyani Indrawati. Di Rumah Integrasi itu pun, foto-foto mantan menteri keuangan ini mejeng dengan ukuran besar.

Ratusan orang menyempatkan diri mendengar pemikiran seorang indonesianis ini walaupun ruangan sangat pengap karena pendingin yang tak berfungsi. Dengan hanya mengenakan kaus hijau dan jeans, Jeffrey berceloteh panjang mengenai kelahiran oligarki (bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat) di Indonesia. Bahasa Indonesianya lancar, terkadang penulis buku Dosa-Dosa Politik Orde Baru ini mengambil perumpamaan yang cerdas untuk menggambarkan pikirannya.

Berikut adalah wawancara selama 5 menit 49 detik selepas kuliah umum. Pada wawancara ini, selain tentu saja menanyakan tentang para oligark (pelaku oligarki atau bisa juga diterjemahkan sebagai pengusaha pengisap kekayaan Indonesia) yang banyak dibahas dalam buku terbarunya Oligarchy, saya dan satu teman mencoba memintanya untuk menakar siapa sosok yang cocok memimpin Indonesia.

Berikut petikan lengkap wawancara tersebut:

Anda mengatakan, sesudah Partai Komunis Indonesia, tidak ada partai politik yang mampu memobilisasi massa?Maksud saya, hanya pernah dalam sejarah Indonesia ada dua kasus, dua contoh partai yang punya akar rumput, yakini Partai Nasional Indonesia dan Partai Komunis Indonesia. Keduanya punya sifat lain selain elitis. Dan sejak PKI, tidak pernah ada partai atau organisasi yang punya massa akar rumput. Semua bersifat elitis dan menengah ke atas.

Dan tidak hanya itu. Kalau boleh saya mengkritisi gerakan mahasiswa di Indonesia, segala upaya untuk membuat baik di Indonesia, justru mereka yang paling elitis dan paling alergi dengan masyarakat. Karena mereka menganggap ada batasan kampus, di mana batasan kampus itu sama dengan tembok yang tinggi sekali.
Dan saya mengerti bahwa mahasiswa suka bicara atas nama rakyat, tapi cobalah campur langsung dengan rakyat. Itukan lain lagi.

Caranya?Selama ini, mahasiswa paling bisa bergabung dengan mahasiswa lain. Sampai di situ. Tetapi mahasiswa terlibat langsung sebagai leader of the people, belum terjadi. Dan saya rasa mahasiswa hanya bisa benar-benar mewujudkan posisi sejarah mereka kalau mereka bisa mengatasi limitation ini.

Jadi apa yang salah di Indonesia ini? Apa yang mesti diperbaiki?Menjinakkan oligarkinya.

Dengan cara?Memperkuat sistem hukum

Apakah selama ini sistem hukum di Indonesia belum kuat?Hampir tidak ada.

Sistemnya atau orangnya?Enggak, maksud saya, kalau kita definisikan sistem hukum yang kuat dan definisi cukup kuat untuk membuat orang kuat tunduk terhadap hukum, jelas Indonesia gagal. Jadi, jangan kita mengukur sistem hukum dari apakah orang biasa tunduk kepada hukum. Karena setiap hari orang biasa tunduk kepada hukum. Yang menjadi ukuran, apakah orang yang paling kuat di Indonesia tunduk kepada hukum? Dan sampai sekarang itu tidak terjadi.

Seberapa besar ancaman oligarki buat politik di Indonesia?Mungkin tidak ada ancaman yang lebih daripada itu. (Ancaman datang dari) Oligarki liar, bukan oligarki saja. Oligarki liar yang tidak tunduk terhadap hukum. Jadi, yang perlu oligarki jinak di Indonesia.

Apakah karena tidak adanya kepemimpinan yang kuat juga?Soal kepemimpinan, jelas Soeharto sebagai pemimpin bisa menjinakkan oligarki, tetapi kita lihat juga, untuk masa depan panjang Indonesia itu jalan buntu. Karena, orang tidak membangun sistem. Yang perlu, sistem yang lebih kuat daripada orang.
Dan yang diciptakan Soeharto justru orang yang lebih kuat daripada sistem. Yang diwariskan dari zaman Soeharto dan Orde Baru, justru institusi-institusi yang hancur total dan tidak mampu untuk mengendalikan orang yang paling kuat di Indonesia.
Jadi, harus dibangun sistem, bukan orang. Jelas dengan membangun sistem. Namun, itu harus dibantu oleh leader yang tegas, kuat. Orang yang tegas dan kuat itu justru harus bertugas untuk membangun sistem yang kuat, bukan kekuasaan dia sendiri.

Untuk membuat sistem yang kuat harus dimulai dari mana?Saya tidak punya instruction book untuk how to do it. Indonesia harus mencari caranya yang khas. Indonesia sendiri. Konteks Indonesia, sejarah Indonesia, kebudayaan Indonesia dan seterusnya.
Jadi saya tidak bisa katakan, ‘this is how you do it’. Indonesia sendiri harus mobilisasi dan cari sendiri. Kalau ini ga jalan, coba yang ini, coba yang lain. Don’t give up. Saya yakin bisa menang. Don’t give up.

Untuk Pemilihan Umum 2014 idealnya seperti apa?Idealnya Rizal Ramli.

Kenapa?Karena saya menganggap dia leader yang luar biasa, eeee (jeda sebentar), dalam sejarahnya dia, eeee, membuktikan bahwa dia berani ambil risiko, tidak takut siapapun dan selalu konsisten dalam prinsip untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sri Mulyani?Ee (jeda sebentar lagi), Sri Mulyani juga bagus.

Di antara mereka?Ee (kembali jeda untuk berpikir), kenapa harus pilih di antara mereka. Kenapa tidak digabung saja berdua. Hehehe, itu lebih bagus lagi..hahahaha.(***)