(foto: Firmanto Hanggoro)
Musuh terbesar tim sepak bola adalah pendukung mereka sendiri. Begitulah pepatah Inggris. Sejak Abad Pertengahan, Inggris sudah diganggu oleh ulah Hooligan, sebutan suporter fanatik Inggris yang agresif. Raja Edward II pada tahun 1314 bahkan melarang sepak bola karena khawatir dampaknya akan meluas menjadi kerusuhan sosial bahkan pengkhianatan. Setelah itu, tak terhitung banyaknya kerugian akibat ulah suporter.
Suporter dan tim sepak bola sebenarnya ibarat kisah cinta Galih dan Ratna. Keduanya satu paket. Satu marah, yang lain merah. Tapi, keduanya tak bisa dipisahkan walau badai menghadang. Genit memang, tapi begitulah sejarah sepak bola. Tak ada cinta tanpa ada pemuja.
Yang membuat pening kepala, jika tim sepak bola memiliki dua pemuja. Ibarat Galih yang memiliki selingkuhan. Belum jelas yang mana yang pantas disematkan sebagai selingkuhan, dua pencinta tim sepak bola Persipasi Kota Bekasi sudah adu otot.
Masing-masing mengklaim sebagai pendukung sejati Persipasi. Kedua kubu itu juga menganggap bahwa merekalah yang pantas disebut pacar pertama dan paling pas mendampingi Persipasi ke mana pun bertanding. Dengan segala embel-embel sejarah pendiriannya.
Adu otot itu mencapai puncaknya Rabu (12/5) lalu. Kedua kubu supporter sudah tak sabar untuk menunjukkan eksistensinya. Tiga orang terluka, beberapa kendaraan yang sedang terparkir di pelataran stadion menjadi korban juga. Inilah kerusuhan terbesar antardua suporter Persipasi sejak Persipasi bermain di Divisi Utama.
Yang memalukan, perkelahian ini juga terjadi saat Persipasi sedang melakukan uji coba untuk mempersiapkan diri menghadapi laga penting di delapan besar. Laga yang menentukan berhasil tidaknya Persipasi mendapatkan tiket ke kompetisi terbesar di Indonesia, Liga Super Indonesia. Mimpi yang selalu dipupuk para suporter sejak Persipasi mulai berlaga di Divisi Utama.
Laga persiapan itu kemudian buyar. Persipasi tak dapat bermain maksimal karena laga harus dihentikan di awal babak kedua akibat ulah dua pendukungnya. Jelas, kejadian ini mencoreng muka Persipasi. Tim pujaan kita ini juga bisa kehilangan konsentrasi menghitung kekuatan melawan tiga tim besar di Grup B delapan besar.
Tak mengherankan jika Pelatih Persipasi Warta Kusuma marah besar. Saking kesalnya, ia bahkan melontarkan, tak perlu lagi dukungan suporter jika terus berperilaku kasar. Kemarahan yang sangat wajar. Apalagi saat ini Warta sedang pening memikirkan bagaimana memoles timnya agar bisa meraih satu tiket Liga Super.
Konsentrasi Persipasi akan semakin buyar jika dua suporter ini tak cepat berbenah. Ingat, 18 Mei ini Persipasi sudah harus berlaga di delapan besar melawan Persibo Bojonegoro. Tanpa suporter, akan sangat berat pemain Persipasi untuk meningkatkan mental mereka.
Ada baiknya jika kedua suporter Persipasi saat ini segera berembuk dan memperkuat internal. Jauhkan dulu pikiran bahwa keduanya berbeda. Ingat, suporter Persipasi adalah sekerumunan orang yang mendukung Persipasi. Itulah persamaan kedua suporter ini, lepas dari atribut yang berbeda.
Jika persamaan yang diperkuat, saya yakin tubuh suporter juga tak akan mudah disusupi warna lain. Aktifkan kembali budaya silaturahim antarsuporter seperti yang dilakukan Bobotoh dan Viking, pendukung Persib Bandung. Saya yakin, ketika ada warna lain yang menyusup di saat suasana di stadion sedang panas, hati tetap dingin. Dan segelintir orang tidak akan bisa lagi memprovokasi suporter Persipasi. Dan akui bahwa Persipasi punya banyak pacar, punya banyak penggemar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar