Jumat, 07 Mei 2010

Senjakala Persipasi

Selasa, 18 Mei mendatang gong delapan besar Divisi Utama berbunyi. Delapan tim akan berjibaku memperebutkan empat tiket promosi ke Liga Super Indonesia. Kesebelasan kebanggaan masyarakat Kota Bekasi, Persipasi, tergabung di Grup B bersama Persidafon Dafonsoro, Persibo Bojonegoro, dan Deltras Sidoarjo. Persaingan keempat klub diprediksi bakal ketat.

Sebelum membahas peluang Persipasi, ada baiknya kita berpaling pada pencapaian tim asuhan Warta Kusuma ini di putaran kedua Divisi Utama dan penyisihan Grup C Piala Indonesia.

Melakoni putaran kedua Divisi Utama, Persipasi seperti mesin diesel. Lamban panas di awal kompetisi. Tercatat Persipasi hanya mampu meraih satu poin pada tur Riau di dua laga awal putaran kedua. Grafik permainan Persipasi meningkat seiring rangkaian pertandingan kandang. Poin sempurna diperoleh dari empat pertandingan kandang.

Di ujung kompetisi, pasukan Warta seperti mengangkatkan kaki dari pedal gas. Melawan Persita dan Persikabo di kandang mereka, Persipasi hanya meraih dua poin hasil dari dua kali imbang. Beruntung peringkat kedua berhasil diraih (37 poin) dan menjadi tiket otomatis lolos ke delapan besar.

Petaka tak terduga justru terjadi di arena Piala Indonesia. Sebelum melakoni laga melawan Pelita Jaya, Persita Tangerang, dan Persib Bandung di Grup C, Persipasi sudah berniat mengalihkan pijakan kaki ke pedal rem. Warta beralasan, Piala Indonesia sebagai ajang pemanasan dan arena bagi pemain lapis kedua. Lolos tak lolos ke 16 besar tidak ada masalah bagi tim. Maklum, fokus Persipasi adalah bermain habis-habisan di delapan besar dan meraih satu tiket ke LSI.

Dalam perjalanannya, target itu justru meleset. Kaki Persipasi yang sedianya menginjak pedal rem justru gamang. Pertandingan melawan Persib begitu seksi untuk meningkatkan gengsi daerah dan mental pemain. Alih-alih menurunkan pemain lapis kedua, sejak melawan Pelita, Persita, hingga Persib, Persipasi sudah bermain dengan kekuatan inti.

Hasilnya, satu poin yang mereka dapatkan. Saat melawan Pelita Jaya yang berlangsung malam hari di Singaperbangsa, Persipasi loyo. Pipik yang menjaga gawang tak bermain apik dengan alasan matanya tak awas hanya dengan sorot lampu. Sedari awal Persipasi memang mengkhawatirkan laga malam yang tak biasa mereka lakoni.

Melawan Persita penampilan Persipasi tak berubah. Kegamangan menekan kaki pada pedal gas atau rem masih terlihat. Niat awal yang menjadikan Piala Indonesia hanya pemanasan jelang delapan besar menjadi penghalang. Di lain pihak, Persipasi juga ingin menunjukkan keperkasaannya dari anak-anak Tangerang. Kegamangan inilah yang membuat permainan Persipasi tak seperti biasanya. Bermain imbang 1-1 saat itu merupakan keberuntungan.

Puncak frustasi Persipasi terpapar saat melawan Persib. Ketua Umum Persipasi Mochtar Mohamad yang menstimulus pemain dengan giuran fulus ternyata tak mulus. Persipasi rontok diterkam Maung Bandung 4-0. El Loco menjadi taring yang sempurna untuk mencabik pertahanan Persipasi yang dikomandoi Firmansyah.

Mental pemain langsung terjun bebas. Niat awal bahwa Piala Indonesia hanya sebagai turnamen pemanasan justru membuat goyah internal tim. Mental pemain porak-poranda. Persoalan semakin runyam ketika pihak luar mulai berkomentar miring kepada para Laskar Patriot ini.

Asisten Pelatih Persija yang sudah mengenal seluk-beluk persepakbolaan Kota Bekasi, Maman Suryaman, langsung mengkritik kinerja pemain dan pelatih. Ia seolah membuka borok Persipasi dengan mengatakan performa fisik pemain yang anjlok saat melawan Persib. Yang monumental, Maman menyentil gaya kepelatihan Warta yang tidak keras mendisiplinkan pemainnya.

Dapur Persipasi menjadi panas. Keadaan ini diperparah dengan kabar yang menyesakkan; tiga pemain Persipasi, yakni Pipik Suratno, Arif Kurniawan, dan Mansur tertangkap basah bermain di ajang antarkampung (tarkam) tanpa sepengetahuan tim pelatih.

Di kalangan penggemar, suara-suara miring terhadap sikap Warta yang membebaskan pemainnya saat sedang tak berlatih atau bertanding, semakin berseliweran. Mulai dari ulah para pemain asingnya yang doyan jalan malam hingga tragedi kecelakaan sepeda motor yang tak perlu yang dialami Ruben Karel di penghujung putaran kedua Divisi Utama.

Guna mengeleminasi kritikan itu, Warta kemudian membawa timnya ke Lembang, Bandung selama seminggu. Fokus program training center (TC) yang dijalani di sana adalah memulihkan fisik dan mental pemain.

Lepas dari hasilnya apa, tim pelatih sudah sangat tepat dengan keputusan itu. Mental pemain yang jatuh disertai dengan fisik yang melemah memang seharusnya dipulihkan dengan suasana baru.

Dari beberapa pengakuan pemain, walaupun tak bisa diuji secara empiris, program TC di Lembang membuahkan hasil. Pemain senior Persipasi, Nuralim merasa fisik dan mentalnya memulih. Hal yang sama dilontarkan Arif Kurniawan dan Mansur. Pemain lapis kedua seperti Arnata juga menemukan ketajamannya setelah berlatih di Lembang.

Sekarang, tinggal bagaimana tim pelatih di bawah komando Warta memanfaatkan pulihnya fisik dan mental pemain. Pelatih juga harus bersikap bijaksana dengan kritikan yang datang dari berbagai penjuru. Jangan lantas ngambek.

Sepuluh hari jelang pluit delapan besar berbunyi Warta dkk masih punya waktu untuk menyusun strategi dan menakar kekuatan lawan. Jangan sampai permainan Persipasi berulang seperti saat melakoni Piala Indonesia. Dan patut digarisbawahi, kedisiplinan ada di atas segalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar