Sabtu, 08 Januari 2011

Penunggu Cirata

Rumah di Tengah Danau Berhalaman Kolam
“Jika saya punya tanah di daratan, lebih baik saya memilih tinggal di sana. Membesarkan anak seperti orang-orang lain,” ujar Ayub Cahyadi (57 tahun) pertama kali menyadari dia harus tinggal di Waduk Cirata.

Ayub, ayah lima orang anak dan tujuh orang cucu, memilih hidup di atas Cirata karena terdesak ekonomi. Mantan sopir truk ini terpaksa tinggal di hamparan Waduk Cirata karena perusahaan tempat dia kerja gulung tikar akibat embusan krisis ekonomi pada 1997.

Daripada tak punya pekerjaan dan tak bisa menghidupi keluarga, Ayub kemudian menerima tawaran kakaknya menjadi penjaga kolam ikan di Waduk Cirata pada 1999. Cirata pada saat itu tak seperti Cirata masa sekarang. Suasana masih hutan. Datang ke sana saja enggan, apalagi untuk tinggal dan mencari nafkah.

“Awalnya saya tak betah. Tempatnya sangat gelap. Tapi karena terdesak dan juga faktor umur, saya terpaksa hidup di sana,” ujar Ayub saat ditemui di kediamannya di tengah Waduk Cirata Sektor Cilincing Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur, akhir Desember lalu.

Lama kelamaan, dia semakin akrab dengan Cirata. Lambat-laun, dari yang hanya sebagai penjaga, Ayub bisa mencicil untuk membuat kolam sendiri. Dia juga semakin betah tinggal di atas danau karena bisa membangun rumah yang bisa ia perluas sesukanya. Tanpa takut terkena semprot penghuni lain karena di atas waduk tak perlu menyerobot tanah milik orang lain.

Sebelas tahun tinggal di Cirata, Ayub sudah memiliki 3,5 unit kolam atau 14 petak kolam yang ia tanami ikan emas dan ikan nila. Dari jumlah itu, sedikitnya dia bisa menghasilkan 14 ton ikan dalam tiga bulan. Dan itu cukup untuk menghidupi keluarganya. Bahkan, dia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Tinggal di atas danau bukan berarti tanpa kesulitan. Apalagi bagi orang yang terbiasa tinggal di darat. Ayub bercerita, paling susah mendapatkan air bersih untuk minum. Pertama kali tinggal di sana, Ayub harus membeli air jauh ke jalan besar di Ciranjang. Meminum air waduk amat berisiko. Ayub hanya berani memakai air waduk untuk mandi, itu pun harus sudah disaring memakai saringan khusus yang ia beli seharga 2 juta rupiah.

“Sekarang untuk membeli air minum sudah gampang karena banyak penjual air isi ulang yang jaraknya tidak jauh dari sini,” kata Ayub yang juga memelihara dua anjing dan merpati di sekitar rumahnya sebagai cara menghilangkan rasa sepi.

Lalu bagaimana dengan listrik? Pertama kali tinggal di sana, Ayub harus rela dengan penerangan lampu minyak. Tapi belakangan dia sudah mampu membeli diesel untuk menghidupkan listrik minimal.

Perkara izin mendirikan bangunan, itu pun bisa diatur. Rumah pria asli Betawi ini sudah tercatat sebagai rumah tinggal di RT 03//09 Kelurahan Kertajaya Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur. Pajak rumah dihitung dari jumlah kolam yang ia miliki. Per tahun Ayub mengaku membayar pajak sebesar 196 ribu rupiah.

“Keuntungan tinggal di waduk, kami tak pernah terkena banjir,” ujarnya. Terang saja, rumahnya berdiri di atas pelampung superbesar. Rumah apung ini pun dilengkapi 26 jangkar yang terbuat dari batu yang dimasukkan ke karung. Satu karung jangkar masing-masing seberat 2 kuintal.

Pelampung dan jangkar itulah sebagai kunci agar rumahnya tak tenggelam dan tak bergerak. Jangkar pun sangat membantu jika air waduk surut maupun pasang. “Saya tinggal tarik-ulur jangkar saja sesuai debit air,” ujarnya enteng.

Saat ini, Ayub merupakan satu di antara 2 ribu penghuni di Waduk Cirata. Sebagian besar memang tak seperti Ayub yang berniat membangun rumah dengan harga mencapai 57 juta rupiah. Sebagian besar hanya menghuni beberapa bulan saja hingga ikan dipanen, setelah itu mereka pulang ke rumah untuk bertemu keluarga mereka.

Selain penghuni, di Cirata juga terdapat warung kelontong dan restoran ikan air tawar, bahkan penginapan. Warung kelontong sangat dibutuhkan para penghuni sekitar jika ada kebutuhan mendesak seperti membeli beras ataupun membeli kebutuhan untuk mandi.

Sedangkan restoran dan penginapan dibangun seiring adanya kunjungan wisatawan. Walaupun tak banyak seperti wisata di tempat-tempat komersil, pada hari libur pasti ada beberapa orang yang datang sekadar untuk mencicipi ikan bakar.

Jika mereka malas untuk pulang, mereka bisa menyewa kamar barang satu atau dua hari dengan harga terjangkau. Dijamin suasananya bakal berbeda dan sensasional.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar