| Suasana Pagi di Waduk Cirata Sektor Cilincing |
Sejatinya waduk Cirata tak diciptakan untuk sebuah tempat wisata. Para perencananya pun mungkin tak terpikir kalau waduk buatan seluas 6.200 hektar itu menjadi lahan pengembangbiakan ikan air tawar yang menghasilkan ribuan ton pertahun. Dia diciptakan hanya untuk memenuhi cadangan listrik yang konon hingga sekarang belum juga terpenuhi.
Dan siapa yang menyangka apabila di atas waduk tersebut ada orang yang sedia menggantungkan hidupnya. Berkeluarga di atasnya. Bahkan memelihara anjing maupun merpati sebagai penghilang rasa sepi di saat malam menyelimuti waduk. Di situlah, mungkin, sebuah wisata dimulai. Dari sebuah kemurnian. Keterkejutan sejarah.
Wisata di Cirata dibangun oleh serba ketidaksengajaan. Bahkan pencemaran yang dilakukan oleh penghuni maupun zat kimia yang berasal dari turbin yang menghasilkan listrik, juga bisa disebut wisata. Betapa menyayat hati melihat ikan-ikan yang mengambang di permukaan waduk. Bukan hanya puluhan, tapi ratusan ikan terhampar karena terpapar timbal.
Waduk Cirata merupakan waduk terbesar di Jawa Barat. Luasnya mampu menjangkau tiga kabupaten, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Bandung Barat. Waduk ini dibuat untuk membangkitkan listrik melalui tenaga air (PLTA). Perusahaan Listrik Negara (PLN) sengaja menenggelamkan lahan milik untuk ditanami air. Butuh waktu lima tahun terhitung sejak 1982 hingga 1987 untuk membuat waduk ini.
Dari Cirata PLN mampu menghasilkan listrik berkekuatan 6 x 151 megawatt. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan tambahan listrik pertahun yang mencapai 3.000 megawatt. Jika airnya sedang surut, listrik yang dihasilkan pun semakin sedikit.
Koran Jakarta kebetulan menyambangi Waduk Cirata di sektor Cilincing Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur. Untuk mencapai waduk ini pengunjung harus melewati jalan yang amat sempit sepanjang enam kilometer dari Jalan Raya Ciranjang. Jalan menuju ke waduk sebagian besar belum beraspal, terutama di satu kilometer terakhir.
Di sektor Cilincing mungkin tak akan terpikir bahwa waduk ini merupakan pembangkit tenaga air. Di sini kita hanya melihat sebagian besar waduk tertutup kolam-kolam ikan. Antara satu kolam dengan kolam lain hampir saling berhimpitan. Letaknya yang tak teratur membuat waduk terlihat kumuh.
Dari seorang penghuni bernama Gumilar (24 tahun) atau lebih ingin dipanggil Bejo diceritakan bahwa waduk ini mulai dijamuri para penambak ikan sejak 1997. Krisis keuangan yang melanda Indonesia membuat waduk ini ramai. Bahkan orang-orang tak segan membangun rumah di atasnya. Awalnya untuk menunggu kolam, namun lama-kelamaan menjadi tempat tinggal tetap karena tak kunjung mendapat tempat di daratan.
“Dulu hanya satu-dua. Itupun penduduk sekitar sini. Tapi sejak krismon (krisis moneter, red.) waduk ini diserbu banyak orang,” kata Bejo dengan logat khas sunda.
Bisa dibilang, Bejo adalah generasi pertama yang memilih tinggal Cirata sektor Cilincing. Sejak umur lima tahun Bejo sudah diajak ayahnya tinggal di Cirata. Dia diperkenalkan bagaimana membuat kolam dan menanam ikan. Di Cirata pula cintanya dengan penduduk sekitar tumbuh. Hingga dia dikaruniai seorang anak lelaki dan tetap berkomitmen untuk tinggal di kolam itu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bejo membangun warung kelontong yang mengapung di atas waduk.
Warung Bejo satu-satunya di Cirata sektor Cilincing. Dia bersama istrinya menjual segala perabotan yang dibutuhkan para petani ikan. Mulai dari sabun mandi hingga camilan berupa mie instan rebus layaknya warung kopi.
Sebenarnya pekerjaan utamanya menjaga kolam. Warung yang ia bangun hanya sampingan. Dia juga memiliki beberapa rakit untuk disewakan bagi para pemancing sebagai tambahan penghasilan. Dari pekerjaan sampingan ini dia bisa membeli sebuah kapal motor yang ia pergunakan untuk transportasi dan sesekali disewakan bagi para pengunjung.
Waduk Cirata banyak dikuasai orang luar kota. Mereka berlomba-lomba membuat kolam. Tanpa ada pungutan resmi, asal bisa membangun kolam, mereka bisa menguasai waduk. Itu makanya orang-orang luar kota yang berduit amat mudah membangun kolam di sana.
Seorang pemancing, Yono (29) mengatakan hanya dengan uang 12 juta rupiah, siapa pun bisa membuat kolam di Cirata. Izin membuat kolam tinggal minta terhadap oknum, membayar seadanya, kolam pun tinggal dibangun.
Dengan Modal sebesar itu, orang bisa membuat satu kolam dengan empat petak. Satu petak, berukuran sekitar 7x7 meter, bisa ditanami maksimal 30 kilogram bibit ikan. Dalam tiga bulan, bibit ikan sudah bisa dipanen dengan berat rata-rata mencapai 1 ton.
“Biasanya, para penambak menanam dua jenis ikan, ikan emas dan nila. Selain cepat panen, kedua jenis ini dinilai resisten terhadap limbah,” kata Bejo.
Betapa menggiurkan bisnis ikan di waduk ini. Tak heran jika ada sebanyak 200 ribu petak kolam yang tersebar di waduk Cirata. Dan rata-rata pemiliknya dari luar kota seperti Kota Bandung, Jakarta, maupun luar Jawa.
Kondisi ini juga dikeluhkan I Putu Suwintana. Dia adalah pendeta di Gereja Palalangon yang berlokasi tak jauh dari waduk itu. “Penduduk di sini bahkan tak merasakan sama sekali manfaat dari keberadaan waduk itu. Bahkan untuk menikmati listrik yang dihasilkan dari sana,” jelas Putu yang sudah tinggal sejak 2008.
Warga di sekitar Gereja Palalangon pun lebih memilih menjadi buruh tani dibandingkan menambak ikan.
Di balik invasi orang-orang luar, waduk Cirata tetap memiliki eksotisme yang masih tersembunyi. Hampir 20 tahun tinggal di Cirata, Bejo fasih membaca perilaku waduk itu. Bejo bertutur bahwa waduk ini punya sifatnya tersendiri. Salah satu ciri khas wadu ini adalah pada Januari hingga Februari air waduk biasanya menjadi putih seperti air beras. Angin baratlah yang menyebabkan air waduk seputih air beras.
Menurut ayah beranak satu ini, putih air waduk disebabkan lumpur dari dasar waduk naik ke atas. “Anginnya juga sangat besar. Saat angin barat berhembus, biasanya virus datang dan membuat ikan-ikan di sini mati,” kata Bejo.
Pada dua bulan ini pula para penambak ikan yang bergantung pada Waduk Cirata, cemas. Ikan-ikan bergelimpangan, baik di dalam maupun di luar kolam. Para pemancing juga cemas karena tangkapan mereka berkurang.
Lengkap sudah wisata di Waduk Cirata. Pengunjung disuguhi bukan dengan keindahan waduknya, tapi cerita yang terhampar di atasnya. Wisata yang ditawarkan Cirata adalah wisata yang berwujud perilaku manusia yang serakah. Ditambah ornamen manusia-manusia danau yang menggantungkan hidup di atasnya hanya karena terhimpit kebutuhan ekonomi.(*)
deskripsi yang menarik...saya, keluarga & teman2 telah mengunjungi waduk cirata ini 2 kali dalam 2010.
BalasHapusTapi sayang kurang nya fasilitas yang mendukung dari pemerintah setempat hingga akses jalan menuju ke lokasi tsb kurang di perhatikan.