Sabtu, 15 Mei 2010

Persipasi dan Kisah Cinta Galih dan Ratna

 (foto: Firmanto Hanggoro)

Musuh terbesar tim sepak bola adalah pendukung mereka sendiri. Begitulah pepatah Inggris. Sejak Abad Pertengahan, Inggris sudah diganggu oleh ulah Hooligan, sebutan suporter fanatik Inggris yang agresif. Raja Edward II pada tahun 1314 bahkan melarang sepak bola karena khawatir dampaknya akan meluas menjadi kerusuhan sosial bahkan pengkhianatan. Setelah itu, tak terhitung banyaknya kerugian akibat ulah suporter.

Suporter dan tim sepak bola sebenarnya ibarat kisah cinta Galih dan Ratna. Keduanya satu paket. Satu marah, yang lain merah. Tapi, keduanya tak bisa dipisahkan walau badai menghadang. Genit memang, tapi begitulah sejarah sepak bola. Tak ada cinta tanpa ada pemuja.

Yang membuat pening kepala, jika tim sepak bola memiliki dua pemuja. Ibarat Galih yang memiliki selingkuhan. Belum jelas yang mana yang pantas disematkan sebagai selingkuhan, dua pencinta tim sepak bola Persipasi Kota Bekasi sudah adu otot.

Masing-masing mengklaim sebagai pendukung sejati Persipasi. Kedua kubu itu juga menganggap bahwa merekalah yang pantas disebut pacar pertama dan paling pas mendampingi Persipasi ke mana pun bertanding. Dengan segala embel-embel sejarah pendiriannya.

Adu otot itu mencapai puncaknya Rabu (12/5) lalu. Kedua kubu supporter sudah tak sabar untuk menunjukkan eksistensinya. Tiga orang terluka, beberapa kendaraan yang sedang terparkir di pelataran stadion menjadi korban juga. Inilah kerusuhan terbesar antardua suporter Persipasi sejak Persipasi bermain di Divisi Utama.

Yang memalukan, perkelahian ini juga terjadi saat Persipasi sedang melakukan uji coba untuk mempersiapkan diri menghadapi laga penting di delapan besar. Laga yang menentukan berhasil tidaknya Persipasi mendapatkan tiket ke kompetisi terbesar di Indonesia, Liga Super Indonesia. Mimpi yang selalu dipupuk para suporter sejak Persipasi mulai berlaga di Divisi Utama.

Laga persiapan itu kemudian buyar. Persipasi tak dapat bermain maksimal karena laga harus dihentikan di awal babak kedua akibat ulah dua pendukungnya. Jelas, kejadian ini mencoreng muka Persipasi. Tim pujaan kita ini juga bisa kehilangan konsentrasi menghitung kekuatan melawan tiga tim besar di Grup B delapan besar.

Tak mengherankan jika Pelatih Persipasi Warta Kusuma marah besar. Saking kesalnya, ia bahkan melontarkan, tak perlu lagi dukungan suporter jika terus berperilaku kasar. Kemarahan yang sangat wajar. Apalagi saat ini Warta sedang pening memikirkan bagaimana memoles timnya agar bisa meraih satu tiket Liga Super.

Konsentrasi Persipasi akan semakin buyar jika dua suporter ini tak cepat berbenah. Ingat, 18 Mei ini Persipasi sudah harus berlaga di delapan besar melawan Persibo Bojonegoro. Tanpa suporter, akan sangat berat pemain Persipasi untuk meningkatkan mental mereka.

Ada baiknya jika kedua suporter Persipasi saat ini segera berembuk dan memperkuat internal. Jauhkan dulu pikiran bahwa keduanya berbeda. Ingat, suporter Persipasi adalah sekerumunan orang yang mendukung Persipasi. Itulah persamaan kedua suporter ini, lepas dari atribut yang berbeda.

Jika persamaan yang diperkuat, saya yakin tubuh suporter juga tak akan mudah disusupi warna lain. Aktifkan kembali budaya silaturahim antarsuporter seperti yang dilakukan Bobotoh dan Viking, pendukung Persib Bandung. Saya yakin, ketika ada warna lain yang menyusup di saat suasana di stadion sedang panas, hati tetap dingin. Dan segelintir orang tidak akan bisa lagi memprovokasi suporter Persipasi. Dan akui bahwa Persipasi punya banyak pacar, punya banyak penggemar.

Jumat, 07 Mei 2010

Senjakala Persipasi

Selasa, 18 Mei mendatang gong delapan besar Divisi Utama berbunyi. Delapan tim akan berjibaku memperebutkan empat tiket promosi ke Liga Super Indonesia. Kesebelasan kebanggaan masyarakat Kota Bekasi, Persipasi, tergabung di Grup B bersama Persidafon Dafonsoro, Persibo Bojonegoro, dan Deltras Sidoarjo. Persaingan keempat klub diprediksi bakal ketat.

Sebelum membahas peluang Persipasi, ada baiknya kita berpaling pada pencapaian tim asuhan Warta Kusuma ini di putaran kedua Divisi Utama dan penyisihan Grup C Piala Indonesia.

Melakoni putaran kedua Divisi Utama, Persipasi seperti mesin diesel. Lamban panas di awal kompetisi. Tercatat Persipasi hanya mampu meraih satu poin pada tur Riau di dua laga awal putaran kedua. Grafik permainan Persipasi meningkat seiring rangkaian pertandingan kandang. Poin sempurna diperoleh dari empat pertandingan kandang.

Di ujung kompetisi, pasukan Warta seperti mengangkatkan kaki dari pedal gas. Melawan Persita dan Persikabo di kandang mereka, Persipasi hanya meraih dua poin hasil dari dua kali imbang. Beruntung peringkat kedua berhasil diraih (37 poin) dan menjadi tiket otomatis lolos ke delapan besar.

Petaka tak terduga justru terjadi di arena Piala Indonesia. Sebelum melakoni laga melawan Pelita Jaya, Persita Tangerang, dan Persib Bandung di Grup C, Persipasi sudah berniat mengalihkan pijakan kaki ke pedal rem. Warta beralasan, Piala Indonesia sebagai ajang pemanasan dan arena bagi pemain lapis kedua. Lolos tak lolos ke 16 besar tidak ada masalah bagi tim. Maklum, fokus Persipasi adalah bermain habis-habisan di delapan besar dan meraih satu tiket ke LSI.

Dalam perjalanannya, target itu justru meleset. Kaki Persipasi yang sedianya menginjak pedal rem justru gamang. Pertandingan melawan Persib begitu seksi untuk meningkatkan gengsi daerah dan mental pemain. Alih-alih menurunkan pemain lapis kedua, sejak melawan Pelita, Persita, hingga Persib, Persipasi sudah bermain dengan kekuatan inti.

Hasilnya, satu poin yang mereka dapatkan. Saat melawan Pelita Jaya yang berlangsung malam hari di Singaperbangsa, Persipasi loyo. Pipik yang menjaga gawang tak bermain apik dengan alasan matanya tak awas hanya dengan sorot lampu. Sedari awal Persipasi memang mengkhawatirkan laga malam yang tak biasa mereka lakoni.

Melawan Persita penampilan Persipasi tak berubah. Kegamangan menekan kaki pada pedal gas atau rem masih terlihat. Niat awal yang menjadikan Piala Indonesia hanya pemanasan jelang delapan besar menjadi penghalang. Di lain pihak, Persipasi juga ingin menunjukkan keperkasaannya dari anak-anak Tangerang. Kegamangan inilah yang membuat permainan Persipasi tak seperti biasanya. Bermain imbang 1-1 saat itu merupakan keberuntungan.

Puncak frustasi Persipasi terpapar saat melawan Persib. Ketua Umum Persipasi Mochtar Mohamad yang menstimulus pemain dengan giuran fulus ternyata tak mulus. Persipasi rontok diterkam Maung Bandung 4-0. El Loco menjadi taring yang sempurna untuk mencabik pertahanan Persipasi yang dikomandoi Firmansyah.

Mental pemain langsung terjun bebas. Niat awal bahwa Piala Indonesia hanya sebagai turnamen pemanasan justru membuat goyah internal tim. Mental pemain porak-poranda. Persoalan semakin runyam ketika pihak luar mulai berkomentar miring kepada para Laskar Patriot ini.

Asisten Pelatih Persija yang sudah mengenal seluk-beluk persepakbolaan Kota Bekasi, Maman Suryaman, langsung mengkritik kinerja pemain dan pelatih. Ia seolah membuka borok Persipasi dengan mengatakan performa fisik pemain yang anjlok saat melawan Persib. Yang monumental, Maman menyentil gaya kepelatihan Warta yang tidak keras mendisiplinkan pemainnya.

Dapur Persipasi menjadi panas. Keadaan ini diperparah dengan kabar yang menyesakkan; tiga pemain Persipasi, yakni Pipik Suratno, Arif Kurniawan, dan Mansur tertangkap basah bermain di ajang antarkampung (tarkam) tanpa sepengetahuan tim pelatih.

Di kalangan penggemar, suara-suara miring terhadap sikap Warta yang membebaskan pemainnya saat sedang tak berlatih atau bertanding, semakin berseliweran. Mulai dari ulah para pemain asingnya yang doyan jalan malam hingga tragedi kecelakaan sepeda motor yang tak perlu yang dialami Ruben Karel di penghujung putaran kedua Divisi Utama.

Guna mengeleminasi kritikan itu, Warta kemudian membawa timnya ke Lembang, Bandung selama seminggu. Fokus program training center (TC) yang dijalani di sana adalah memulihkan fisik dan mental pemain.

Lepas dari hasilnya apa, tim pelatih sudah sangat tepat dengan keputusan itu. Mental pemain yang jatuh disertai dengan fisik yang melemah memang seharusnya dipulihkan dengan suasana baru.

Dari beberapa pengakuan pemain, walaupun tak bisa diuji secara empiris, program TC di Lembang membuahkan hasil. Pemain senior Persipasi, Nuralim merasa fisik dan mentalnya memulih. Hal yang sama dilontarkan Arif Kurniawan dan Mansur. Pemain lapis kedua seperti Arnata juga menemukan ketajamannya setelah berlatih di Lembang.

Sekarang, tinggal bagaimana tim pelatih di bawah komando Warta memanfaatkan pulihnya fisik dan mental pemain. Pelatih juga harus bersikap bijaksana dengan kritikan yang datang dari berbagai penjuru. Jangan lantas ngambek.

Sepuluh hari jelang pluit delapan besar berbunyi Warta dkk masih punya waktu untuk menyusun strategi dan menakar kekuatan lawan. Jangan sampai permainan Persipasi berulang seperti saat melakoni Piala Indonesia. Dan patut digarisbawahi, kedisiplinan ada di atas segalanya.

Kamis, 29 April 2010

Blunder Hitung Kancing PSSI

PSSI benar-benar tidak bisa berkelit. Hingga empat Senin (5 hingga 26 April) yang mereka janjikan untuk segera memutus siapa yang berhak melaju ke babak delapan besar Divisi Utama, belum juga ditentukan. Persikabo kah atau PS Mojokerto Putra? (minggu ini CEO PT Liga Indonesia Joko Driyono berjanji akan memutuskan). Dua hari lalu (Rabu, 28/4) PT Liga Indonesia akhirnya mengurangi nilai Persikabo dan meloloskan PS Mojokerto Putra ke delapan besar Divisi Utama.

Gara-gara PSSI lama menghitung kancing, PT Liga Indonesia sebagai penyelenggara terpaksa harus memundurkan jadwal delapan besar yang semula direncanakan pada 28 April menjadi 18 Mei. Pasalnya, delapan besar tidak bisa terlaksana sebelum ditentukan delapan tim pesertanya.

Lepas dari sudah diambilnya keputusan, wajah PSSI di mata publik kadung memerah menahan malu. Betapa tidak, kasus pemberian sangsi yang diberikan FIFA terhadap Persikabo yang memutus kontrak Ndjee Bakene Noah begitu terang, tapi kenapa PSSI tak juga bisa menentukan sikap.

Dalam surat yang dikirim FIFA terpapar jelas hukuman yang harus diberikan pada Persikabo, yakni nilai Persikabo harus dikurangi 3 poin pada musim setelah jatuhnya sangsi (berarti musim ini). Kedua, Persikabo didenda sebesar 5 ribu franc. Ketiga, Persikabo harus membayar biaya administrasi sebesar seribu franc. Dan terakhir, Persikabo wajib membayar sisa kontrak Ndjee Bakene Noah sebesar Rp347 juta. Keterangan yang jelas dan tegas.

Hingga di penghujung kompetisi Divisi Utama musim ini (5 Maret 2010), tampillah Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes. Ia bak pahlawan penyelamat Persikabo. Secara serampangan ia menyebutkan bahwa Persikabo sudah tidak perlu lagi dikurangi poinnya karena sudah membayar denda yang sudah disebutkan FIFA. Yang mencurigakan, pernyataan Kang Nug, sapaan Besoes, keluar sehari setelah petinggi Persikabo mendatangi PSSI.

Suara Kang Nug didukung Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Nurdin bersikukuh hukuman pengurangan nilai Persikabo sudah diberlakukan musim lalu. Padahal, semua penggemar Divisi Utama juga tahu, tidak ada pengurangan nilai musim lalu.

Jelas, PSSI ingin meloloskan Persikabo dengan tidak mengurangi poinnya musim ini sesuai apa yang diminta FIFA. Versi Besoes-Nurdin, Persikabo berada di urutan kedua Grup I dengan 35 poin dan lolos ke delapan besar.

Tapi Besoes lupa. Pernyataannya yang serampangan membuat rugi tim lain. Ya, di Grup III, PS Mojokerto Putra yang berada di urutan ketiga dengan 33 poin meradang. Jika aturan FIFA konsisten dijalankan, tim inilah yang akan lolos ke delapan besar karena mampu menjadi salah satu dari dua peraih urutan ketiga terbaik. Sebagaimana aturan liga, dua urutan ketiga terbaik akan lolos ke delapan besar.

Sedangkan Persikabo, walaupun berada di urutan ketiga di Grup I, tetap tidak lolos karena nilainya dikurangi menjadi 32 poin (dari 35 poin) karena hukuman FIFA. Poinnya masih lebih kecil daripada PS Mojokerto Putra (33 poin) dan Deltras Sidoarjo dari Grup II dengan 37 poin.

FIFA yang bermarkas di Zurich, Swiss, mencium ketidakberesan ini. Pada 15 April lalu, federasi yang menaungi cabang olahraga sepak bola di dunia ini mengirimkan telefax yang khusus ditujukan untuk Besoes bertajuk “Persikabo Decision” dengan nomor 090055 IDN ZH 2009.

Isinya menggegerkan: “Kami akan membekukan kegiatan timnas dan klub Indonesia dalam turnamen internasional bila tidak mengeksekusi pengurangan tiga poin terhadap Persikabo”.

Ancaman FIFA ini sebenarnya sudah diidam-idamkan pencinta sepak bola Indonesia menjadi kenyataan demi memperbaiki sepak bola dalam negeri. Isu pembekuan ini sebelumnya juga pernah diwacanakan saat pemerintah lewat mulut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu muncullah Kongres Sepak Bola Nasional yang hasilnya justru tidak maksimal karena pemerintah enggan mengambil risiko turun mengambil alih.

Kembali ke persoalan Persikabo, akibat isi surat yang sangat tegas dari FIFA, kontan PSSI dan PT Liga Indonesia kelimpungan. Beberapa kali PSSI, PT LI, Badan Peradilan, dan Komisi Legal bertemu memperbincangkan surat panas ini. Para petinggi sepak bola di Indonesia ini pun hingga tulisan ini diturunkan, belum juga bisa menentukan siapa yang berhak lolos ke delapan besar, Persikabo atau PS Mojokerto Putra.

Kuasa Hukum PS Mojokerto Putra Adianto Mudjiono yang sempat akan melaporkan ulah PSSI, lega dengan datangnya surat resmi dari FIFA. “Sejak awal kami yakin pembatalan hukum itu hanya akal-akalan PSSI. Sekarang terbukti, FIFA sudah memberikan peringatan agar pengurangan poin Persikabo harus dieksekusi musim ini. Padahal, kami belum sempat mengirimkan surat laporan kepada FIFA,” kata Adianto dikutip dari harian olahraga TopSkor, 19 April 2010.

Yang jadi pertanyaan, apa sulitnya menjalankan hukuman yang diberikan FIFA? Apa sulitnya memotong nilai Persikabo? Toh, Persikabo layak dihukum. Kenapa selama hampir sebulan PSSI dkk tak juga bisa mengurus hal sepele semacam itu? Pembaca yang budiman kiranya bisa menebak-nebak jawabannya.