Akan ada tiga pertandingan yang akan disiarkan televisi hari ini. Satu dari grup C antara Aljazair melawan Slovenia pukul 18.30, kemudian dua pertandingan di Grup D antara Jerman melawan Australia (21.00) dan Serbia melawan Ghana (01.30 dini hari).
Laga Jerman melawan Australia mungkin yang paling seksi untuk diulas. Alasannya pasti semua orang sudah tahu. Jerman adalah tim yang kuat dengan segala julukan yang disematkan. Mulai dari panzer, uber allez, hingga tim bersemangat baja.
Jarang dijagokan sejak awal, tapi Jerman kerap kali membalikkan prediksi. Contoh konkret di Piala Dunia 1974 saat masih bernama Jerman Barat. Tampil di kandang sendiri, sang Kaisar Franz Beckenbauer memimpin rekan-rekannya merebut trofi hasil pahatan karya pematung Italia, Silvio Gazzaniga.
Piala yang baru pertama kali diperkenalkan ke publik dunia itu berhasil digondol Jerman Barat dari Belanda yang digadang-gadang bakal juara dunia. Maklum, Belanda tampil menawan dengan total football hasil racikan Rinus Michels yang diterapkan secara sempurna oleh Johan Cruyff. Namun Jerman Barat bisa membelokkan prediksi.
Paling segar di ingatan, saat Jerman berhasil lolos ke final Piala Dunia 2002. Brasil memang berhasil memecundangi Jerman lewat aksi Ronaldo. Dua gol Il Phenomenon mampu membuat si Singa, Oliver Khan, yang sebelumnya hanya kebobolan satu kali, tak berdaya. Tapi, Jerman lagi-lagi tak pernah benar-benar diperhitungkan sejak awal. Skuad yang dipimpin Oliver Bierhoff itu dinyatakan sudah terlalu tua.
Kali ini, Jerman juga tak begitu diperhitungkan di tengah mencuatnya permainan Spanyol. Prediksi orang-orang Eropa juga masih lebih banyak menjagokan Inggris dan Belanda.
Namun, pemain belakang Jerman, Philip Lahm, bergeming. Ia justru menyatakan bahwa saat inilah tim berada pada level tertinggi. “Selama saya membela Jerman, sekaranglah skuad terbaik Jerman,” ujarnya pada Reuters. Pertanyaannya semakin berbobot karena ia terpilih menjadi kapten Jerman di Piala Dunia 2010 menggantikan Michael Ballack yang cedera.
Dilihat dari lini per lini, Jerman memang semakin matang. Di depan, pelatih Joachim Loew punya Miroslav Klose dan Lukas Podolski yang sudah matang. Di tengah, walaupun ditinggal Ballack, Jerman punya gelandang kreatif Mezut Ozil (Werder Bremen). Kehadirannya, walaupun belum banyak dikenal, diprediksi membuat permainan Jerman tak sekaku dulu. Tentu saja didukung gelandang elegan Bastian Schweinsteiger.
Di belakang, Jerman dikenal punya pertahanan yang bagus. Sepanjang kualifikasi, mereka hanya kemasukan lima gol.
Bagaimana dengan Australia? Jerman harus waspada. Pada Piala Dunia 2006, Australia langsung lolos ke babak kedua, padahal itu adalah Piala Dunia pertama mereka. Banyaknya pemain yang ditempa di kompetisi Eropa membuat Australia tampil tenang melawan tim-tim benua biru itu.
Pelatih Australia Pim Verbeek bahkan mampu membuat pertahanan Australia solid. Lamanya mereka bersama membuat kekompakan tim terjaga.
Sayangnya, Australia tak punya penyerang bagus. Tim Cahill dan kawan-kawan paling bagus bisa menahan imbang Jerman. Jadi, saya berani menyatakan bahwa ada dua kemungkinan di pertandingan ini, imbang atau Jerman menang.
Minggu, 13 Juni 2010
Adu Terkam di Taman Ellis
Malam ini, publik sepak bola dunia akan melihat pembuktian Arsitek Argentina Maradona meracik para pemain bintangnya. Hingga sehari menjelang pertandingan, Argentina memang banyak diragukan masyarakat pencinta bola, bahkan oleh pendukung fanatik mereka. Melawan Nigeria malam ini di Stadion Ellis Park, Johannesberg, Argentina tentu harus menang jika tak ingin pulang lebih cepat.
Pada latihan terakhirnya, berdasarkan laporan Star Online, Si Tangan Tuhan memasang trio penyerang. Ini tak lazim jika melihat formasi yang digunakan Maradona semasa kualifikasi. Argentina yang biasanya memasang duet penyerang, kali ini akan memasang trisula Lionel Messi, Gonzalo Higuain, dan Carlos Tevez di pilihan pertama.
Jika tak berhasil, Maradona juga punya alternatif yang juga memasang tiga penyerang. Mereka adalah Diego Milito, Sergio Aguero, dan Martin Palermo. Keenam striker itu super tajam. Tapi, apakah mereka akan padu?
Dengan memasang tiga penyerang, Maradona berarti harus merelakan lini tengahnya bolong. Kuartet ini tengah yang biasa diisi Di Maria, Veron, Mascherano, dan Guiterrez, terpaksa harus dipangkas. Konsekuensinya, suplai bola ke depan semakin berkurang. Dan yang lebih krusial, pertahanan akan semakin menganga.
Tapi, untuk menyerang, pola 4-3-3 merupakan garansi untuk mencetak banyak gol. Apalagi trio pilihan pertama sudah terbukti memiliki naluri mencetak gol di setiap klubnya. Jika salah satunya tidak dalam kondisi terbaik, pilihan penyerang masih banyak dan memiliki ketajaman yang tidak diragukan lagi pada diri Milito, Aguero, dan si tua nan eksentrik Palermo.
Kubu lawan, Nigeria, juga tak bisa dianggap enteng. Walaupun berada di peringkat 20 FIFA, mereka punya semangat baja seperti layaknya tim dari benua Afrika. Terbukti di dua penyelenggaraan Piala Dunia (1994 dan 1998), mereka mampu melaju ke babak kedua.
Ciri khas menyerang dengan penuh kecepatan khas Elang Super, julukan Nigeria, patut diwaspadai Albiceleste, julukan Argentina. Nigeria bersyukur punya penyerang handal kelas dunia pada diri Yakubu, Obafemi Martins, Osaze Odemwingie, Victor Obina, Chinedu Obasi dan Ikechukwu Uche.
Sama seperti Argentina, pasukan Elang Super kerap melupakan pertahanan. Seperti dikutip dalam goal.com, semenjak Taribo West pensiun, belum ada lagi pemain belakang yang bisa menggantikan perannya sebagai tokoh sentral di jantung pertahanan. Nigeria juga masih kesulitan bermain sebagai sebuah tim dan lebih mengandalkan permainan individual. Salah satu momen terburuk adalah kegagalan mereka menembus putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman.
Lepas dari kelebihan dan kelemahan masing-masing, laga di Grup B ini pasti akan menyuguhkan permainan yang sedap dipandang. Jual-beli serangan tentu tak bisa dihindarkan melihat materi permainan mereka. Tinggal bagaimana masing-masing tim bisa lebih dulu memperkuat pertahanan sebelum para penyerang yang super ganas di kedua kubu menjebol gawang.
Namun demikian, tak bisa dikesampingkan, materi pemain Argentina lebih lengkap. Kans Argentina memenangi pertandingan pun seturut dengan kombinasi para pemainnya itu.(*)
***Telat memposting. Seharusnya diposting sebelum pertandingannya dimulai. Tapi, prediksinya sebagian besar benar kok...
Pada latihan terakhirnya, berdasarkan laporan Star Online, Si Tangan Tuhan memasang trio penyerang. Ini tak lazim jika melihat formasi yang digunakan Maradona semasa kualifikasi. Argentina yang biasanya memasang duet penyerang, kali ini akan memasang trisula Lionel Messi, Gonzalo Higuain, dan Carlos Tevez di pilihan pertama.
Jika tak berhasil, Maradona juga punya alternatif yang juga memasang tiga penyerang. Mereka adalah Diego Milito, Sergio Aguero, dan Martin Palermo. Keenam striker itu super tajam. Tapi, apakah mereka akan padu?
Dengan memasang tiga penyerang, Maradona berarti harus merelakan lini tengahnya bolong. Kuartet ini tengah yang biasa diisi Di Maria, Veron, Mascherano, dan Guiterrez, terpaksa harus dipangkas. Konsekuensinya, suplai bola ke depan semakin berkurang. Dan yang lebih krusial, pertahanan akan semakin menganga.
Tapi, untuk menyerang, pola 4-3-3 merupakan garansi untuk mencetak banyak gol. Apalagi trio pilihan pertama sudah terbukti memiliki naluri mencetak gol di setiap klubnya. Jika salah satunya tidak dalam kondisi terbaik, pilihan penyerang masih banyak dan memiliki ketajaman yang tidak diragukan lagi pada diri Milito, Aguero, dan si tua nan eksentrik Palermo.
Kubu lawan, Nigeria, juga tak bisa dianggap enteng. Walaupun berada di peringkat 20 FIFA, mereka punya semangat baja seperti layaknya tim dari benua Afrika. Terbukti di dua penyelenggaraan Piala Dunia (1994 dan 1998), mereka mampu melaju ke babak kedua.
Ciri khas menyerang dengan penuh kecepatan khas Elang Super, julukan Nigeria, patut diwaspadai Albiceleste, julukan Argentina. Nigeria bersyukur punya penyerang handal kelas dunia pada diri Yakubu, Obafemi Martins, Osaze Odemwingie, Victor Obina, Chinedu Obasi dan Ikechukwu Uche.
Sama seperti Argentina, pasukan Elang Super kerap melupakan pertahanan. Seperti dikutip dalam goal.com, semenjak Taribo West pensiun, belum ada lagi pemain belakang yang bisa menggantikan perannya sebagai tokoh sentral di jantung pertahanan. Nigeria juga masih kesulitan bermain sebagai sebuah tim dan lebih mengandalkan permainan individual. Salah satu momen terburuk adalah kegagalan mereka menembus putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman.
Lepas dari kelebihan dan kelemahan masing-masing, laga di Grup B ini pasti akan menyuguhkan permainan yang sedap dipandang. Jual-beli serangan tentu tak bisa dihindarkan melihat materi permainan mereka. Tinggal bagaimana masing-masing tim bisa lebih dulu memperkuat pertahanan sebelum para penyerang yang super ganas di kedua kubu menjebol gawang.
Namun demikian, tak bisa dikesampingkan, materi pemain Argentina lebih lengkap. Kans Argentina memenangi pertandingan pun seturut dengan kombinasi para pemainnya itu.(*)
***Telat memposting. Seharusnya diposting sebelum pertandingannya dimulai. Tapi, prediksinya sebagian besar benar kok...
Jumat, 28 Mei 2010
Surat dari Penggemar Fanatik Persipasi
Mohon maaf Bang Warta Kusuma, saya kecewa dengan Persipasi yang tak bisa promosi ke Liga Super. Saya tahu banyak faktor yang membuat Persipasi tak bisa merebut satu dari empat tiket promosi. Tetap saja, sebagai penggemar, saya kecewa.
Maklum, sejak pertama Persipasi menginjak Divisi Utama saya sudah berharap banyak pada tim ini. Agar Kota Bekasi bisa harum di daerah lain. Agar masyarakat lain setidaknya mengenal Kota Bekasi bukan sebagai tempelan dari Jakarta. Bekasi ternyata punya pembinaan sepak bola yang bagus. Begitu saya membayangkan jika Persipasi berprestasi.
Setiap hari saya melihat para pemain Persipasi berlatih di Stadion Patriot. Jangan tanya kalau setiap kali Persipasi bertanding, saya pun selalu hadir di tribun. Kecuali kalau Persipasi bertanding di kandang lawan yang jauh di luar pulau. Kalau masih di pulau Jawa, saya selalu meladeni datang. Apalagi pada babak delapan besar, saya tak pernah ketinggalan untuk menonton langsung di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo dan Stadion Gajayana, Malang.
Untungnya laga delapan besar diundur hampir sebulan, jadi saya bisa mengumpulkan uang dulu agar bisa pergi ke sana. Dan saya menyaksikan bagaimana Persipasi tak berkutik menghadapi Persibo, Deltras Sidoarjo, dan Persidafon.
Stadion Delta Sidoarjo amat megah. Saya sempat merasakan menonton di dua sudut pada dua pertandingan Persipasi di sana. Rumputnya lebih rapi dibandingkan dengan rumput di Stadion Patriot. Suporternya kompak. Mereka berderet dari satu tribun. Nyanyian tak pernah lepas dari satu komando.
Sebenarnya saya sempat khawatir. Ingatan akan perkelahian antarsuporter dan pengeroyokan suporter lawan oleh supporter tuan rumah, berseliweran di kepala saya. Tapi demi menyaksikan Persipasi, keberanian saya berlipat. Konsekuensinya, saya terpaksa hadir di stadion tanpa atribut tim kebanggaan. Dan maaf juga karena saya tak bergabung dengan kelompok suporter Bekasi yang memberanikan diri datang ke sana. Maafkan untuk itu.
Penampilan Arif Kurniawan dan teman-temannya tak membuat saya berdecak kagum ketika Persipasi dikalahkan Persibo Bojonegoro pada 18 Mei lalu. Geregetan sekali saya ingin berteriak untuk menyemangati para pemain idola saya itu. Sebagaimana saya sering memaki jika Persipasi bermain di kandang sendiri. Tapi saya tidak lupa, saya sedang berada di kandang lawan. Salah teriak sedikit, orang-orang akan memperhatikan saya. Jika bernasib buruk, mungkin kepala saya sudah memar-memar. Jadi saya urungkan walaupun hati saya bergemuruh.
Saya keluar stadion dengan tertunduk lesu. Tapi biarlah kehilangan tiga poin, pikir saya. Di pertandingan selanjutnya, pasti Laskar Patriot bisa berintrospeksi. Warta pasti bisa belajar dari kesalahan.
Dua hari berselang, stadion diliputi lautan merah. Gambar lobster di mana-mana. Kecut hati saya memasuki stadion. Saya memilih duduk di bangku netral, tentu dengan atribut netral pula. Di kejauhan saya melihat sekelompok kecil penonton berpakaian hijau stabilo. Melihat warna hijau, saya bangga sekaligus tak minder dengan dukungan penuh tuan rumah.
Di pertandingan melawan Deltras, Persipasi tampil dengan pola yang bagi saya bagus. Masih dengan tiga pemain belakang, tapi di tengah ada sedikit modifikasi. Saya melihat Mardiansyah main. Di depan Warta mengistirahatkan Boumsong. Saya mafhum dengan taktiknya, Boumsong memang kerap terlalu emosional. Wah, Warta pasti punya senjata rahasia. Saya jadi tak sabar menunggu tiupan pluit dari wasit yang dipimpin Untung.
Benar saja, Mardiansyah membuka gol bagi Persipasi. Sebelum akhirnya disamakan Deltras. Lagi-lagi saya kesal dengan wasit. Si Untung itu ternyata membuat kami rugi. Kalau ada benda keras di kantong saya dan saya sedang berada di Bekasi, saya lemparkan itu benda dengan sasaran kepala wasit. Dan untuk kedua kalinya, saya masih bisa menguasai diri. Saya tetap duduk manis sambil kaki ini tak bisa berhenti bergerak.
Pluit panjang berbunyi. Untung Persipasi tak kalah akibat ulah si Untung. Maaf, Bang Warta, saya agak kasar, tapi begitulah perasaan saya. Dan saya pun kembali kecewa pada Persipasi yang tak bermain ngotot. Mereka malah mengeluh karena ulah Untung. Namun yang penting, Persipasi masih punya peluang walaupun teramat kecil.
Di pertandingan terakhir, dengan uang di saku makin menipis, saya masih berharap Persipasi meraih kesempatan meraih poin penuh melawan Persidafon Dafonsoro. Tentu sambil berharap Deltras tersandung saat melawan Persibo Bojonegoro. Kali ini saya harus menyambangi Stadion Gajayana, Malang. Stadion ini tak kalah megahnya dibandingkan Delta. Udara yang semriwing membuat suasana hati saya sedikit tenang.
Hati saya remuk-redam. Persipasi kalah menyakitkan dari Persidafon. Skor 3-4 begitu menyakitkan. Lagi-lagi Persipasi tak mampu mempertahankan kemenangan. Tanda tak ada spirit kemenangan di masing-masing pemain. Maaf, Bang Warta, ini benar-benar membuat saya sakit hati. Mimpi berbulan-bulan saya buyar. Hanya satu poin dari tiga pertandingan dan menjadi juru kunci di klasemen terakhir delapan besar, sangat menyakitkan.
Saya kembali berkereta ke Bekasi. Di dalam kereta ekonomi itu saya kebanyakan bengong. Tak peduli dengan desak-desakan penumpang, saya duduk di bangku pojok sambil menatap ke luar.
Sampai di rumah, saya mendapati surat yang dicap Pemerintah Kota Bekasi. Isinya; saya dikeluarkan secara tidak hormat sebagai tenaga kerja kontrak karena sering membolos. Gaji yang sempat tertunda berbulan-bulan pun raib.(*)
Tulisan ini terinspirasi dari banyaknya sms yang masuk ke dapur redaksi Radar Bekasi terkait gagalnya Laskar Patriot maju ke empat besar Divisi Utama.
Maklum, sejak pertama Persipasi menginjak Divisi Utama saya sudah berharap banyak pada tim ini. Agar Kota Bekasi bisa harum di daerah lain. Agar masyarakat lain setidaknya mengenal Kota Bekasi bukan sebagai tempelan dari Jakarta. Bekasi ternyata punya pembinaan sepak bola yang bagus. Begitu saya membayangkan jika Persipasi berprestasi.
Setiap hari saya melihat para pemain Persipasi berlatih di Stadion Patriot. Jangan tanya kalau setiap kali Persipasi bertanding, saya pun selalu hadir di tribun. Kecuali kalau Persipasi bertanding di kandang lawan yang jauh di luar pulau. Kalau masih di pulau Jawa, saya selalu meladeni datang. Apalagi pada babak delapan besar, saya tak pernah ketinggalan untuk menonton langsung di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo dan Stadion Gajayana, Malang.
Untungnya laga delapan besar diundur hampir sebulan, jadi saya bisa mengumpulkan uang dulu agar bisa pergi ke sana. Dan saya menyaksikan bagaimana Persipasi tak berkutik menghadapi Persibo, Deltras Sidoarjo, dan Persidafon.
Stadion Delta Sidoarjo amat megah. Saya sempat merasakan menonton di dua sudut pada dua pertandingan Persipasi di sana. Rumputnya lebih rapi dibandingkan dengan rumput di Stadion Patriot. Suporternya kompak. Mereka berderet dari satu tribun. Nyanyian tak pernah lepas dari satu komando.
Sebenarnya saya sempat khawatir. Ingatan akan perkelahian antarsuporter dan pengeroyokan suporter lawan oleh supporter tuan rumah, berseliweran di kepala saya. Tapi demi menyaksikan Persipasi, keberanian saya berlipat. Konsekuensinya, saya terpaksa hadir di stadion tanpa atribut tim kebanggaan. Dan maaf juga karena saya tak bergabung dengan kelompok suporter Bekasi yang memberanikan diri datang ke sana. Maafkan untuk itu.
Penampilan Arif Kurniawan dan teman-temannya tak membuat saya berdecak kagum ketika Persipasi dikalahkan Persibo Bojonegoro pada 18 Mei lalu. Geregetan sekali saya ingin berteriak untuk menyemangati para pemain idola saya itu. Sebagaimana saya sering memaki jika Persipasi bermain di kandang sendiri. Tapi saya tidak lupa, saya sedang berada di kandang lawan. Salah teriak sedikit, orang-orang akan memperhatikan saya. Jika bernasib buruk, mungkin kepala saya sudah memar-memar. Jadi saya urungkan walaupun hati saya bergemuruh.
Saya keluar stadion dengan tertunduk lesu. Tapi biarlah kehilangan tiga poin, pikir saya. Di pertandingan selanjutnya, pasti Laskar Patriot bisa berintrospeksi. Warta pasti bisa belajar dari kesalahan.
Dua hari berselang, stadion diliputi lautan merah. Gambar lobster di mana-mana. Kecut hati saya memasuki stadion. Saya memilih duduk di bangku netral, tentu dengan atribut netral pula. Di kejauhan saya melihat sekelompok kecil penonton berpakaian hijau stabilo. Melihat warna hijau, saya bangga sekaligus tak minder dengan dukungan penuh tuan rumah.
Di pertandingan melawan Deltras, Persipasi tampil dengan pola yang bagi saya bagus. Masih dengan tiga pemain belakang, tapi di tengah ada sedikit modifikasi. Saya melihat Mardiansyah main. Di depan Warta mengistirahatkan Boumsong. Saya mafhum dengan taktiknya, Boumsong memang kerap terlalu emosional. Wah, Warta pasti punya senjata rahasia. Saya jadi tak sabar menunggu tiupan pluit dari wasit yang dipimpin Untung.
Benar saja, Mardiansyah membuka gol bagi Persipasi. Sebelum akhirnya disamakan Deltras. Lagi-lagi saya kesal dengan wasit. Si Untung itu ternyata membuat kami rugi. Kalau ada benda keras di kantong saya dan saya sedang berada di Bekasi, saya lemparkan itu benda dengan sasaran kepala wasit. Dan untuk kedua kalinya, saya masih bisa menguasai diri. Saya tetap duduk manis sambil kaki ini tak bisa berhenti bergerak.
Pluit panjang berbunyi. Untung Persipasi tak kalah akibat ulah si Untung. Maaf, Bang Warta, saya agak kasar, tapi begitulah perasaan saya. Dan saya pun kembali kecewa pada Persipasi yang tak bermain ngotot. Mereka malah mengeluh karena ulah Untung. Namun yang penting, Persipasi masih punya peluang walaupun teramat kecil.
Di pertandingan terakhir, dengan uang di saku makin menipis, saya masih berharap Persipasi meraih kesempatan meraih poin penuh melawan Persidafon Dafonsoro. Tentu sambil berharap Deltras tersandung saat melawan Persibo Bojonegoro. Kali ini saya harus menyambangi Stadion Gajayana, Malang. Stadion ini tak kalah megahnya dibandingkan Delta. Udara yang semriwing membuat suasana hati saya sedikit tenang.
Hati saya remuk-redam. Persipasi kalah menyakitkan dari Persidafon. Skor 3-4 begitu menyakitkan. Lagi-lagi Persipasi tak mampu mempertahankan kemenangan. Tanda tak ada spirit kemenangan di masing-masing pemain. Maaf, Bang Warta, ini benar-benar membuat saya sakit hati. Mimpi berbulan-bulan saya buyar. Hanya satu poin dari tiga pertandingan dan menjadi juru kunci di klasemen terakhir delapan besar, sangat menyakitkan.
Saya kembali berkereta ke Bekasi. Di dalam kereta ekonomi itu saya kebanyakan bengong. Tak peduli dengan desak-desakan penumpang, saya duduk di bangku pojok sambil menatap ke luar.
Sampai di rumah, saya mendapati surat yang dicap Pemerintah Kota Bekasi. Isinya; saya dikeluarkan secara tidak hormat sebagai tenaga kerja kontrak karena sering membolos. Gaji yang sempat tertunda berbulan-bulan pun raib.(*)
Tulisan ini terinspirasi dari banyaknya sms yang masuk ke dapur redaksi Radar Bekasi terkait gagalnya Laskar Patriot maju ke empat besar Divisi Utama.
Langganan:
Postingan (Atom)
