Ironis. Liga Pelajar Indonesia atau Liga Pendidikan Indonesia (LPI) di Bekasi tak terdengar gaungnya. Liga yang sejak tahun lalu digadang-gadang bakal menjadi dapur tempat meracik pemain nasional ini senyap di Bekasi.
Sejak dibuka pendaftaran LPI di Kabupaten Bekasi pada 1 Februari, jumlah peserta yang mendaftar hingga Rabu (24/2) hanya berjumlah 15 tim. Terdiri dari 12 tim dari sekolah menengah pertama (SMP) dan 3 tim SMA. Padahal, pendaftaran ditutup pada 28 Februari ini.
Bandingkan dengan jumlah sekolah menengah di Kabupaten Bekasi yang mencapai 474 sekolah (terdiri dari 342 SMP dan 132 SMA). Sepuluh persennya saja panitia LPI tak bisa menjaring sekolah. Ini sangat ironis.
Di Kota Bekasi, penyelenggaraan LPI juga setali tiga uang. Peserta memang lebih banyak dari kabupaten, yakni 50 sekolah, tapi masih sangat sedikit jika melihat total jumlah SMP dan SMA di kota ini yang mencapai 458 sekolah.
Pertanyaannya, apa yang dikerjakan panitia? Padahal liga ini dipanitiai trio instansi pemerintah, yakni dinas pendidikan, dinas olahraga, dan Pengcab PSSI daerah. Ketiganya merupakan instansi yang bisa dengan mudah meminta sekolah untuk menjadi peserta. Apalagi jaringan mereka sangat luas, terutama dinas pendidikan yang terbiasa mengurusi sekolah.
Alasan yang terlontar dari Panitia Bidang Seleksi Pemain LPI Kabupaten Bekasi, Agung Suganda, justru tidak masuk akal. Menurutnya, banyak sekolah yang tak berminat ikut serta dalam liga ini (Radar Bekasi, 25/2). Padahal, publikasi yang dilakukan panitia hanya menyebarkan pamflet ke sekolah-sekolah. Tidak lebih dari itu.
Sebagai salah satu unsur kepanitiaan, Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi seharusnya mampu “memaksa” sekolah untuk ikut serta dalam LPI. Kepala dinas bahkan sangat mungkin mengeluarkan surat sakti yang isinya: Meminta dengan sangat setiap sekolah untuk ikut serta. Bisa juga diberi embel-embel: Ini untuk kemajuan persepakbolaan Indonesia. Lebih bagus lagi jika ada kalimat: Kita akan sangat bangga jika ada anak Bekasi yang bermain membela Indonesia.
Jika itu dilakukan, mustahil peserta yang mendaftar hanya 15 sekolah. Saya yakin akan lebih dari itu. Apalagi kepala dinas yang menyuruh. Kepala sekolah pasti akan manut. Terlebih, ini adalah kegiatan yang sangat positif untuk perkembangan generasi muda Bekasi. Apalagi peserta yang berhasil menjadi jawara di liga ini akan mewakili Kabupaten Bekasi ke tingkat provinsi, bahkan mewakili Indonesia di ajang internasional.
Sebagaimana spirit pembentukannya, LPI dicetuskan setahun lalu oleh PSSI karena melihat kesuksesan Danone National Cup (DNC). Turnamen ini oleh PSSI sengaja diselenggarakan mulai dari tingkat daerah, wilayah, hingga tingkat nasional. Dengan harapan, bisa menemukan pemain Indonesia yang berbakat dan menjadi tumpuan persepakbolaan Indonesia di masa mendatang.
Tengok saja bagaimana menjanjikannya DNC sebagai cikal bakal LPI. Melalui DNC, nama Indonesia pernah harum di pentas internasional. Tercatat, prestasi tertinggi Indonesia di Final Dunia DNC adalah ketika menjadi peringkat empat tahun 2006.
Selain itu, tim Merah-Putih juga mendapat anugerah The Best Defence Team karena gawangnya hanya kebobolan satu kali. Di tahun 2005, Indonesia pun mendapat penghargaan The Best Attack Team karena memecahkan rekor gol terbanyak sepanjang sejarah DNC, yakni 24 gol.
Terus terang, potensi LPI sangat besar mendorong persepakbolaan Indonesia jika digarap maksimal oleh panitia dari tingkat bawah hingga atas. DNC saja yang dikelola perusahaan swasta mampu menggaungkan nama Indonesia di dunia.
Kembali lagi ke Bekasi, panitia lokal ternyata tak mengendus potensi liga ini. Jika panitia LPI Kabupaten Bekasi mengeluh minimnya peserta, panitia LPI di Kota Bekasi malah sibuk mengeluh soal teknis pengawasan umur peserta.
Itu adalah bukti bahwa even sebagus apapun akan tak berarti jika pengelolaannya amburadul. Hasilnya, LPI di Bekasi tak “berbunyi”. Panitia tingkat lokal sepertinya tak tahu bagaimana caranya menyelenggarakan even dengan baik. Mereka juga seperti tak mau tahu dengan cita-cita awal tercetusnya LPI. Bahkan untuk sekadar memikirkan cara memublikasikan adanya turnamen ini pun mereka tidak bisa.
Jika di tahun-tahun mendatang kondisinya tetap seperti ini. Saya yakin, anak-anak Bekasi yang mungkin punya bakat bermain sepak bola, tak akan pernah terendus. Persepakbolaan Indonesia juga akan mandek. Dan tampil di turnamen sekelas Piala Dunia selamanya hanya mimpi.
Jumat, 26 Februari 2010
Minggu, 21 Februari 2010
Trauma Bukan lawanmu, Mardi!
Selama membela Persipasi Bekasi, Mardiansyah baru diturunkan dua kali. Ia kadung dibekap cedera lutut saat melawan mantan timnya Persikabo Bogor pada 29 November tahun lalu. Sejak saat itu, Mardi, sapaan Mardiansyah, hanya bisa duduk manis di tribun penonton.
Kedatangan Mardi di awal musim sempat menggelembungkan asa Persipasi untuk mengarungi Liga Joss Indonesia (Divisi Utama) untuk pertama kalinya. Apalagi pemain berusia 31 tahun ini datang dengan cap sebagai satu dari tiga top skor Divisi Utama musim 2008/2009 dengan 17 gol.
Lebih membanggakan lagi, ia adalah satu-satunya pemain asli Indonesia yang menjadi top skor. Dua yang lain adalah pemain impor, J.P. Boumsong (saat masih di Persikad Depok) dan Herman Dzumafo (PSPS Pekanbaru). Patut dicatat, Mardi juga merupakan pemain asli Bekasi. Ia adalah satu dari anak berbakat Bekasi yang bisa malang-melintang di persepakbolaan nasional.
Jadi, sudah garansi, jika Mardi dalam kondisi fit, ketajaman kakinya mampu meneror gawang tim lawan. Ia mungkin mampu membawa Persipasi bersaing dengan Semen Padang di puncak klasemen.
Namun, hingga memasuki putaran kedua, Mardi tak kunjung diturunkan. Sudah hampir tiga bulan aksinya hilang di lapangan. Persipasi praktis sangat kehilangan pemain serbabisa ini. Dan ketiadaannya membuat produktivitas gol Persipasi sangat kering. Ngevasi Gana yang diharapkan mampu mengisi kekosongan Mardi malah bermain mengecewakan. Permainannya ternyata tak sebagus badannya.
Di akhir putaran pertama, Persipasi hanya mampu parkir di peringkat keempat dengan torehan 12 gol dari 10 pertandingan. Ironisnya, setengah dari jumlah itu dicetak oleh Stephen Nagbe Mennoch, pemain yang berposisi sebagai gelandang.
Meraih posisi empat besar bagi tim promosi sebenarnya merupakan prestasi, tapi saya sebagai penggemar Persipasi, tentu kecewa. Dengan materi yang menggabungkan pemain muda dan pemain kawakan yang sudah merasakan aroma Timnas, Persipasi harusnya bersaing di tiga besar.
Asa kembali lewat di putaran kedua. Persipasi kedatangan mantan pencetak gol terbanyak, J.P. Boumsong. Mardi juga sudah mulai berlatih. Cedera lututnya sudah pulih total. Saya kembali membayangkan, jika kedua mantan top skor ini bermain bersamaan, Persipasi bisa jadi mampu menebar ancaman. Apalagi didukung lini tengah yang tangguh dengan datangnya dua pemain penuh determinasi Alex Robinson dan pemain muda berbakat Ruben Karel.
Dengan catatan, Mardi harus bisa keluar dari trauma pascacederanya. Warta enggan memasangnya jika Mardi masih ketakutan saat ia menguasai bola. Ini terlihat saat sesi latihan terakhir (15 Februari 2010) sebelum bertolak ke Riau untuk menghadapi Persih Tembilahan. Mardi terlihat masih ketakutan. Pergerakannya sangat hati-hati. Saat dimainkan dalam sesi small game, ia juga masih terlihat kikuk dan pertahanan dirinya berlebihan.
Wajar jika Mardi tak diikutsertakan ke Riau. Warta amat hafal efek traumatis setelah cedera. Ia dengan mantap mengambil keputusan untuk mengistirahatkan Mardi hingga dua pertandingan ke depan.
Lalu apakah Mardi bisa mengatasi traumanya? Saya jadi teringat saat dia bermain untuk Persikabo. Pergerakannya dinamis. Walaupun posisinya sebagai gelandang, ia mampu merangsek hingga ke kotak penalti lawan. Gol demi gol ia ciptakan melalui kaki, kepala, hingga tendangan bebasnya.
Tidak lupa, selepas mencetak gol, ia kerap mendatangi penonton. Saya mengartikan aksi itu adalah sebuah ucapan terima kasih dan pembuktian bahwa ia pantas berada di lapangan untuk mencetak gol. Penonton pun langsung gerr. Ia dipuja bak pahlawan. Itu adalah aksi Mardi saat bermain untuk tim di luar tanah kelahirannya.
Nah, sangat manja jika Mardi kalah oleh trauma. Apalagi saat ini ia bergabung dengan tim dari tanah kelahiran sendiri yang sudah lama merindukan kompetisi Liga Utama. Mardi bisa lebih dari sekadar menyingkirkan trauma pascacedera. Ia lahir untuk menciptakan gol demi gol.
Kedatangan Mardi di awal musim sempat menggelembungkan asa Persipasi untuk mengarungi Liga Joss Indonesia (Divisi Utama) untuk pertama kalinya. Apalagi pemain berusia 31 tahun ini datang dengan cap sebagai satu dari tiga top skor Divisi Utama musim 2008/2009 dengan 17 gol.
Lebih membanggakan lagi, ia adalah satu-satunya pemain asli Indonesia yang menjadi top skor. Dua yang lain adalah pemain impor, J.P. Boumsong (saat masih di Persikad Depok) dan Herman Dzumafo (PSPS Pekanbaru). Patut dicatat, Mardi juga merupakan pemain asli Bekasi. Ia adalah satu dari anak berbakat Bekasi yang bisa malang-melintang di persepakbolaan nasional.
Jadi, sudah garansi, jika Mardi dalam kondisi fit, ketajaman kakinya mampu meneror gawang tim lawan. Ia mungkin mampu membawa Persipasi bersaing dengan Semen Padang di puncak klasemen.
Namun, hingga memasuki putaran kedua, Mardi tak kunjung diturunkan. Sudah hampir tiga bulan aksinya hilang di lapangan. Persipasi praktis sangat kehilangan pemain serbabisa ini. Dan ketiadaannya membuat produktivitas gol Persipasi sangat kering. Ngevasi Gana yang diharapkan mampu mengisi kekosongan Mardi malah bermain mengecewakan. Permainannya ternyata tak sebagus badannya.
Di akhir putaran pertama, Persipasi hanya mampu parkir di peringkat keempat dengan torehan 12 gol dari 10 pertandingan. Ironisnya, setengah dari jumlah itu dicetak oleh Stephen Nagbe Mennoch, pemain yang berposisi sebagai gelandang.
Meraih posisi empat besar bagi tim promosi sebenarnya merupakan prestasi, tapi saya sebagai penggemar Persipasi, tentu kecewa. Dengan materi yang menggabungkan pemain muda dan pemain kawakan yang sudah merasakan aroma Timnas, Persipasi harusnya bersaing di tiga besar.
Asa kembali lewat di putaran kedua. Persipasi kedatangan mantan pencetak gol terbanyak, J.P. Boumsong. Mardi juga sudah mulai berlatih. Cedera lututnya sudah pulih total. Saya kembali membayangkan, jika kedua mantan top skor ini bermain bersamaan, Persipasi bisa jadi mampu menebar ancaman. Apalagi didukung lini tengah yang tangguh dengan datangnya dua pemain penuh determinasi Alex Robinson dan pemain muda berbakat Ruben Karel.
Dengan catatan, Mardi harus bisa keluar dari trauma pascacederanya. Warta enggan memasangnya jika Mardi masih ketakutan saat ia menguasai bola. Ini terlihat saat sesi latihan terakhir (15 Februari 2010) sebelum bertolak ke Riau untuk menghadapi Persih Tembilahan. Mardi terlihat masih ketakutan. Pergerakannya sangat hati-hati. Saat dimainkan dalam sesi small game, ia juga masih terlihat kikuk dan pertahanan dirinya berlebihan.
Wajar jika Mardi tak diikutsertakan ke Riau. Warta amat hafal efek traumatis setelah cedera. Ia dengan mantap mengambil keputusan untuk mengistirahatkan Mardi hingga dua pertandingan ke depan.
Lalu apakah Mardi bisa mengatasi traumanya? Saya jadi teringat saat dia bermain untuk Persikabo. Pergerakannya dinamis. Walaupun posisinya sebagai gelandang, ia mampu merangsek hingga ke kotak penalti lawan. Gol demi gol ia ciptakan melalui kaki, kepala, hingga tendangan bebasnya.
Tidak lupa, selepas mencetak gol, ia kerap mendatangi penonton. Saya mengartikan aksi itu adalah sebuah ucapan terima kasih dan pembuktian bahwa ia pantas berada di lapangan untuk mencetak gol. Penonton pun langsung gerr. Ia dipuja bak pahlawan. Itu adalah aksi Mardi saat bermain untuk tim di luar tanah kelahirannya.
Nah, sangat manja jika Mardi kalah oleh trauma. Apalagi saat ini ia bergabung dengan tim dari tanah kelahiran sendiri yang sudah lama merindukan kompetisi Liga Utama. Mardi bisa lebih dari sekadar menyingkirkan trauma pascacedera. Ia lahir untuk menciptakan gol demi gol.
Jumat, 12 Februari 2010
Kenapa Koni Kota Bekasi tak Percaya Diri?
Perolehan 53 emas pada Kualifikasi Pekan Olahraga Daerah (Porda) XI Jawa Barat tak membuat Koni Kota Bekasi percaya diri. Indikasinya, hingga H-3 pengukuhan atlet yang akan diberangkatkan pada Porda XI, Koni masih emoh pasang target konkret.
Padahal, ajang kualifikasi adalah cermin menatap ajang sebenarnya. Ajang kualifikasi juga bisa diartikan sebagai proyeksi sebuah kontingen untuk mengukur kemampuan di ajang final, yakni Porda.
Dan perolehan 53 emas dari 50 emas yang ditargetkan Koni adalah angka realistis. Mestinya angka itu menjadi modal Koni untuk pasang target di Porda XI Juli mendatang. Paling tidak bertekad menyamai perolehan emas seperti di kualifikasi. Lebih bagus lagi jika lebih.
Alih-alih menetapkan target konkret, Ketua Harian II Koni Kota Bekasi, Eddie Prihadie, malah memasang target yang abstrak. Menurutnya, Koni menargetkan sukses ganda, yakni sukses dalam prestasi dan sukses memberdayakan masyarakat (Radar Bekasi, 1 Februari).
Sukses ganda itu jelas target abstrak. Atlet, saya yakin, akan kesulitan menerjemahkan sukses dalam prestasi maupun sukses memberdayakan masyarakat seperti yang dikatakan Eddie.
Sebagai salah satu petinggi Koni, Eddie seharusnya melemparkan target yang konkret. Ia tentu tahu kemampuan atlet binaannya. Apa salah dan susahnya menetapkan target yang konkret. Raihan 53 emas di ajang kualifikasi adalah konkret. Lalu kenapa Koni enggan menargetkan jumlah emas? Toh, saat kualifikasi saja sudah terbukti bahwa atlet Kota Bekasi bisa melampaui target.
Apalagi seluruh pengurus cabang olahraga yang berada di bawah naungan Koni sudah mempersiapkan atlet sejak setahun lalu. Dibentuk pula satuan petugas yang bertugas memantau siapa atlet yang pantas dan tidak pantas mewakili Kota Bekasi di ajang empat tahunan itu.
Ditambah, saat ini para atlet terus digembleng dalam pemusatan latihan cabang hingga Juni mendatang atau sebulan sebelum laga Porda. Persiapan yang lebih dari cukup untuk mengetahui kekuatan internal.
Target baru tersembul pada acara pengukuhan atlet pada 3 Februari lalu di Balai Patriot. Di hadapan 382 atlet yang akan diberangkatkan ke Porda XI/2010, Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad dalam sambutannya langsung memasang target konkret: 46 emas. Sedikit di bawah perolehan emas pada ajang kualifikasi.
Mochtar bahkan menjanjikan bonus Rp45 juta plus berangkat umroh bagi peraih emas. Jika benar Kota Bekasi mampu meraih sedikitnya 46 emas, berarti Pemkot Bekasi harus mengeluarkan Rp2,07 miliar. Itu belum termasuk biaya umroh untuk 46 orang yang bisa mencapai Rp506 juta (standar umroh adalah Rp11 juta). Bonus yang amat tinggi demi 46 emas atau menjadi lima besar.
Seharusnya, dengan bonus setinggi itu, Pemkot Bekasi juga berani menargetkan emas lebih banyak lagi. Jangan segan-segan memasang target menjadi juara umum. Walaupun nantinya tak tercapai, paling tidak sudah punya keberanian. Dan yang lebih penting, target yang tinggi merupakan sebuah apresiasi tersendiri bagi para atlet karena mereka dipercaya bisa berprestasi.(*)
Padahal, ajang kualifikasi adalah cermin menatap ajang sebenarnya. Ajang kualifikasi juga bisa diartikan sebagai proyeksi sebuah kontingen untuk mengukur kemampuan di ajang final, yakni Porda.
Dan perolehan 53 emas dari 50 emas yang ditargetkan Koni adalah angka realistis. Mestinya angka itu menjadi modal Koni untuk pasang target di Porda XI Juli mendatang. Paling tidak bertekad menyamai perolehan emas seperti di kualifikasi. Lebih bagus lagi jika lebih.
Alih-alih menetapkan target konkret, Ketua Harian II Koni Kota Bekasi, Eddie Prihadie, malah memasang target yang abstrak. Menurutnya, Koni menargetkan sukses ganda, yakni sukses dalam prestasi dan sukses memberdayakan masyarakat (Radar Bekasi, 1 Februari).
Sukses ganda itu jelas target abstrak. Atlet, saya yakin, akan kesulitan menerjemahkan sukses dalam prestasi maupun sukses memberdayakan masyarakat seperti yang dikatakan Eddie.
Sebagai salah satu petinggi Koni, Eddie seharusnya melemparkan target yang konkret. Ia tentu tahu kemampuan atlet binaannya. Apa salah dan susahnya menetapkan target yang konkret. Raihan 53 emas di ajang kualifikasi adalah konkret. Lalu kenapa Koni enggan menargetkan jumlah emas? Toh, saat kualifikasi saja sudah terbukti bahwa atlet Kota Bekasi bisa melampaui target.
Apalagi seluruh pengurus cabang olahraga yang berada di bawah naungan Koni sudah mempersiapkan atlet sejak setahun lalu. Dibentuk pula satuan petugas yang bertugas memantau siapa atlet yang pantas dan tidak pantas mewakili Kota Bekasi di ajang empat tahunan itu.
Ditambah, saat ini para atlet terus digembleng dalam pemusatan latihan cabang hingga Juni mendatang atau sebulan sebelum laga Porda. Persiapan yang lebih dari cukup untuk mengetahui kekuatan internal.
Target baru tersembul pada acara pengukuhan atlet pada 3 Februari lalu di Balai Patriot. Di hadapan 382 atlet yang akan diberangkatkan ke Porda XI/2010, Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad dalam sambutannya langsung memasang target konkret: 46 emas. Sedikit di bawah perolehan emas pada ajang kualifikasi.
Mochtar bahkan menjanjikan bonus Rp45 juta plus berangkat umroh bagi peraih emas. Jika benar Kota Bekasi mampu meraih sedikitnya 46 emas, berarti Pemkot Bekasi harus mengeluarkan Rp2,07 miliar. Itu belum termasuk biaya umroh untuk 46 orang yang bisa mencapai Rp506 juta (standar umroh adalah Rp11 juta). Bonus yang amat tinggi demi 46 emas atau menjadi lima besar.
Seharusnya, dengan bonus setinggi itu, Pemkot Bekasi juga berani menargetkan emas lebih banyak lagi. Jangan segan-segan memasang target menjadi juara umum. Walaupun nantinya tak tercapai, paling tidak sudah punya keberanian. Dan yang lebih penting, target yang tinggi merupakan sebuah apresiasi tersendiri bagi para atlet karena mereka dipercaya bisa berprestasi.(*)
Langganan:
Postingan (Atom)