Selama membela Persipasi Bekasi, Mardiansyah baru diturunkan dua kali. Ia kadung dibekap cedera lutut saat melawan mantan timnya Persikabo Bogor pada 29 November tahun lalu. Sejak saat itu, Mardi, sapaan Mardiansyah, hanya bisa duduk manis di tribun penonton.
Kedatangan Mardi di awal musim sempat menggelembungkan asa Persipasi untuk mengarungi Liga Joss Indonesia (Divisi Utama) untuk pertama kalinya. Apalagi pemain berusia 31 tahun ini datang dengan cap sebagai satu dari tiga top skor Divisi Utama musim 2008/2009 dengan 17 gol.
Lebih membanggakan lagi, ia adalah satu-satunya pemain asli Indonesia yang menjadi top skor. Dua yang lain adalah pemain impor, J.P. Boumsong (saat masih di Persikad Depok) dan Herman Dzumafo (PSPS Pekanbaru). Patut dicatat, Mardi juga merupakan pemain asli Bekasi. Ia adalah satu dari anak berbakat Bekasi yang bisa malang-melintang di persepakbolaan nasional.
Jadi, sudah garansi, jika Mardi dalam kondisi fit, ketajaman kakinya mampu meneror gawang tim lawan. Ia mungkin mampu membawa Persipasi bersaing dengan Semen Padang di puncak klasemen.
Namun, hingga memasuki putaran kedua, Mardi tak kunjung diturunkan. Sudah hampir tiga bulan aksinya hilang di lapangan. Persipasi praktis sangat kehilangan pemain serbabisa ini. Dan ketiadaannya membuat produktivitas gol Persipasi sangat kering. Ngevasi Gana yang diharapkan mampu mengisi kekosongan Mardi malah bermain mengecewakan. Permainannya ternyata tak sebagus badannya.
Di akhir putaran pertama, Persipasi hanya mampu parkir di peringkat keempat dengan torehan 12 gol dari 10 pertandingan. Ironisnya, setengah dari jumlah itu dicetak oleh Stephen Nagbe Mennoch, pemain yang berposisi sebagai gelandang.
Meraih posisi empat besar bagi tim promosi sebenarnya merupakan prestasi, tapi saya sebagai penggemar Persipasi, tentu kecewa. Dengan materi yang menggabungkan pemain muda dan pemain kawakan yang sudah merasakan aroma Timnas, Persipasi harusnya bersaing di tiga besar.
Asa kembali lewat di putaran kedua. Persipasi kedatangan mantan pencetak gol terbanyak, J.P. Boumsong. Mardi juga sudah mulai berlatih. Cedera lututnya sudah pulih total. Saya kembali membayangkan, jika kedua mantan top skor ini bermain bersamaan, Persipasi bisa jadi mampu menebar ancaman. Apalagi didukung lini tengah yang tangguh dengan datangnya dua pemain penuh determinasi Alex Robinson dan pemain muda berbakat Ruben Karel.
Dengan catatan, Mardi harus bisa keluar dari trauma pascacederanya. Warta enggan memasangnya jika Mardi masih ketakutan saat ia menguasai bola. Ini terlihat saat sesi latihan terakhir (15 Februari 2010) sebelum bertolak ke Riau untuk menghadapi Persih Tembilahan. Mardi terlihat masih ketakutan. Pergerakannya sangat hati-hati. Saat dimainkan dalam sesi small game, ia juga masih terlihat kikuk dan pertahanan dirinya berlebihan.
Wajar jika Mardi tak diikutsertakan ke Riau. Warta amat hafal efek traumatis setelah cedera. Ia dengan mantap mengambil keputusan untuk mengistirahatkan Mardi hingga dua pertandingan ke depan.
Lalu apakah Mardi bisa mengatasi traumanya? Saya jadi teringat saat dia bermain untuk Persikabo. Pergerakannya dinamis. Walaupun posisinya sebagai gelandang, ia mampu merangsek hingga ke kotak penalti lawan. Gol demi gol ia ciptakan melalui kaki, kepala, hingga tendangan bebasnya.
Tidak lupa, selepas mencetak gol, ia kerap mendatangi penonton. Saya mengartikan aksi itu adalah sebuah ucapan terima kasih dan pembuktian bahwa ia pantas berada di lapangan untuk mencetak gol. Penonton pun langsung gerr. Ia dipuja bak pahlawan. Itu adalah aksi Mardi saat bermain untuk tim di luar tanah kelahirannya.
Nah, sangat manja jika Mardi kalah oleh trauma. Apalagi saat ini ia bergabung dengan tim dari tanah kelahiran sendiri yang sudah lama merindukan kompetisi Liga Utama. Mardi bisa lebih dari sekadar menyingkirkan trauma pascacedera. Ia lahir untuk menciptakan gol demi gol.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar