Selalu ada kejutan dari Diego Armando Maradona. Di saat Jerman pusing memikirkan bagaimana menghentikan liukan Lionel Messi, Sang Legenda justru asyik memamah cerutu sambil memantau anak asuhnya berlatih.
Sebelumnya, ia juga dengan santai berkomentar pedas tentang para pemain Jerman. Thomas Mueller yang masih berusia 20 tahun ia pandang tak lebih sebagai pemungut bola. Ia bahkan enggan untuk satu meja dengan pemuda tanggung ini saat konferensi pers. “Saya baru akan duduk di sana (meja konferensi pers, red.) jika si ballboy itu sudah selesai meracau.”
Gaya intervensi yang sangat khas Argentina. Negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya nyaris sama dengan Indonesia ini terkenal dengan silat lidahnya. Tak jarang mereka menggunakan gesture untuk meyakinkan pernyataanya. Bahkan pemain Jerman mengatakan, pasukan Tango pintar mengintervensi wasit.
“Lihat saja bagaimana mereka ikut campur saat wasit sedang berdiskusi dengan hakim garis (saat mengesahkan gol Tevez ke gawang Meksiko). Keahlian mereka memang seperti itu. Yang penting, kita jangan sampai terprovokasi. Kita harus fokus pada pertandingan,” jelas Bastian Scweinsteiger.
Sepak bola memang sarat dengan intrik. Sedikit kita terprovokasi pernyataan orang, walaupun itu tak ada hubungannya dengan teknis bermain, hasil akan berubah. Lihat saja bagaimana cara Jerman (Barat) memanipulasi sedemikian rupa ulah pribadi Johan Cruyff di Piala Dunia 1974.
Majalah terbitan Jerman Barat, Bild, sehari menjelang pertandingan final Piala Dunia 1974 mengangkat artikel berjudul provokatif, ”Cruyff, Sampanye, dan Gadis-gadis Telanjang”. Di dalam artikel itu, Johan kedapatan berpesta dengan gadis cantik di pinggir kolam renang hotel tim Belanda menginap.
Cruyff yang dikenal sangat cinta terhadap keluarga tersentak. Alih-alih berkonsentrasi mempersiapkan diri jelang laga final, ia justru sibuk menelpon istrinya, Danny Coster. Ia berusaha agar istrinya tak mempercayai artikel itu.
Simon Kuper pada majalah FourFourTwo edisi Juli 2009 menguatkan temuan Bild. Mengutip saudara Cruyff, Hennie, FourFourTwo mengabarkan, dering telepon hampir semalaman terdengar. Dan inilah pangkal masalah yang membuatnya letoy di final.
Jerman Barat berhasil mengintervensi Belanda secara psikologis. Mereka juga berhasil menggondol tropi Piala Dunia kala itu. Inilah contoh sempurna betapa perang psikologis sangat berdampak pada teknis pertandingan. Belanda yang kala itu memiliki temuan strategi yang brilian lewat total football harus kalah di tangan Jerman yang pantang menyerah dengan pertahanan berlapis yang digalang Berti Vogts.
Perang klasik itu kembali dihadirkan di lapangan. Di tanah Afrika Selatan. Argentina lebih agresif memberikan tekanan psikologis. Jerman yang merasa sangat santun ketika menanggapi serangan Argentina, justru mengemas perang batin ini dengan cara-cara lain.
Jerman punya cara yang lebih baru dalam mengintervensi hati tim lawan. Lihat bagaimana mereka bisa membelokkan keputusan wasit saat bola hasil tendangan Frank lampard jatuh sekitar 90 sentimeter di dalam gawang Neuer. Cermati sikap Neuer yang seolah bola itu tak pernah masuk. Dengar pula pengakuannya seusai pertandingan. “Saya sebenarnya mengetahui bola itu masuk, tapi saya sengaja bersikap seolah-olah bola itu tak pernah melewati garis gawang.”
Jerman dan Argentina adalah dua negara yang memiliki teknik bermain sepak bola yang setara. Malam ini, mereka akan bertarung di atas lapangan Stadion Green Point, Cape Town. Wasit yang akan memimpin laga kedua negara ini adalah Ravshan Irmatov asal Uzbekistan. Salah satu jalan untuk bisa melaju ke semifinal adalah cara-cara licik. Intervensi.
Hati-hati Irmatov! Bisa-bisa Anda akan menjadi kartu As pemain dari kedua kubu ini untuk memenangi pertandingan. Maklum, keduanya sudah terbukti lihai memprovokasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar