Sabtu, 03 Juli 2010

Mencari Batang Hidung Cruyff

Dua hari kita puasa pertandingan Piala Dunia. Televisi dan surat kabar melulu menampilkan ulasan pertandingan perempat final yang akan dilangsungkan mulai hari ini. Sambil, tentu saja, menyertakan gosip-gosip sebagai bahan pembicaraan pemirsa maupun pembaca di tempat kerja atau warung kopi.

Malam ini, saatnya kita larut kembali pada pertandingan. Porsi begadang harus kembali kita ambil agar tak melewatkan diri menjadi saksi sejarah sepak bola.

Malam ini pula, Belanda dan Brazil akan berjibaku meraih satu tempat di semifinal. Informasi paling gres yang bisa memperpanas laga keduanya adalah semifinal Piala Dunia 1998 di Prancis. Saat itu Brazil menang dalam tos-tosan, 4-2.

Kekalahan menyakitkan itu tentu akan memantik Belanda dan jutaan rakyatnya mengunyah dendam. Untuk kemudian memuntahkannya saat pluit panjang.

Di kubu Brazil, buruan rekor akan menjadi pemantik mereka untuk mengukuhkan kedigdayaan di ajang sepak bola. Raihan enam kali jawara Piala Dunia adalah motivasi terbesar mereka. Para pendukungnya tak sungkan-sungkan membawa tulisan "Barzil,6" di setiap laga yang dimainkan Pasukan Dunga. Tulisan yang akan terus mengingatkan Kaka cs untuk tetap pada rel juara.

Kesamaan motivasi tentu akan menghadirkan drama yang menarik saat keduanya bertanding di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth. Inilah yang ditunggu seluruh pecinta sepak bola di dunia.

Namun, akan lebih menarik lagi jika kita menengok gosip yang berkembang sebelum keduanya bertanding.

Belanda yang sedari babak penyisihan bermain aman dan merebut semua kemenangan, diguncang dengan pernyataan Robin Van Persie. Saat Pelatih Belanda Bert Van Marwijk menggantinya di 10 menit terakhir saat Belanda bertemu Slovakia, Robin tak rela. Sekonyong-konyong striker klub Arsenal ini melontarkan emosi dengan menyatakan bahwa rekannya Sneijder-lah yang layak diganti.

"Sneijder bermain lebih buruk dari diriku, tapi kenapa aku yang ditarik. Padahal aku sudah melihat rekahan-rekahan di barisan pertahanan Slovakia dan siap untuk mencetak gol."

Komentar Robin itu tertangkap mata dan telinga kamera dan langsung menyebar di surat kabar-surat kabar Belanda.

Publik Belanda kembali cemas. Memori buruk pertikaian internal jelang laga penting kerap membuat tim ini kalah.

Ingat bagaimana konflik antara pelatih Belanda sebelumnya, Guus Hiddink, yang bersitegang dengan Edgar David di Euro 1996. David yang kala itu menghina Hiddink saat konferensi pers langsung dipulangkan. Hasilnya, Belanda tersingkir.

Juga konflik Marco Van Basten saat mengarsiteki Belanda di Piala Dunia 2006. Ia berkonflik dengan Van Bommel, Seedorf, dan si bengal Ruud Van Nistelrooy. Ujung-ujungnya juga tersingkir.

Jelang kontra Brazil, konflik kembali pecah. Pemicunya Arogansi Persie. Lebih pelik lagi, konflik Persie dan Sneijder sudah menahun. Keduanya juga sempat bersitegang saat tragedi adu mulut yang memperebutkan siapa yang berhak mengeksekusi bola mati di sebuah laga Euro 2008. Belanda akhirnya tersingkir karena kalah dari Rusia.

Apakah ini sinyal kejatuhan kembali Belanda? Sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Yang jelas Marwijk sudah buru-buru menyatukan kompatriotnya dengan pertemuan intensif. Ia bahkan memanggil Persie-Sneijder untuk berbicara enam mata.

Beralih ke kubu Brazil. Di tim ini memang tak terdengar konflik internal, namun beberapa punggawanya digosipkan cedera. Gelandang bertahan andalan mereka Felipe Melo diragukan tampil. Juga tandem Kaka di lini tengah, Elano. Pemain Galatasaray ini divonis menderita cedera engkel kiri. Tulangnya tergores. Sebuah cedera yang langka diderita pesepakbola.

Ada lagi yang patut dicatat di sini. Pernyataan legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff, tiba-tiba mengusik skuadBrazil. Ia semena-mena menyatakan permainan Brazil tak layak tonton. Ia bahkan tak tertarik menyaksikan laga Brazil. "Saya tak akan pernah membeli tiket menonton pertandingan Brazil."

Pernyataan ini unik karena jauh-jauh hari Cruyff juga mempertanyakan filosofi sepak bola yang lama digoreng Belanda: total football. Ia kecewa Marwijk mengkhianatinya.

Dan saya ragu Cruyff tak mau menonton laga Brazil lawan Belanda. Diam-diam, mata kamera pasti akan mencari-cari di mana Cruyff kedapatan serius menonton pertandingan ini.(wandiudara.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar