Belanda menjadi salah satu tim Eropa yang jauh dari rongrongan kritik. Walaupun sempat dihujat karena mengkhianati filosifi total football, mereka masih bermain baik dengan tiga kemenangan beruntun di penyisihan Grup E Piala Dunia 2010. Bandingkan dengan dua finalis Piala Dunia 2006, Prancis dan Italia yang tersingkir di babak penyisihan.
Tiga kemenangan juga membuat Belanda menjadi tim yang paling diharapkan publik Eropa untuk mempertahankan kedigdayaan Eropa di kancah sepak bola. Inggris dan Jerman memang melaju ke babak 16 besar, tapi keduanya sempat kalah dan menjadi sasaran kritik di negaranya.
Kekhawatiran lain publik pecinta sepak bola Eropa adalah, dari 13 negara Eropa yang menjadi peserta Piala Dunia 2010, hanya enam negara yang lolos ke 16 besar. Mereka adalah Inggris (Grup C), Jerman (Grup D), Belanda (Grup E), Slovakia (Grup F), Portugal (Grup G), dan Spanyol (Grup H).
Di perempat final, jumlah tim Eropa praktis tinggal tiga negara karena keenam negara itu sudah saling jegal di 16 besar. Inggris v Jerman, Belanda v Slovakia, serta Portugal v Spanyol. Bandingkan saat Piala Dunia 2006 yang berlangsung di Jerman. Tim Eropa yang berhasil melaju ke perempat final ada enam negara. Dan negara Eropa pula yang akhirnya menjadi juara setelah menempatkan Italia dan Prancis (dua negara Eropa) di final.
Kondisi ini bertolak belakang dengan tim dari Amerika Selatan. Semua wakilnya lolos dari penyisihan grup. Brasil, Cile, Paraguay, Argentina, dan Uruguay melaju mulus ke 16 besar. Bahkan Uruguay sudah pesan kursi di perempat final setelah mengandaskan salah satu wakil Asia, Korea Selatan. Tulisan ini belum termasuk pertandingan antara Argentina v Meksiko yang bertanding dini hari tadi.
Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke mengakui bahwa tim Eropa memang sedang dalam kurva menurun. Valcke yakin, babak penyisihan grup mencerminkan betapa keroposnya sepak bola Eropa. “Memang mereka mempunyai kompetisi lokal yang berjalan panjang, namun kenyataannya mereka tidak mendominasi.”
Seorang pengamat sepak bola dari Australia, Les Murray, pun percaya, Piala Dunia kali ini bisa menjadi titik kejatuhan sepak bola Eropa. Apalagi jika tim Eropa tak mampu menjuarai Piala Dunia kali ini. Kutukan bahwa negara-negara Eropa tak bisa juara di luar benua mereka, semakin benar adanya.
Kembali ke awal tulisan, Belanda sepertinya layak menjadi Robin Hood bagi tim-tim Eropa. Mereka punya kans untuk bisa mempertahankan kedigdayaan sepak bola Eropa di mata dunia. Walaupun punya kelemahan karena belum sekali pun menjuarai Piala Dunia, setidaknya Van Persie dkk bisa berkaca pada kegagalan.
Tanda-tanda lain bahwa Belanda yang harus dipilih sebagai penyelamat Eropa adalah gol yang dicetak Klaas Jan Huntelaar menjelang injury time ke gawang Kamerun. Gol tersebut semacam sinyal bahwa para sinyo Belanda punya semangat juang tinggi sebelum pluit panjang dibunyikan.
Malam ini, perjuangan Belanda menjadi Robin Hood dimulai saat melawan Slovakia. Vladimir Weiss sebagai pelatih mampu menyatukan anak-anak Slovakia menjadi tim debutan yang sukses melenggang ke Piala Dunia. Prestasi monumental mereka semakin mentereng karena berhasil mengalahkan Italia di laga terakhir babak penyisihan. Sempat menjadi negara yang paling tak berpeluang lolos dari Grup F, mereka justru bisa keluar dari lubang jarum.
Melawan Belanda, bekal Slovakia tak terlalu banyak. Dari empat gol yang disarangkan (tiga di antaranya oleh Robert Vittek), Slovakia hanya mampu melakukan usaha tendangan sebanyak delapan kali. Bandingkan dengan Belanda yang menendang sebanyak 20 kali.
Dan yang patut diwaspadai Belanda adalah serangan balik Hamsik dkk. Selain pertahanan mereka yang kokoh di bawah kendali Martin Skrtel, lini depannya juga jitu memanfaatkan kelengahan lawan.
Jika bisa melewati Slovakia dan (kemungkinan) mengalahkan Brazil di perempat final, Belanda semakin mungkin menjadi pencipta sejarah Eropa. Lebih dari itu, mereka pun bisa menjadi penyelamat Eropa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar