Lagi-lagi pasal KUHP. Lagi-lagi anak-anak diperlakukan seperti orang dewasa. Tiga hari lalu lima anak diadili di Pengadilan Negeri Bekasi. Mereka disidang atas tuduhan menghilangkan nyawa anak lain pada sebuah tawuran di malam suci Ramadan di Perumahan Jaladapura, Margahayu, Bekasi Timur pada 31 Agustus 2009.
Atas perbuatan itu, jaksa menjerat mereka dengan dua pasal KUHP, yakni pasal 170 dan pasal 359. Kelimanya terancam lima tahun penjara. Kelimanya juga terancam kehilangan masa depan.
Memang ulah lima anak yang mengikat ujung sarung tarawih dan memukulkannya saat tawuran menyebabkan kematian, tapi mengapa harus dijerat pasal pidana? Status mereka masih di bawah umur. Masih berseragam putih-merah pula. Polisi juga secara serampangan sempat membui mereka selama lima hari di Polsek Medan Satria.
Masih belum hilang dalam ingatan ketika seorang bocah yang juga seumuran lima bocah asal Bekasi itu, divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Surabaya. Ia yang baru mengenyam bangku kelas 3 SDN Dr Sutomo, Surabaya, harus bolak-balik pengadilan untuk mengikuti persidangan. Padahal, kasusnya sepele, hanya iseng menempelkan seekor lebah pada pipi teman perempuannya saat pulang sekolah.
Hanya karena orang tua si korban adalah seorang komisaris polisi di Kepolisian Daerah Jawa Timur, bocah ini dilaporkan. Kasusnya kemudian diproses ke pengadilan sebagai tindak penganiayaan.
Dan pada 1 Februari lalu bocah ini divonis bersalah. Ia memang tak dipenjara. Hukumannya pun hanya dikembalikan ke orang tuanya untuk dididik lebih baik. Tapi, efek traumatis akan terus melingkupi dia hingga akhir hayatnya. Masa depannya bisa jadi koyak
Hal yang lebih berat mungkin akan diterima lima bocah asal Bekasi yang menjadi terdakwa pembunuhan. Padahal, sebelum kasus ini masuk meja kepolisian dan kejaksaan, pihak keluarga korban sudah menyatakan tidak akan menindaklanjuti kasus itu ke meja hijau (Radar Bekasi, 5 Februari).
Toh, sekarang kelima bocah itu sudah disidang. Jaksa penuntut umum bahkan mengancam mereka dengan ancaman pidana kurungan lima tahun penjara.
Polisi dan jaksa sangat serampangan dalam hal ini. Kedua institusi ini seharusnya tak langsung memidanakan mereka. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pengadilan Anak disebutkan bahwa pengadilan adalah institusi terakhir untuk mengeksekusi mereka.
Di Pasal 5 ayat 2 UU itu tertera bahwa penyidik harus benar-benar meneliti dulu kasus itu. Jika memang mereka masih bisa dibina orang tuanya, janganlah langsung ditetapkan sebagai tersangka. Kalau pun perbuatan mereka sedikit keterlaluan, tengok ayat 3. Di situ disebutkan bahwa lebih baik mereka dimasukkan ke Departemen Sosial untuk dibina daripada dilimpahkan ke pengadilan.
Dengan demikian, seharusnya penyidik mengunakan kewenangan diskresi (penyelesaian perkara tanpa proses pemidanaan) dalam kasus ini. Apalagi pihak keluarga korban sudah bersedia membuka pintu perdamaian.
Di lain pihak, orang dewasa, dalam hal ini orang tua anak, seharusnya juga bisa memberi rambu-rambu terhadap pergaulan anak-anaknya. Anak-anak butuh perhatian. Anak-anak juga punya logika sendiri yang perlu dipahami orang dewasa, bukan diadili.
Pengarang Perancis, Antoine de Saint Exupéry, dalam novelet Le Petit Prince (Pangeran Kecil) pernah membuat perumpaman cerdas untuk memahami keinginan bocah. Sang pengarang menunjukkan sebuah gambar multitafsir. Orang dewasa menganggap gambar itu sebuah topi, sedangkan anak-anak berimajinasi bahwa gambar itu adalah seekor ular yang sudah memakan gajah.(*)
Jumat, 05 Februari 2010
Persipasi, Lokomotif Pembakar Semangat
Bertengger di peringkat empat wilayah I Divisi Utama (Liga Joss Indonesia) merupakan prestasi tersendiri bagi Persipasi Kota Bekasi. Apalagi Laskar Patriot merupakan tim pendatang baru di kompetisi level kedua nasional ini.
Bandingkan dengan tim sewilayah macam Persita dan PSMS yang notabene pernah merasakan atmosfer kompetisi tertinggi di Indonesia. Persipasi hanya kalah satu poin dari Pendekar Cisadane dan unggul jauh dari tim Medan (5 poin) yang diarsiteki pelatih berpengalaman Suimin Diharja.
Semua berkat sentuhan magis dari Warta Kusuma bersama jajaran pelatih lain. Berlatar sebagai warga Bekasi asli yang peduli persepakbolaan Bekasi, Warta menyulap Persipasi menjadi tim yang disegani. Catatan enam kali menang (termasuk lawan Persita dan PSMS) dan empat kali kalah merupakan prestasi tersendiri bagi pelatih yang pernah menangani Perserang Serang ini.
Parkir di peringkat empat tentunya membuat bangga warga Bekasi yang sudah lama haus pada prestasi sepak bola lokal. Keberadaan Persipasi membuat mereka kembali berbondong-bondong datang ke Stadion Patriot.
Warga berbaur. Bagi warga yang sudah uzur, mereka bisa bernostalgia lagi dengan masa-masa emas sepak bola Bekasi. Sementara warga yang masih muda, mereka berteriak kegirangan sambil bermimpi timnya melangkah jauh menembus Indonesia Super Liga (ISL), kontes sepak bola tertinggi di tanah air.
Kehadiran Persipasi memang menjadi alternatif keguyuban masyarakat di tengah sumpeknya situasi Kota Bekasi yang semakin padat dengan bangunan-bangunan menjulang tinggi.
Semangat warga Bekasi ini tentu harus dimanfaatkan betul manajemen Persipasi untuk bisa lebih bertenaga lagi tampil di putaran kedua Divisi Utama yang akan berlangsung awal Februari ini. Kemenangan demi kemenangan harus ditorehkan agar Persipasi bisa menduduki peringkat pertama dan berpromosi ke ISL.
Dan yang harus buru-buru dibenahi Persipasi adalah rekor tandang mereka di putaran pertama. Dari empat laga tandang, Persipasi hanya berhasil meraih tiga poin dari satu kemenangan melawan PSDS Deli Serdang. Ini tentu harus segera dibenahi. Apalagi di putaran kedua Persipasi lebih banyak bertanding di luar kandang (6 laga).
Sementara untuk empat laga kandang di putaran kedua nanti, Persipasi wajib menang. Modal lima kemenangan dari enam laga di putaran pertama harus dijadikan pengalaman yang positif bagi Laskar Patriot.
Jika skenario ini bisa terlaksana, niscaya Persipasi akan berjalan tegak menuju kompetisi tertinggi di Indonesia. Lebih dari itu, Persipasi juga punya andil membakar semangat masyarakat Bekasi untuk bertarung gigih demi mengembangkan prestasi. Selamat berjuang, Persipasi.(*)
Bandingkan dengan tim sewilayah macam Persita dan PSMS yang notabene pernah merasakan atmosfer kompetisi tertinggi di Indonesia. Persipasi hanya kalah satu poin dari Pendekar Cisadane dan unggul jauh dari tim Medan (5 poin) yang diarsiteki pelatih berpengalaman Suimin Diharja.
Semua berkat sentuhan magis dari Warta Kusuma bersama jajaran pelatih lain. Berlatar sebagai warga Bekasi asli yang peduli persepakbolaan Bekasi, Warta menyulap Persipasi menjadi tim yang disegani. Catatan enam kali menang (termasuk lawan Persita dan PSMS) dan empat kali kalah merupakan prestasi tersendiri bagi pelatih yang pernah menangani Perserang Serang ini.
Parkir di peringkat empat tentunya membuat bangga warga Bekasi yang sudah lama haus pada prestasi sepak bola lokal. Keberadaan Persipasi membuat mereka kembali berbondong-bondong datang ke Stadion Patriot.
Warga berbaur. Bagi warga yang sudah uzur, mereka bisa bernostalgia lagi dengan masa-masa emas sepak bola Bekasi. Sementara warga yang masih muda, mereka berteriak kegirangan sambil bermimpi timnya melangkah jauh menembus Indonesia Super Liga (ISL), kontes sepak bola tertinggi di tanah air.
Kehadiran Persipasi memang menjadi alternatif keguyuban masyarakat di tengah sumpeknya situasi Kota Bekasi yang semakin padat dengan bangunan-bangunan menjulang tinggi.
Semangat warga Bekasi ini tentu harus dimanfaatkan betul manajemen Persipasi untuk bisa lebih bertenaga lagi tampil di putaran kedua Divisi Utama yang akan berlangsung awal Februari ini. Kemenangan demi kemenangan harus ditorehkan agar Persipasi bisa menduduki peringkat pertama dan berpromosi ke ISL.
Dan yang harus buru-buru dibenahi Persipasi adalah rekor tandang mereka di putaran pertama. Dari empat laga tandang, Persipasi hanya berhasil meraih tiga poin dari satu kemenangan melawan PSDS Deli Serdang. Ini tentu harus segera dibenahi. Apalagi di putaran kedua Persipasi lebih banyak bertanding di luar kandang (6 laga).
Sementara untuk empat laga kandang di putaran kedua nanti, Persipasi wajib menang. Modal lima kemenangan dari enam laga di putaran pertama harus dijadikan pengalaman yang positif bagi Laskar Patriot.
Jika skenario ini bisa terlaksana, niscaya Persipasi akan berjalan tegak menuju kompetisi tertinggi di Indonesia. Lebih dari itu, Persipasi juga punya andil membakar semangat masyarakat Bekasi untuk bertarung gigih demi mengembangkan prestasi. Selamat berjuang, Persipasi.(*)
Ambisi di Ruang Sunyi
Saya membayangkan Bambang Pamungkas langsung menyambar laptop begitu selesai mandi usai membela Tim Nasional atau Persija. Walaupun keringatnya belum kering benar dan masih terus-menerus keluar dijidat, ia antusias menulis di situs pribadinya.
Bambang memang seorang yang pendiam di kalangan wartawan. Ia dikenal sebagai pemain yang pelit ngomong atau komentar. Akibat ulahnya, banyak wartawan yang sinis padanya. Bambang kerap langsung masuk ke ruang ganti jika pertandingan usai, baik ketika timnya menang (dan dia mencetak gol) maupun saat timnya kalah dan permainannya dicemooh penonton.
Tapi di dunia maya mantan pemain yang pernah merasakan Divisi III Liga Belanda ini cerewet. Informasi yang ia berikan bahkan jauh dari sebatas menjawab pertanyaan wartawan. Pernyataannya menembus dinding-dinding ruang ganti. Tak jarang membuka kegelisahan pribadi teman-temannya. Data yang notabene sulit diperoleh wartawan.
Dan bertolak belakang dari pandangan miring pengkritiknya, nasionalisme Bambang sangat terasa. Ia rela dicaci ketika Timnas harus pulang lebih awal di semua ajang internasional yang diikutinya. Bambang tetap tegar dan percaya bahwa nasionalisme tidak lahir dari pemujaan dan sorak-sorai penonton. Nasionalisme justru lahir di dalam lubuknya. Di dua kakinya.
Masih dalam tulisan yang tercecer di bambangpamungkas20.com, BP pun rela ketika “bapaknya” sendiri (Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid) menyalahkan pemain atas kegagalan Timnas menembus Piala Asia baru-baru ini. Walaupun pahit, Bambang menerima kritikan itu. Dan ia hanya berharap seluruh pencinta sepak bola Indonesia bisa introspeksi diri. Inilah kebesaran hati Bambang.
Atas dasar kebanggaan pada tanah kelahiran pula Supriadi punya spirit yang sama dengan Bambang. Pelatih Persikasi Kabupaten Bekasi ini mampu membawa anak-anak muda yang sebagian besar warga Bekasi bisa menggenggam tropi juara Divisi II. Padahal, sebelumnya tidak banyak yang menaruh harap pada Persikasi di ajang kompetisi kasta empat di Indonesia ini. Jangankan harap, melirik saja enggan karena memandang rendah kasta kompetisi.
Supriadi seakan tak peduli dengan itu semua. Ia jalan terus. Ia hanya peduli pada anak-anak muda Bekasi yang lebih punya harapan. Ia asah mereka.
Sejatinya, Divisi II adalah kompetisi untuk para pemain yang masih setengah jadi: kompetisi untuk usia di bawah 23 tahun. Inilah titik pijak Supriadi. Ia tidak ingin anak-anak setengah matangnya membusuk. Ia ingin matangkan mereka agar mereka punya masa depan di jagad sepak bola.
Dan hanya melalui juaralah Supriadi bisa mengapungkan harapan mereka. Ternyata kerja kerasnya berhasil. Sanjungan, tepuk tangan, hingga dukungan datang kemudian. Mantan pengamen jalanan yang pernah hampir putus asa itu lagi-lagi membuktikan bahwa nasionalisme tidak abstrak. Ia konkret ketika dibenturkan dengan kerja keras. Sekali lagi, bukan dengan sanjungan dan sorak-sorai.(*)
Bambang memang seorang yang pendiam di kalangan wartawan. Ia dikenal sebagai pemain yang pelit ngomong atau komentar. Akibat ulahnya, banyak wartawan yang sinis padanya. Bambang kerap langsung masuk ke ruang ganti jika pertandingan usai, baik ketika timnya menang (dan dia mencetak gol) maupun saat timnya kalah dan permainannya dicemooh penonton.
Tapi di dunia maya mantan pemain yang pernah merasakan Divisi III Liga Belanda ini cerewet. Informasi yang ia berikan bahkan jauh dari sebatas menjawab pertanyaan wartawan. Pernyataannya menembus dinding-dinding ruang ganti. Tak jarang membuka kegelisahan pribadi teman-temannya. Data yang notabene sulit diperoleh wartawan.
Dan bertolak belakang dari pandangan miring pengkritiknya, nasionalisme Bambang sangat terasa. Ia rela dicaci ketika Timnas harus pulang lebih awal di semua ajang internasional yang diikutinya. Bambang tetap tegar dan percaya bahwa nasionalisme tidak lahir dari pemujaan dan sorak-sorai penonton. Nasionalisme justru lahir di dalam lubuknya. Di dua kakinya.
Masih dalam tulisan yang tercecer di bambangpamungkas20.com, BP pun rela ketika “bapaknya” sendiri (Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid) menyalahkan pemain atas kegagalan Timnas menembus Piala Asia baru-baru ini. Walaupun pahit, Bambang menerima kritikan itu. Dan ia hanya berharap seluruh pencinta sepak bola Indonesia bisa introspeksi diri. Inilah kebesaran hati Bambang.
Atas dasar kebanggaan pada tanah kelahiran pula Supriadi punya spirit yang sama dengan Bambang. Pelatih Persikasi Kabupaten Bekasi ini mampu membawa anak-anak muda yang sebagian besar warga Bekasi bisa menggenggam tropi juara Divisi II. Padahal, sebelumnya tidak banyak yang menaruh harap pada Persikasi di ajang kompetisi kasta empat di Indonesia ini. Jangankan harap, melirik saja enggan karena memandang rendah kasta kompetisi.
Supriadi seakan tak peduli dengan itu semua. Ia jalan terus. Ia hanya peduli pada anak-anak muda Bekasi yang lebih punya harapan. Ia asah mereka.
Sejatinya, Divisi II adalah kompetisi untuk para pemain yang masih setengah jadi: kompetisi untuk usia di bawah 23 tahun. Inilah titik pijak Supriadi. Ia tidak ingin anak-anak setengah matangnya membusuk. Ia ingin matangkan mereka agar mereka punya masa depan di jagad sepak bola.
Dan hanya melalui juaralah Supriadi bisa mengapungkan harapan mereka. Ternyata kerja kerasnya berhasil. Sanjungan, tepuk tangan, hingga dukungan datang kemudian. Mantan pengamen jalanan yang pernah hampir putus asa itu lagi-lagi membuktikan bahwa nasionalisme tidak abstrak. Ia konkret ketika dibenturkan dengan kerja keras. Sekali lagi, bukan dengan sanjungan dan sorak-sorai.(*)
Langganan:
Postingan (Atom)