Jumat, 05 Februari 2010

Ambisi di Ruang Sunyi

Saya membayangkan Bambang Pamungkas langsung menyambar laptop begitu selesai mandi usai membela Tim Nasional atau Persija. Walaupun keringatnya belum kering benar dan masih terus-menerus keluar dijidat, ia antusias menulis di situs pribadinya.

Bambang memang seorang yang pendiam di kalangan wartawan. Ia dikenal sebagai pemain yang pelit ngomong atau komentar. Akibat ulahnya, banyak wartawan yang sinis padanya. Bambang kerap langsung masuk ke ruang ganti jika pertandingan usai, baik ketika timnya menang (dan dia mencetak gol) maupun saat timnya kalah dan permainannya dicemooh penonton.

Tapi di dunia maya mantan pemain yang pernah merasakan Divisi III Liga Belanda ini cerewet. Informasi yang ia berikan bahkan jauh dari sebatas menjawab pertanyaan wartawan. Pernyataannya menembus dinding-dinding ruang ganti. Tak jarang membuka kegelisahan pribadi teman-temannya. Data yang notabene sulit diperoleh wartawan.

Dan bertolak belakang dari pandangan miring pengkritiknya, nasionalisme Bambang sangat terasa. Ia rela dicaci ketika Timnas harus pulang lebih awal di semua ajang internasional yang diikutinya. Bambang tetap tegar dan percaya bahwa nasionalisme tidak lahir dari pemujaan dan sorak-sorai penonton. Nasionalisme justru lahir di dalam lubuknya. Di dua kakinya.

Masih dalam tulisan yang tercecer di bambangpamungkas20.com, BP pun rela ketika “bapaknya” sendiri (Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid) menyalahkan pemain atas kegagalan Timnas menembus Piala Asia baru-baru ini. Walaupun pahit, Bambang menerima kritikan itu. Dan ia hanya berharap seluruh pencinta sepak bola Indonesia bisa introspeksi diri. Inilah kebesaran hati Bambang.

Atas dasar kebanggaan pada tanah kelahiran pula Supriadi punya spirit yang sama dengan Bambang. Pelatih Persikasi Kabupaten Bekasi ini mampu membawa anak-anak muda yang sebagian besar warga Bekasi bisa menggenggam tropi juara Divisi II. Padahal, sebelumnya tidak banyak yang menaruh harap pada Persikasi di ajang kompetisi kasta empat di Indonesia ini. Jangankan harap, melirik saja enggan karena memandang rendah kasta kompetisi.

Supriadi seakan tak peduli dengan itu semua. Ia jalan terus. Ia hanya peduli pada anak-anak muda Bekasi yang lebih punya harapan. Ia asah mereka.

Sejatinya, Divisi II adalah kompetisi untuk para pemain yang masih setengah jadi: kompetisi untuk usia di bawah 23 tahun. Inilah titik pijak Supriadi. Ia tidak ingin anak-anak setengah matangnya membusuk. Ia ingin matangkan mereka agar mereka punya masa depan di jagad sepak bola.

Dan hanya melalui juaralah Supriadi bisa mengapungkan harapan mereka. Ternyata kerja kerasnya berhasil. Sanjungan, tepuk tangan, hingga dukungan datang kemudian. Mantan pengamen jalanan yang pernah hampir putus asa itu lagi-lagi membuktikan bahwa nasionalisme tidak abstrak. Ia konkret ketika dibenturkan dengan kerja keras. Sekali lagi, bukan dengan sanjungan dan sorak-sorai.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar