Senin, 28 Juni 2010

Menanti Robin Hood Eropa

Belanda menjadi salah satu tim Eropa yang jauh dari rongrongan kritik. Walaupun sempat dihujat karena mengkhianati filosifi total football, mereka masih bermain baik dengan tiga kemenangan beruntun di penyisihan Grup E Piala Dunia 2010. Bandingkan dengan dua finalis Piala Dunia 2006, Prancis dan Italia yang tersingkir di babak penyisihan.

Tiga kemenangan juga membuat Belanda menjadi tim yang paling diharapkan publik Eropa untuk mempertahankan kedigdayaan Eropa di kancah sepak bola. Inggris dan Jerman memang melaju ke babak 16 besar, tapi keduanya sempat kalah dan menjadi sasaran kritik di negaranya.

Kekhawatiran lain publik pecinta sepak bola Eropa adalah, dari 13 negara Eropa yang menjadi peserta Piala Dunia 2010, hanya enam negara yang lolos ke 16 besar. Mereka adalah Inggris (Grup C), Jerman (Grup D), Belanda (Grup E), Slovakia (Grup F), Portugal (Grup G), dan Spanyol (Grup H).

Di perempat final, jumlah tim Eropa praktis tinggal tiga negara karena keenam negara itu sudah saling jegal di 16 besar. Inggris v Jerman, Belanda v Slovakia, serta Portugal v Spanyol. Bandingkan saat Piala Dunia 2006 yang berlangsung di Jerman. Tim Eropa yang berhasil melaju ke perempat final ada enam negara. Dan negara Eropa pula yang akhirnya menjadi juara setelah menempatkan Italia dan Prancis (dua negara Eropa) di final.

Kondisi ini bertolak belakang dengan tim dari Amerika Selatan. Semua wakilnya lolos dari penyisihan grup. Brasil, Cile, Paraguay, Argentina, dan Uruguay melaju mulus ke 16 besar. Bahkan Uruguay sudah pesan kursi di perempat final setelah mengandaskan salah satu wakil Asia, Korea Selatan. Tulisan ini belum termasuk pertandingan antara Argentina v Meksiko yang bertanding dini hari tadi.

Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke mengakui bahwa tim Eropa memang sedang dalam kurva menurun. Valcke yakin, babak penyisihan grup mencerminkan betapa keroposnya sepak bola Eropa. “Memang mereka mempunyai kompetisi lokal yang berjalan panjang, namun kenyataannya mereka tidak mendominasi.”

Seorang pengamat sepak bola dari Australia, Les Murray, pun percaya, Piala Dunia kali ini bisa menjadi titik kejatuhan sepak bola Eropa. Apalagi jika tim Eropa tak mampu menjuarai Piala Dunia kali ini. Kutukan bahwa negara-negara Eropa tak bisa juara di luar benua mereka, semakin benar adanya.

Kembali ke awal tulisan, Belanda sepertinya layak menjadi Robin Hood bagi tim-tim Eropa. Mereka punya kans untuk bisa mempertahankan kedigdayaan sepak bola Eropa di mata dunia. Walaupun punya kelemahan karena belum sekali pun menjuarai Piala Dunia, setidaknya Van Persie dkk bisa berkaca pada kegagalan.

Tanda-tanda lain bahwa Belanda yang harus dipilih sebagai penyelamat Eropa adalah gol yang dicetak Klaas Jan Huntelaar menjelang injury time ke gawang Kamerun. Gol tersebut semacam sinyal bahwa para sinyo Belanda punya semangat juang tinggi sebelum pluit panjang dibunyikan.

Malam ini, perjuangan Belanda menjadi Robin Hood dimulai saat melawan Slovakia. Vladimir Weiss sebagai pelatih mampu menyatukan anak-anak Slovakia menjadi tim debutan yang sukses melenggang ke Piala Dunia. Prestasi monumental mereka semakin mentereng karena berhasil mengalahkan Italia di laga terakhir babak penyisihan. Sempat menjadi negara yang paling tak berpeluang lolos dari Grup F, mereka justru bisa keluar dari lubang jarum.

Melawan Belanda, bekal Slovakia tak terlalu banyak. Dari empat gol yang disarangkan (tiga di antaranya oleh Robert Vittek), Slovakia hanya mampu melakukan usaha tendangan sebanyak delapan kali. Bandingkan dengan Belanda yang menendang sebanyak 20 kali.

Dan yang patut diwaspadai Belanda adalah serangan balik Hamsik dkk. Selain pertahanan mereka yang kokoh di bawah kendali Martin Skrtel, lini depannya juga jitu memanfaatkan kelengahan lawan.

Jika bisa melewati Slovakia dan (kemungkinan) mengalahkan Brazil di perempat final, Belanda semakin mungkin menjadi pencipta sejarah Eropa. Lebih dari itu, mereka pun bisa menjadi penyelamat Eropa.

Minggu, 27 Juni 2010

Menjinakkan Kick and Rush

Legenda hidup sepak bola Jerman Franz Beckenbauer sangat berharap pertemuan Jerman dengan Inggris di 16 besar Piala Dunia 2010 berakhir seri. Tak peduli berapa gol yang tercipta. Der Kaizer ingin agar pertandingan diakhiri dengan adu penalti. Dan tentu saja, Jerman yang menang seperti di Piala Dunia 1990 dan Piala Eropa 1996.

Franz sebelumnya sempat syok, Jerman dan Inggris harus bertemu lebih awal. Maklum, rivalitas kedua tim sudah melengenda sejak 1966. Saking tegangnya, ia sempat melontarkan kata-kata ‘bodoh’ untuk Inggris. Menurutnya, Inggris belum pantas bertemu lebih awal dengan negaranya. Ia memaki Inggris tak bermain bagus di penyisihan grup dan hanya bisa lolos sebagai runner up.

Tentu saja pernyataannya itu adalah sinyal ketakutan. Walaupun dia akhirnya meminta maaf atas perkataannya dan berbalik menyanjung kehebatan sepak bola Inggris, tetap saja kekhawatiran Jerman tetap kentara.

Di lain pihak, Inggris tak ikut larut dalam pernyataan provokatif Franz. Pelatih Inggris Fabio Capello justru punya keyakinan tim asuhannya akan menang. Salah satu yang membuatnya optimis adalah kemenangan Inggris saat laga persahabatan di kandang Jerman pada November 2008. Saat itu Inggris mempermalukan Jerman di kandangnya sendiri, di Berlin, 2-0.

Kiper Inggris David James, yang belakangan tampil bagus juga menanggapi pernyataan Franz dengan tenang. Walaupun Inggris hanya bisa lolos dengan dua gol, James yakin pertandingan tidak akan berakhir lewat adu penalti. “Jelas kami lebih baik dari Jerman dan ingin mengalahkan mereka untuk kebahagiaan rakyat Inggris,” katanya.

Kalau Capello berkaca pada kemenangan di laga persahabatan, James juga berkaca atas kemenangan Inggris di laga kualifikasi Piala Dunia pada 2001. Inggris menang besar 5-1, juga di kandang Jerman di Stadion Olympic.

Seiring berkembangnya permainan Inggris, Wayne Rooney justru menjadi sorotan. Ia tak juga mampu mencetak gol. Namun, saat laga terakhir melawan Slovenia, ia sudah mulai bermain ngotot. Temannya di Manchester United, Nemanja Vidic, yakin Rooney akan kembali. Entah saat melawan Jerman atau pada laga selanjutnya jika Inggris melaju.

“Jika Rooney meledak pada partai melawan Jerman, saya yakin dia akan menjadi pemain terbaik di Piala Dunia kali ini,” kata James yakin. Walaupun Vidic tak menyatakan itu, dari pernyataannya tersirat harapan serupa.

Kondisi Jerman justru lebih baik dari segi kemampuan pemain. Di tim ini, tak ada pemain yang sangat diharapkan untuk mengangkat performa tim seperti Rooney. Pelatih Jerman Joachim Loew mampu membuat kemampuan semua pemainnya merata. Adapun yang menonjol, mereka tak terlalu menjadi kunci yang tak tergantikan. Sebagai contoh, saat performa Miraslav Klose sedang turun, Jerman punya pengganti yang sepadan lewat pemain muda, Cacau. Begitupula saat lini depan Jerman mandek. Pemain tengah macam Mesut Ozil mampu mengeluarkan Der Panzer dari kebuntuan.

Fakta bahwa Jerman meniru gaya Inggris juga menarik diangkat. Mantan duet Loew, Klinsmann, mengakui bahwa Jerman menerapkan permainan gaya Inggris. Keduanya sering menonton Liga Premier dan kerap mengobrol tentang gaya permainan cepat dan umpan-umpan lambung akurat.

Dan pada pertandingan di babak penyisihan, Jerman justru tampil lebih atraktif dengan gaya Inggris. Gaya ini bisa dilihat saat Jerman dengan gemilang memecundangi Australia 4-0 di laga perdananya. Setelah itu, Jerman sempat kalah dari Serbia karena ada yang terkena kartu merah. Di pertandingan terakhir, mereka kembali bermain baik setelah mengalahkan Ghana 1-0 lewat gol cantik Ozil.

Bagi pecinta bola, tak terkecuali para penggemar Inggris dan Jerman, pertandingan ini akan menarik karena kedua tim sedang dalam performa baik. Keduanya juga akan bermain dengan gaya menyerang yang banyak melepaskan bola. Walaupun Capello sempat membantah ia tak bermain kick and rush, Inggris tentu tak ingin mereka dikalahkan oleh jurus ciptaannya sendiri.

Sabtu, 26 Juni 2010

Menunggu Kejutan Maradona

Argentina tiba-tiba menjelma menjadi tim yang menakutkan. Seiring membaiknya Argentina, tim-tim dari Amerika Latin juga mampu menunjukkan performa luar biasa. Semua wakil Latin melaju ke 16 besar. Apakah tanah Afrika memang menjadi surga bagi negara-negara Latin?
    Yang jelas, menarik diulas adalah pertandingan 16 besar antara Argentina dan Meksiko. Kedua negara sudah sering bertemu. Argentina memimpin dengan 11 kali kemenangan. Sementara Meksiko hanya mampu mendulang empat kali kemenangan. Kekalahan menyakitkan Meksiko dari Argentina adalah saat Piala Dunia empat tahun lalu di Jerman. Meksiko tertekuk di 16 besar lewat gol Maxi Rodriguez saat perpanjangan waktu. Kekalahan itu tentu akan menjadi ajang balas-dendam Meksiko.
    Argentina pasti akan kembali diperkuat trio pemain depannya, Messi-Higuain-Tevez. Messi kembali akan menjadi roh permainan Argentina. Saat ini Si Kutu, julukan Messi, adalah penendang terbanyak di Piala Dunia 2010. Total tendangan yang berusaha ia lesakkan, baik terarah maupun tak terarah ke gawang, adalah 20 kali. Memang usahanya ini belum membuahkan hasil, tapi eksesnya membuat Higuain bisa mencetak hattrick pertama di Piala Dunia.
    Tevez juga akan menjadi perusak pertahanan lawan untuk membuka peluang teman-temannya mencetak gol. Masih secara statistik, Argentina juga paling produktif mencetak gol. Dari tujuh gol yang tercetak, mereka mampu mengumpulkan umpan 1881 kali usaha, baik pendek maupun jauh. Prestasi ini hanya bisa disamai Portugal yang juga mencetak tujuh gol. Patut digarisbawahi, Argentina mencetak gol dari semua pertandingan di babak penyisihan, sedangkan Portugal hanya mencetak gol saat melawan Korea Utara.
    Beralih ke calon lawannya, Meksiko. Tim yang diasuh Javier Aguirre ini termasuk tim yang punya serangan balik yang baik. Tercatat, mereka mampu melepaskan umpan lambung sebanyak 298 kali. Sebanyak 182 kalinya sempurna diterima pemain depan. Beberapa gol juga tercipta dari skenario serangan balik dengan umpan jauh yang akurat.
    Sekilas data itu akan menjadi jaminan bahwa pertandingan di 16 besar ini akan berlangsung menarik. Skill individu pemain dari kedua negara benar-benar akan menjadi tontonan yang sayang untuk ditinggalkan.
    Ada satu hal yang mungkin akan dimanfaatkan Meksiko dalam laga hidup-mati ini. Keinginan Messi untuk mencetak gol pasti akan menjadi bumerang bagi Argentina. Aguirre, saya yakin, akan memanfaatkan celah ini. Dengan titik sentral pada Messi, Meksiko punya peluang melumpuhkan lini depan Argentina.
    Simak bagaimana Pelatih Argentina Maradona yang sangat merindukan “jelmaannya” untuk mencetak gol. "Saya minta maaf Messi tidak mencetak gol," kata Maradona usai laga kontra Yunani. "Saya menjatuhkan diri di atas lapangan ketika tembakannya membentur gawang. Saya sudah melompat dengan kepala lebih dahulu jika ada kolam renang di sekitar saya," sambungnya dikutip dari Bolanews.
    Betapa Maradona merindukan titisannya itu mencetak gol. Inilah kelebihan sekaligus kelemahan Argentina. Pemain Meksiko pasti akan menjaga pergerakannya hingga Argentina frustasi. Selepas itu, mereka akan dengan mudah membalikkan tekanan dengan umpan-umpan jauh mereka yang sudah tak diragukan.
    Geovanni Dos Santos yang lincah di depan akan sangat berbahaya ketika timnya menyerang balik. Tinggal bagaimana kreativitasnya membongkar pertahanan Argentina yang dikawal Martín Demichelis yang pernah melakukan blunder. Tambahan, sembuhnya striker muda dari Arsenal, Carlos Vela, membuat serangan Meksiko makin tajam.
    Kapten tim Meksiko, Rafael Marquez percaya akan hal itu. Pemain yang ikut merasakan kekalahan saat di Jerman empat tahun lalu itu menyatakan,”Argentina adalah tim yang dihuni banyak pemain berkualitas. Dan kita akan mengalahkannya karena itu.” Tak juga boleh dilupakan, Marquez sangat tahu kelemahan dan kelebihan Messi karena keduanya lama berteman di Barcelona.
    Patut dikutip juga pernyataan pemain senior Meksiko yang lain, Gerardo Torrado. Menurutnya, Meksiko hanya butuh kepercayaan diri untuk bisa mengalahkan Argentina. “Pasti kita akan bisa mengalahkan mereka. Dengan catatan, kita punya keyakinan untuk itu.”
    Maradona juga bukan tak memikirkan risiko ini. Ia pasti punya cara lain untuk menipu para pemain belakang Meksiko. Ketika Messi tak berkutik dijaga para pemain Meksiko, bukan tidak mungkin sang pelatih mengeluarkan senjata rahasianya. Dan saya tak sabar menunggu kejutan-kejutan itu.(wandiudara.blogspot.com)