Selasa, 02 Maret 2010

Akrobat Divisi Utama

Seperti akrobat, penampilan Persipasi turun-naik. Saat ini, titik putaran sedang ada di puncak selepas kemenangan besar atas PSSB Bireun. Skor 7-2 adalah angka fenomenal di Liga Joss Indonesia. Padahal, seminggu sebelumnya Persipasi tak berdaya melawan dua tim papan tengah Persih Tembilahan dan Persires Riau di kandang mereka. Tim yang disebut terakhir bahkan mampu mengalahkan Laskar Patriot walaupun gaji pemain belum dibayar tiga bulan.

Banyak alasan yang bisa mengemuka atas prestasi yang njomplang ini. Dari internal tim, masuk akal jika persoalan yang mendera tim saat melakoni laga tandang adalah faktor kelelahan, tak gampang adaptasi dengan daerah baru, dan (yang tak terlihat adalah) keberpihakan wasit.

Patut digarisbawahi adalah persoalan keberatsebelahan wasit yang cenderung untuk tuan rumah. Persoalan yang seperti tidak ada namun terasa. Tak pernah terbukti namun jadi pembicaraan nasional. Bahkan PSSI mengklaim, mafia wasit di Indonesia berpusara di Divisi Utama atau Liga Joss Indonesia.

Persoalan ini bahkan disebut-sebut sebagai ajang pengalihan isu dari santernya berbagai pihak untuk menggulingkan Ketua Umum PSSI dan silang-sengkarut kompetisi sepak bola di tanah air saat Kongres I PSSI pada medio Januari lalu di Bandung.

Begitu tim bermain di kandang, persoalan internal tim itu seperti bisa terpecahkan. Kelelahan bukan persoalan utama. (Persoalan) tak gampang adaptasi, apalagi. Itu tak patut dijadikan alasan untuk tak tampil maksimal di tempat di mana setiap orang meneriakkan dan menyemangati Anda.

Nah, soal keberpihakan wasit-lah yang selalu memperumit tuan rumah. Menyisipkan atau tidak menyisipkan “amplop” ke saku wasit, tuan rumah akan selalu dicurigai jika menang.

Sedikit kesalahan tak disengaja wasit yang menguntungkan tuan rumah kemudian akan diperbesar tim tamu untuk menuding wasit. Bahkan di Liga Champion, tak jarang pelatih mencaci atas kekeliruan sang pengadil. Tim sekelas Arsenal sempat frustasi dengan keputusan wasit Martin Hansson saat mereka kalah atas FC Porto di Stadion Do Dragao, kandang Porto, dalam leg pertama 16 besar Liga Champion.

Akhirnya, adil di dunia sepak bola sama rumit seperti di kehidupan nyata. Tim kecil yang tak punya dana memengaruhi wasit mungkin harus menerima keputusan alakadarnya. Atau hanya mengumpat sebagai pelepas kekecewaan. Selebihnya, tak mampu berbuat apa-apa. Hal yang sama terjadi pada tim besar yang merasa dicurangi ketika kalah di kandang lawan. Sedapat mungkin mereka akan memprotes.

Namun, kekecewaan itu sebatas ritual. Ketika keputusan sudah digariskan, dunia sepak bola sepertinya sudah berhenti di ujung pluit wasit. Keputusan di atas lapangan, walaupun itu sangat keliru, sah di mata hukum sepak bola. Tengok saja, sangat sedikit dan bisa dikatakan tidak ada tim yang sanggup mengubah keputusan wasit. Walaupun ada, akhirnya berujung pada kekerasan.

Di sisi lain, wasit dilihat sebagai personal juga tak kuat dengan sistem seperti ini. Ia merasa sebagai korban. Saya pernah bercakap dengan seorang mantan wasit yang kebetulan bertemu selepas menonton salah satu pertandingan Divisi Utama.

“Siapa bilang wasit tak tertekan dengan semua yang dituduhkan setiap tim. Kami tertekan,” katanya. Ia melanjutkan, “Dari pengalaman saya, setiap wasit ingin cepat-cepat menyelesaikan pertandingan begitu memasuki masa injury time.”

“Persoalannya, bukan berapa tim bisa membayar kami, tapi seberapa aman kami bisa keluar pertandingan dengan kepala mulus tanpa lemparan dari penonton atau pukulan dan sepakan dari tim yang kecewa.”

Dari pengakuan itu saya kemudian bertanya, siapa yang patut dipersalahkan dengan merajalelanya praktik mafia wasit? Semua pihak merasa terancam keamanannya. Badan tertinggi sepak bola Indonesia pun merasa namanya tercoreng dengan praktik ini. Padahal mereka adalah lembaga yang punya otoritas untuk menyelesaikan hal ini.

Selama praktik mafia wasit tak bisa teratasi, selama itupula setiap tim di Divisi Utama akan terus berakrobat. Tak terkecuali Persipasi.

Sekarang saat berpikir, bagaimana caranya berakrobat dengan benar dengan hati nurani. Khusus Persipasi, semoga hasil positif saat melawan PSSB merupakan titik pijak untuk berpikir bahwa kemenangan bisa diraih di manapun. Bahkan di kandang lawan jika tim diracik dengan tepat dan tetap mempertahankan semangat. Ingat, suara suporter tak terbatas hanya saat di kandang saja. Ia bisa menggema hingga ke pelosok-pelosok stadion jauh di luar kandang.(wandiudara.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar