Berkaca pada Persipasi, olahraga Kota Bekasi sepertinya butuh pembinaan lebih awal. Kita bisa lihat bagaimana tiga pemain lokal Persipasi, sebut saja, Nuralim, Firmansyah, dan Mardiansyah yang sekarang menjadi pilar Laskar Patriot. Ketiganya sudah “menjadi” atlet matang dan siap untuk dipetik.
Mereka matang karena ditempa kompetisi. Tanpa kompetisi, mustahil seorang atlet mampu meraih prestasi. Kurang apa pengalaman Nuralim. Pemain yang malang-melintang di berbagai klub papan atas ini terbukti tangguh di lini belakang. Ia juga mampu menembus starting eleven Timnas dan pernah ditahbiskan sebagai libero terbaik Indonesia.
Dulu, kompetisi olahraga, tak melulu sepak bola, selalu diselenggarakan dari mulai tingkat RT. Entah itu bulu tangkis, tenis meja, bola voli, hingga catur. Seorang anak SD akan sangat senang ketika dirinya didapuk sebagai juara tingkat RT. Walaupun skalanya kecil, toh ia senang karena mampu mencapai puncak tertinggi.
Ya, kesuksesan terbentuk dari puncak-puncak kecil itu. Ia tak datang bak air bah yang langsung meluluhlantakkan daya nalar. Menjadi olahragawan adalah bagaimana memanipulasi fisik, dan teknik tentunya, dengan tujuan akhir menjadi nomor satu. Yang terdepan. Dan patut diingat, semua dibutuhkan kerja keras yang jalannya selalu memutar dan berliku untuk mencapai satu titik tertinggi.
Untuk bisa melewati jalan terjal itu dibutuhkan kompetisi. Puncak-puncak kecil sebagai batu loncatan para atlet perlu diciptakan oleh pemangku kebijakan. Pemerintah Kota Bekasi harus gencar lagi menghidupkan kompetisi sejak dini. Tak perlu banyak dana dan tak perlu hadiah wah. Yang terpenting buat para pemula adalah sebuah apresiasi.
Satu contoh kecil, betapa Turnamen Asosiasi Sekolah Sepak Bola Kabupaten Bekasi (ASSKAB) mampu membuat para pesertanya berjuang sekuat tenaga. Skala turnamen ini boleh jadi kecil. Semata mempertandingkan pemain yang bernaung di sekolah-sekolah sepak bola. Tapi, lihat dampaknya. Para pemain, terutama yang berhasil menjadi juara, langsung memiliki semangat berlipat untuk loncat ke kompetisi yang lebih tinggi.
Baru-baru ini pemerintah daerah pun menyelenggarakan Liga Pendidikan Indonesia (LPI). Tapi sayang, pesertanya sedikit. Padahal kompetisi ini menjanjikan jenjang karir yang serius. Panitia seakan alpa dan mungkin berorientasi lain sehingga penyelenggaraan LPI tak punya greget.
Di Hari Jadi ke-13 Kota Bekasi ini semoga para pemangku kebijakan di bidang olahraga kembali berkaca. Kembali membumikan harapan untuk meloncat dengan cita-cita yang tinggi. Mulailah sesuatu dari bawah. Karena, sebuah kesuksesan tak akan berarti tanpa ada kompetisi-kompetisi kecil yang sedari awal bertujuan (hanya) menancapkan semangat pada para calon atlet. Dari semangat yang terus bertumpuk itu, boleh jadi akan lahir seorang atlet yang kuat dan mampu mengharumkan Bekasi di kemudian hari.(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar