Tayang Insert di TransTV edisi Minggu (27/9/2009) mengingatkan saya betapa momen penting mengalahkan berita penting. Dalam Topsert (survei terbatas yang dilansir acara itu), berita kematian Noor Din dkk kalah mentereng dibandingkan berita sungkeman lebaran para artis. Sungkeman para artis berhasil duduk sebagai pemuncak statistik dengan raupan pemirsa hingga 32 persen. Sedang berita kematian Noordin hanya diminati 27 persen.
Valid atau tidaknya survei tersebut, saya sedikit tak acuh. Setidaknya, kematian buron nasional itu ternyata tak terlalu diminati masyarakat. Saya sendiri lebih peduli dengan persiapan saya ber-Lebaran di rumah orang tua. Motor saya harus bisa mengangkut oleh-oleh untuk orang rumah dalam sekali jalan.
Noor Din meninggal pada penggerebekan (yang seolah-olah) tak terencana pada 17 September di Solo. Tiga hari sebelum Idul Fitri. Pada saat berita kematian Noor Din dilansir, saya sedang melihat ratusan sepeda motor berjejer di pelataran kantor kerja saya di bilangan Bekasi. Mereka hadir memenuhi undangan operator Telkomsel yang mengadakan acara "Mudik Motor". Diiringi dentuman musik dangdut, para pemudik sibuk menyiasati barang bawaannya tertempel ketat di pantat motor.
Saya beruntung berkantor di depan jalur lintas pantai utara. Di lantai tiga kantor, saya bebas menghitung seliweran lalat besi yang tak henti-hentinya menjauh dari Jakarta. Di jalur inilah para pemudik mempertaruhkan nyawa demi menuju kampung halaman.
Mengenai berita kematian Noor Din, lagi-lagi saya tak begitu memperhatikan. "Paling polisi salah duga lagi seperti saat penggerebekan di Temanggung," begitu saya berpikir.
Dugaan saya meleset. Polisi berhasil membekuk Noor Din hingga mulutnya menganga karena berondongan tembakan. Pipinya lebat bulu. Kumisnya tumbuh liar hampir menutup bibir. Foto yang ditunjukkan polisi persis seperti foto yang ditebar di seantero nusantara. Noor Din mati setelah sembilan tahun menebar mesiu.
Saya tak habis pikir, kematiannya begitu cepat. Apalagi setelah saya tahu informasi bahwa Noor Din dan tiga teroris langsung lumpuh dalam tiga jam saat sahur melewati Subuh. Matahari belum beranjak benar.
Toh, tetap saja “film pendek” itu tak membuat saya tertarik lagi. Seperti juga mungkin para pemudik yang malam itu saya perhatikan. Mereka masih sibuk merekat lem pada kardus untuk dibawa sebagai oleh-oleh di kampung. Tak ada obrolan tentang Noor Din saat mereka berkemas. Mereka malah tergesa karena 10 menit lagi Ridho Rhoma yang disewa Telkomsel akan melepas mereka di garis start.
Bergegas, kota mereka tinggalkan. Berita pun sudah tak penting lagi. Entah itu berita tentang kematian Noor Din dkk maupun kecelakaan di sepanjang jalur mudik. Tatapan orang tua dan sanak saudara lebih penting. Karena, dua-tiga hari ke depan (setelah Lebaran), mereka harus kembali lagi. Kembali menelan berita pahit lagi tentang (kekejaman) kota. Tanpa harus banyak bertanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar