Sebagai seorang aktor amatiran zaman kuliahan, sutradara menyuruh saya lebih menghayati peran. Sudah satu bulan saya dianggap tak mampu menghayati peran yang saya mainkan. Pentas tinggal 1,5 bulan lagi. Satu bulan ke depan saya sudah harus menguasai peran. Kalau tidak, sutradara saya yang mantan aktor terbaik se-Jawa Barat itu akan murka. Dia akan mencaci saya dengan kalimat pisaunya.
Lalu disuruhnya saya mempreteli tokoh yang akan saya mainkan. Model latihan seperti ini menurutnya mengadopsi latihan yang ditemukan Constantin Stanislavski. Sutradara jenius dari Rusia sana. Bukannya latihan menghafal gerakan yang harus saya ikuti di atas pentas, saya malah disuruh membaca buku Stanislavski itu.
Satu minggu naskah saya tinggalkan hanya untuk mempreteli pribadi tokoh yang akan saya perankan. Saya dipaksa oleh sutradara, tepatnya Stanislavski, untuk mengembangkan tokoh. Menghidupkannya dengan pengalaman yang pernah saya temui. Setidaknya yang mendekati pengalaman tokoh. Saya seperti orang gila. Tugas saya hanya menghidupkan tokoh sesuai keinginan. Saya pelajari kebiasaan tokoh itu. Tak lupa saya sisipkan pula amarah tokoh yang saya buat meledak-ledak. Tanpa sadar, tekstur suara tokoh saya dapatkan dari proses ini.
Gerak-gerak kecil seperti jentikan jari, garuk-garuk pantat, atau deheman, saya dapatkan kemudian. Saya hiasi tokoh itu dengan pengetahuan yang saya dapatkan dari berselancar di internet. Singkat cerita, tokoh yang saya ciptakan di dalam kepala serta dilengkapi dengan riset pengalaman pribadi dan pengetahuan internet. Sutradara saya lalu tersenyum kecil.
Dan saya punya keyakinan, tiga pasangan calon presiden pun melakukan hal yang sama dengan saya. Sadar tak sadar, mereka menggunakan metode Stanislavski untuk memperkuat citra. Mereka tampil sedemikian rupa agar diterima sebagai pemeran presiden yang paling baik lima tahun ke depan. Tentunya diterima di depan ratusan juta masyarakat Indonesia.
Ambil contoh cara mereka berujar dalam iklan. Calon presiden nomor urut satu, Megawati Soekarno Putri “mencuri” pidato mendiang ayahnya yang memang dikenal sebagai sang orator ulung. Suara Mega dibuat kuat. “Sebarkan, sebarkan, sebarkan!” Mega berteriak sambil meninju langit di tengah hamparan sampah Bantar Gebang. Persis yang dilakukan Soekarno dalam pidato monumentalnya di Lapangan Banteng pada 18 Nopember 1957. Sayang, alih-alih menggelegar, suara Mega tinggi mendekati cempreng. Penonton, setidaknya saya, terbahak. Mega berhasil memuaskan penonton untuk gerr, tapi tidak berhasil secara keaktoran.
Selanjutnya, Susilo Bambang Yudhoyono. Iklannya dibuat dalam berbagai versi. Tapi, yang paling menggelikan adalah iklan dirinya bersama pasangannya, Boediono. Muka mereka putih. Tebalnya make up membuat wajah keduanya mendekati pucat. Mereka duduk lesehan mendengarkan keberhasilan yang diutarakan sepasang “masyarakat” yang mewakili latar belakang profesi. Dari nelayan sampai pendidik.
Citra yang ingin mereka tampilkan adalah sosok pemimpin yang mengayomi. Keberhasilan pemerintah yang dirasakan dan diutarakan masyarakat dijawab Yudhoyono dengan rendah hati. “Justru saya yang harus berterima kasih kepada para guru karena mereka telah bekerja tulus,” begitu kira-kira kalimat yang dipilih Yudhoyono untuk menebalkan citranya yang santun. Lagi-lagi saya menghela nafas, dengan iklan yang berulang-ulang ditayangkan di berbagai stasiun televisi itu.
Untuk pasangan nomor urut tiga, Jusuf Kalla, saya mengambil contoh lain. Untuk mendongkrak citranya, Kalla mengangkat sutradara dari kalangan selebritis: Tantowi Yahya. Sikap dan gerak tubuh Kalla dipantau Yahya. Sebagai tokoh dari luar Jawa, Kalla tak ingin citranya kalah dengan Yudhoyono yang didukung mitos bahwa pemimpin “selalu” berlatar belakang Jawa. Tentu dengan embel-embel santunnya. Kalla ingin mematahkan mitos itu.
Gerak tangannya lalu dirombak. Intonasi suaranya dipermak. Kalla yang meledak-ledak saat berpidato, dibuat santun oleh Yahya. “Jangan terlalu cepat saat sedang berpidato, Pak Presiden. Artikulasi Bapak justru tak terdengar jelas oleh penonton. Intonasi yang cepat juga bisa mencitrakan Bapak sebagai pemimpin yang sembrono.” Saya berimajinasi seperti itulah cara sutradara Yahya mengarahkan aktornya. Maklum, Kalla terkenal dengan pidatonya yang meledak-ledak, cepat, dan kerap tak tertangkap dengar.
Yahya dengan santun juga meminta agar Kalla jangan terlalu lama berdiri saat berpidato. Untuk urusan ini, keduanya sempat bersilat pendapat. Kalla berasumsi lamanya dia berdiri akan membangun citra dirinya masih kuat walaupun sebagai calon presiden tertua di antara dua kandidat lain. Yahya justru berargumen beda. Terlalu sering Kalla berdiri, menurutnya, justru berpeluang melahirkan kesalahan-kesalahan gerak yang berujung over acting.
Untungnya, ada solusi dari perdebatan di belakang panggung itu. Yahya tetap menerima argumen Kalla dengan catatan Kalla hanya berdiri ketika menjawab pertanyaan. Jika tak ada pertanyaan, Kalla duduk. Ini dilakukan agar gerak-gerak yang tidak perlu saat tak ada pertanyaan bisa diminimalisasi.
Apakah para calon pemimpin Indonesia ini sukses menjalankan metode akting yang disarankan Stanislavski itu? Saya tak tahu. Saya hanya ingat waktu sutradara saya tersenyum kecil begitu saya selesai memainkan peran. Segala metode yang sudah Stanislavski ajarkan, saya turuti. Tapi, tetap saja, sutradara saya yang mantan aktor terbaik se-Jawa Barat itu malah menghina saya. "Kamu terlalu asyik dengan tubuh," ujarnya pendek.
Apakah saya salah menerapnya metode akting dari sutradara monumental Rusia itu? Sutradara saya tak menjawab. Ia malah menyodorkan buku akting lain karangan Richard Boleslavsky.(*)

sebagai seorang aktor tentu harus elaboratif dengan perannya. aktor tidak hanya mengetahui peran apa yang ia mainkan namun juga ia harus membawa jiwa pemeranan.
BalasHapus