Senin, 04 Mei 2015

Pajak BCA, Baru Tahu Kalau Ternyata Negara Tidak Dirugikan



 

Iseng-iseng saya buka sejumlah artikel terkait kasus pajak yang menimpa PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Maklum, ini merupakan sarana belajar saya mengenai kasus pajak yang membelit mantan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo itu. Hadi diumumkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak lama setelah dia pensiun sebagai kepala BPK.

Awalnya saya tak menyangka jika ternyata ada pemasukan sebesar Rp3,29 triliun yang berhasil ditagih Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) atas pengalihan piutang macet BCA pada 1998. Ini tantangan buat saya untuk mencari lebih jauh informasi tentang permasalahan pajak yang sedang menimpa Hadi. Mengapa justru BPPN yang menerima pemasukan sebesar Rp3,28 triliun dan  bukan BCA? Ada apa dengan BCA pada tahun 1998?

Usut punya usut, dari fakta yang ada, pada 1998, BCA ternyata mengalami kerugian fiskal sebesar Rp29,2 triliun akibat dari krisis ekonomi. Berdasarkan undang-undang yang berlaku, kerugian tersebut dapat dikompensasi dengan penghasilan (tax loss carry forward) mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut, sampai dengan lima tahun.

Dalam kategori sebagai bank takeover (BTO), berdasarkan instruksi Menteri dan Gubernur BI, segala wewenang, direksi, komisaris, RUPS, dan total aset, termasuk piutang macet dan jaminannya senilai Rp5,77 triliun milik BCA, dialihkan ke BPPN. Berarti BCA pada tahun 1998, dalam statusnya sebagai bank takeover, sepenuhnya berada di tangan BPPN. Inilah alasannya mengapa BPPN akhirnya bisa mendapatkan pemasukan Rp3,29 triliun.

BCA lalu mengajukan keberatan pajak sesuai undang-undang terhadap koreksi laba fiskal periode 1999 yang dilakukan Ditjen Pajak sebesar Rp6,78 triliun.

Pertanyaan saya adalah seandainya keberatan pajak atas koreksi pajak tidak diterima, apakah negara akan mengalami kerugian? Ternyata tidak. Alasannya, masih ada sisa penghasilan (taxlosscarryforward) uang yang dapat dikompensasi sebesar Rp2,04 triliun

Yang mengejutkan saya adalah fakta bahwa negara malah mendapat keuntungan Rp3,29 triliun karena sejak piutang macet dan jaminannya senilai Rp5,77 triliun yang dialihkan ke BPPN melalui perjanjian jual beli, ternyata berhasil ditagih BPPN sebesar Rp3,29 triliun.

Artinya, BCA sama sekali tidak menerima penghasilan terkait penagihan piutang macet itu karena statusnya sebagai BTO.

Saya juga menemukan fakta lain, yakni sebelum melakukan IPO pada 2000, BCA ternyata telah mendapat ‘taxclearence’ bahwa telah melaksanakan seluruh kewajiban selaku wajib pajak. Lalu, di manakah letak kerugian negara tersebut?

Mari kita buka sejumlah berita yang mengangkat kronologis proses pajak ini. Portal Kompas.com, Liputan6.com, Republika.co.id, dan Kontan.co.id pada 22 April 2014 memberitakan bahwa BCA mengalami kerugian fiskal sebesar Rp 29,2 triliun yang merupakan akibat dari krisis ekonomi yang melanda Tanah Air.

Berdasarkan undang-undang yang berlaku, kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan alias taxlosscarryforward mulai tahun pajak berikutnya hingga 5 tahun.

Selanjutnya, berdasarkan pemeriksaan pajak pada 2002, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak telah melakukan koreksi laba fiskal periode 1999 tersebut menjadi sebesar Rp 6,78 triliun. Di dalam nilai itu, ada koreksi terkait transaksi pengalihan aset, termasuk jaminan Rp5,77 triliun yang dilakukan dengan proses jual beli dengan BPPN sesuai Perjanjian Jual Beli dan Penyerahan Piutang No SP-165/BPPN/0600. Hal ini dilakukan sejalan dengan instruksi Menteri Keuangan No 117/KMK.017/1999 dan Gubernur Bank Indonesia No 31/15/KEP/GBI tanggal 26 Maret 1998.

Transaksi pengalihan aset itu merupakan jual beli piutang, tetapi Ditjen Pajak menilai transaksi itu sebagai penghapusan piutang macet. Sehubungan dengan hal itu, pada 17 Juni 2003, BCA mengajukan keberatan kepada Ditjen Pajak atas koreksi pajak yang telah dilakukan. Keberatan itu dinyatakan dalam SK No KEP-870/PJ.44/2004 tanggal 18 Juni 2004.

Ini persoalan perbedaan pendapat, soal sengketa pajak antara BCA dan Ditjen Pajak. Sementara, BCA telah melakukan pengajuan keberatan pajak sesuai undang-undang maupun peraturan perpajakan yang berlaku.Yang jelas, negara tidak dirugikan, malah ada tambahan pemasukan sebesar Rp3,29 triliun.(*)


Minggu, 19 Februari 2012

Pijat Minus-Minus

Waspada Jika Duduk di Bangku Belakang (Foto: riamrtumimomor.blogspot.com)
Seumur-umur baru kali ini gw kecopetan...walaupun cuma dua item yang diembat, tapi lumayan nyesek juga. Maklum, satu item yang ilang itu blackberry. Tipenya memang yang paling murah, cuma gemini. Tapi, banyak data belum sempet dialihin. Ada yang udah jadi, ada juga yang masih bahan mentah. Belum lagi nomor-nomor telepon narsum yang susah payah didapetin. Nomor2 PIN narsum juga terpaksa harus diikhlaskan pergi.

Sebelumnya gw udah punya firasat buruk. Tapi, karena males, jadi terus ditunda-tunda mau mindahin data dari HP ke tempat lain yang lebih aman. Email misalnya. Yah, begitulah, nyesel pasti di depan.

Item kedua yang ilang juga cuma kartu langganan kereta. Ini ga terlalu berharga. Paling cuma dua minggu menderita harus ikut antre beli tiket lagi. Setelah itu, gw bisa beli lagi kartu baru bulan depan.

Baik, daripada berpanjang-panjang, ini nih kronologis gw kecopetan. Walaupun salah kutip umur (di berita tertera umur 30 tahun, padahal gw masih 29 tahun, hehehe...takut merasa terlalu tua), selebihnya kronologis itu demikian adanya. Yang menarik, di Seputar Indonesia dikatakan gw udah lapor ke Polsek terdekat. Sebenernya gw ga melakukan itu. Tapi, gpp...lagian itu ga bikin gw rugi.. Malah gw bersyukur smoga tuh komplotan pencopet bisa ditangkep tangan sama pulisi.

Ini nih barbuknya, gan.......



Copet Bermodus Pijat Intai Penumpang Bus
Fabian Januarius Kuwado | Aloysius Gonsaga Angi Ebo | Kamis, 16 Februari 2012 | 17:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ada-ada saja modus yang digunakan para pelaku kejahatan jalanan, terutama para copet yang kerap melakukan aksinya di angkutan umum. Selama ini, modus yang dikenal masyarakat antara lain dengan pura-pura muntah atau dengan berkomplot. Namun peristiwa kali ini, pencopet berpura-pura dengan menjadi tukang pijat dan menimpa seorang wartawan harian Koran Jakarta, Wandi (30).

Saat itu, sekitar pukul 11.30 WIB, ia hendak mendatangi lokasi diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat dengan menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2/2012). "Saya naik dari depan Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional), Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," ujar Wandi.

Wandi melanjutkan, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Tak lama berselang, pria berbadan gemuk tersebut juga memijat kaki kiri Wandi. "Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujar Wandi.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui ponsel Blackberry yang semula berada di saku itu telah raib. "Saya periksa pria yang memijat, tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih saja," ujarnya kesal.

Polda Metro Jaya tengah menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari mendatang. Selama operasi yang terhitung sejak tanggal 4 sampai 13 Februari itu, Polda Metro Jaya telah menahan sebanyak 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 senjata tajam, 56 kendaraan roda dua, 13 kendaraan roda empat, 67 ponsel, 651 botol minuman keras, dan uang tunai senilai Rp 63.198.000.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/16/17385936/Copet.Bermodus.Pijat.Intai.Penumpang.Bus


+++++
Waspadai Pencopetan Bermodus Pemijatan di Kopaja
Penulis : Donny Andhika AM
Kamis, 16 Februari 2012 17:16 WIB    


JAKARTA--MICOM: Gerombolan pencopet kembali beraksi di angkutan umum Jakarta. Modus klasik yakni dengan cara memijat korban kembali dilakukan.

Peristiwa pencopetan dengan modus ini dialami seorang wartawan surat kabar bernama Wandi Jusuf, 30, saat menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2), sekitar pukul 11.30 WIB.

Saat itu Wandi hendak mendatangi lokasi diskusi Timsel KPU di Hotel Millenium.

"Saya naik dari depan Lemhanas, Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang. Setelah duduk, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Terakhir pria bertubuh gemuk itu memijat kaki kiri saya. Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujar Wandi.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui telepon genggam BlackBerry yang semula berada di saku depannya raib.

"Saya periksa pria yang memijat tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih perhatian saja," tuturnya.

Maraknya kejahatan jalanan salah satunya pencopetan seperti yang dialami Wandi membuat Polda berinisiatif menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari mendatang.

Selama gelar Operasi Berantas Jaya selama tanggal 04-13 Februari, Polda Metro Jaya dan jajaran telah menahan 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 bilah senjata tajam, 56 unit kendaraan roda dua, 13 unit kendaraan roda empat, 67 handphone dan 651 botol minuman keras dan uang tunai senilai Rp 63 juta. (OX/OL-9)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2012/02/16/298975/37/5/Waspadai-Pencopetan-Bermodus-Pemijatan-di-Kopaja


+++++
Kaki Dipijat, BlackBerry Hilang
Friday, 17 February 2012

Tindak kriminal di Ibu Kota sepertinya tidak pernah sepi.Berbagai modus operandi kejahatan baru dilancarkan komplotan penjahat.Salah satu modus baru kejahatan yakni komplotan pencopet di angkutan umum dengan modus sebagai pemijat.

Korban kejahatan modus pencopet berkedok pemijat ini yakni Wandi,30,wartawan salah satu koran nasional. Lelaki ini harus kehilangan smartphoneBlackBerry saat menumpangi Kopaja 502 jurusan Tanah Abang–Kampung Melayu, kemarin siang. Wandi menceritakan, siang itu dirinya berniat melakukan peliputan diskusi Timsel KPU di salah satu hotel ternama.

Wandi pun menaiki Kopaja 502 dari depan kantor Lemhanas menuju hotel tersebut. Ketika naik dari pintu belakang Kopaja tersebut,tiba-tiba saja Wandi dipepet sejumlah pria hingga akhirnya duduk di bagian belakang angkutan umum tersebut. Tanpa curiga, Wandi pun duduk di samping seorang lelaki yang terlihat sedang asyik dipijat seorang pria bertubuh gemuk.

Sekitar 10 menit memijat penumpang itu,tanpa diduga pemijat tersebut memijat kaki Wandi. Pijatan ini sontak saja ditolak Wandi karena dirinya tidak biasa dipijat. Meski ditolak,pemijat itu terus memijat kaki Wandi di tengah panasnya suasana dalam Kopaja.Wandi pun mulai masuk dalam jebakan komplotan pencopet ini.Benar saja,ketika hendak turun, Wandi memeriksa BlackBerry di saku kirinya.

Wandi terkejut ketika merogoh saku celananya, ponsel tersebut telah hilang. “Saya curiga dan menggeledah pakaian pemijat itu,tetapi handphonesaya tidak ada,”ungkapnya.Wandi meyakini pemijat itu bagian dari komplotan penjahat yang bertugas mengalihkan konsentrasi dirinya. Meski curiga dengan pemijat itu,Wandi pun tak dapat berbuat banyak karena tidak mendapatkan barang bukti di pemijat tersebut.

Tak terima dengan kejadian yang dialaminya,Wandi melaporkan kasus tersebut ke petugas Polsek Gambir. Kepala Unit Reskrim Polsek Gambir Kompol Taufik Mansyur mengatakan,pihaknya telah menerima laporan dari korban dan saat ini sedang menyelidiki kasus tersebut. “Ini modus baru pencopetan, dengan menjadikan pemijat sebagai pengalih untuk pelaku lain mengambil barang korban,”tukasnya.

Biasanya kejahatan di dalam angkutan umum dengan modus berpura-pura muntah atau kejang-kejang. Kompol Taufik Mansyur mengimbau,kepada pengguna angkutan umum untuk selalu waspada terhadap bentuk kegiatan apa pun di dalam angkutan.Bahkan,jika merasa keamanannya terancam,lebih baik turun dan meminta bantuan petugas terdekat. 

RIDWANSYAH
Jakarta

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/470194/


++++++
Modus Baru! Copet Pura-pura Pijat Penumpang Angkutan Umum
TRIBUNnews.com
Oleh Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bertambah lagi modus yang digunakan oleh para pelaku kejahatan, khususnya para pencopet yang beraksi di angkutan umum. Salah satunya adalah dengan berpura-pura menjadi tukang pijat.

Peristiwa pencopetan ini menimpa seorang wartawan Koran Jakarta, Wandi (30), yang sedang menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu. "Saya naik dari depan Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional), Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu, saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," ujar Wandi, Kamis (16/2/2012).

Wandi juga mengatakan bahwa saat itu dirinya hendak mendatangi lokasi diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Setelah duduk, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Nggak lama, pria bertubuh gemuk itu juga memijat kaki kiri saya, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," tuturnya.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui ponsel Blackberry yang semula berada di sakunya telah raib. "Saya periksa pria yang memijat, tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih saja," ucapnya.

Diketahui bahwa Polda Metro Jaya tengah menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari mendatang. Selama operasi yang terhitung sejak tanggal 4 sampai 13 Februari itu, Polda Metro Jaya telah menahan sebanyak 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 senjata tajam, 56 kendaraan roda dua, 13 kendaraan roda empat, 67 ponsel, 651 botol minuman keras, dan uang tunai senilai Rp 63.198.000.(*)

Sumber: http://id.berita.yahoo.com/modus-baru-copet-pura-pura-pijat-penumpang-angkutan-021231328.html


+++++
Kamis, 16 Februari 2012 , 17:08:00
Waspadai Copet Modus Pijat di Angkot

JAKARTA-Bermacam modus kejahatan terus bermunculan.Seorang wartawan media cetak, Koran Jakarta, Wandi (30), menjadi korban pencopet bermodus tukat pijat yang beraksi di angkutan umum di Kota Jakarta, Kamis (16/2).

Peristiwa itu terjadi saat Wandi menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, sekitar pukul 11.30. Wandi hendak mendatangi lokasi diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum di salah satu hotel di Jakarta.

"Saya naik dari depan Lemhanas, Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," kata Wandi, Kamis (16/). Setelah duduk, kata dia, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang.

"Terakhir pria bertubuh gemuk itu memijit kaki kiri saya. Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujarnya.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya. Dan ia baru menyadari bahwa blackberry-nya sudah hilang. "Saya periksa pria yang memijat tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih saja," kata Wandi.

Maraknya kejahatan jalanan, seperti pencopetan yang dialami Wandi membuat Polda berinisiatif menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari. Pada gelar Operasi Berantas Jaya 4 hingga 13 Februari, Polda Metro Jaya dan jajaran telah menahan 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 bilah senjata tajam, 56 unit kendaraan roda dua, 13 unit kendaraan roda empat, 67 handphone dan 651 botol minuman keras dan uang tunai senilai Rp 63. 198.000. (boy/jpnn)

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2012/02/16/117596/Waspadai-Copet-Modus-Pijat-di-Angkot-


+++++
Jakarta | Thursday, 16 February 2012 | Oscar Ferri
Waspada! Copet Bermodus Pijat di Angkutan Umum

Jurnas.com | BERPURA-pura menjadi tukang pijat kini menjadi modus pencopet, khususnya yang beraksi di angkutan umum. Wandi (30), seorang wartawan Harian 'Koran Jakarta", menjadi korban pencopetan dengan modus tukang pijat tersebut.

Dituturkan Wandi, kejadian tersebut berlangsung saat ia sedang menumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2), sekitar pukul 11.30 WIB.

Saat itu Wandi hendak mendatangi lokasi diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Saya naik dari depan Lemhanas (Lembaga Pertahanan Nasional), Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," kata Wandi menceritakan kembali kronologis pencopetan itu.

Setelah duduk, lanjut Wandi, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Tak lama berselang, pria bertubuh gemuk itu juga memijat kaki kiri Wandi. "Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujar Wandi.

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui ponsel Blackberry yang semula berada di sakunya telah raib. "Saya periksa pria yang memijat, tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan. Pemijat hanya sebagai pengalih saja," ucapnya.

Sumber: http://www.jurnas.com/news/52976/Waspada_Copet_Bermodus_Pijat_di_Angkutan_Umum_/1/Ibu_Kota/Kriminal


+++++
"Tukang Pijat" Sikat Blackberry Wartawan di Bus
Oleh: Marlen Sitompul
Metropolitan - Jumat, 17 Februari 2012 | 05:00 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Bagi masyarakat pengguna angkutan umum diminta agar berhati-hati terhadap para bandit jalanan khususnya terhadap para pencopet.

Berbagai macam modus pencopetan kini kian marak, seperti, menjadi tukang pijat yang tengah ngetren di Ibukota. Seperti yang dialami Wandi (30), seorang wartawan di salah satu harian yang berada di Jakarta.

Wandi menuturkan, kejadian itu berlangsung saatmenumpang Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2/2012) siang. Rencananya, Wandi hendak mengikuti diskusi Tim Seleksi Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

"Saya naik dari depan Lemhanas, Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja itu saya dipepet hingga terpaksa dapat duduk di bangku yang ada di belakang," jelas Wandi menceritakan kembali kronologis pencopetan itu.

Setelah duduk, lanjut Wandi, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Tak lama berselang, pencopet bermodus tukang pijat itu pun langsung memijat bagian kaki Wandi.

"Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," terangnya lagi. Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya dan baru mengetahui bahwa ponsel BlackBerry yang semula berada di sakunya pun raib.[dit]

Sumber: http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1831161/tukang-pijat-sikat-blacberry-wartawan-di-bus


+++++
Hati-hati, Ada Pencopet Bermodus Tukang Pijat 
Riski Adam
16/02/2012 21:15

Liputan6.com, Jakarta: Masyarakat sepertinya harus lebih waspada terhadap kejahatan di Jakarta. Belakangan, ditemukan gerombolan pencopet yang kerap beraksi di sejumlah angkutan umum. Modusnya terbilang baru, yaitu pura-pura menjadi tukang pijat.

Kejahatan ini dialami seorang wartawan Koran Jakarta bernama Wandi. Ketika itu, ia menaiki angkutan umum Kopaja 502 jurusan Tanah Abang-Kampung Melayu, Kamis (16/2), sekitar pukul 11.30 WIB. Wandi bertugas mendatangi lokasi diskusi tim seleksi Komisi Pemilihan Umum di Hotel Millenium, Jakarta Pusat.

"Saya naik dari depan Lemhanas, Jalan Merdeka Barat. Di atas Kopaja, saya dipepet hingga terpaksa duduk di bangku belakang. Setelah duduk, ada orang yang berpura-pura memijat penumpang di deretan bangku belakang. Terakhir pria bertubuh gemuk memijit kaki kiri saya. Saya menolak, tapi orang itu langsung memegang kaki saya," ujar Wandi pada Liputan6.com, Jakarta, Kamis (16/2).

Saat hendak turun, Wandi memeriksa saku kirinya. Ia terkejut karena telepon genggam merek Blackberry raib. "Saya periksa saku saya setelah pria itu memijat, tetapi tidak ada telepon genggam saya. Sepertinya mereka gerombolan pencopet. Pemijat hanya sebagai pengalih perhatian," ungkapnya.

Maraknya kejahatan jalanan semacam ini menarik perhatian polisi. Polda Metro Jaya berinisiatif menggelar Operasi Berantas Jaya hingga akhir Februari mendatang.

Perlu diketahui, selama Operasi Berantas Jaya pada 4 hingga 13 Februari lalu, Polda Metro dan jajarannya telah menahan 381 pelaku kejahatan berikut barang bukti 20 senjata api, 25 bilah senjata tajam, 56 unit kendaraan roda dua, dan 13 unit kendaraan roda empat. Selain itu 67 telepon genggam, 651 botol minuman keras, serta uang tunai Rp 63.198.000.(WIL/ULF)

Sumber: http://berita.liputan6.com/read/377722/hati-hati-ada-pencopet-bermodus-tukang-pijat



Kamis, 09 Juni 2011

Korban Kopkamtib Tolak RUU Intelijen

(Logo diambil dari Wikipedia)
Korban kekerasan yang dilakukan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) menolak Rancangan Undang-Undang Intelijen yang saat ini dibahas di tingkat Panitia Kerja Komisi 1 DPR.

Penolakan dilakukan karena mereka tak setuju dengan beberapa pasal yang disinyalir bisa membuat lembaga intelijen kembali seperti Kopkamtib pada masa Orde Baru yang sewenang-wenang menyiksa korban.

“Kalau disahkan, kami khawatir UU ini akan menjadi payung hukum untuk menangkap orang-orang kritis,” kata Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan Tahun 1965-1966 (YPKP) Bedjo Untung, di Jakarta, Rabu (8/6).

Bedjo sebenarnya tak masalah dengan pengaturan terhadap intelijen, namun dia tak setuju jika dalam regulasi masih terdapat pasal tentang kewenangan intelijen menyadap dan melakukan pemeriksaan intensif selama 7x24 jam. Menurutnya, RUU tersebut juga harus tegas menyatakan siapa yang menjadi lawan negara.

Dan sebelum disahkan, Bedjo berharap RUU Intelijen disosialisasikan ke publik agar publik, khususnya para korban kekerasan aparat intelijen, mengetahui.

Tahrin, korban kekerasan Peristiwa 1965, juga menolak jika Juli ini RUU Intelijen disahkan. “Kami sendiri belum tahu detail peraturan itu, tapi kenapa ada wacana Juli ini akan disahkan,” katanya.

Umar, korban kekerasan Peristiwa 1965, juga ingin memastikan bahwa RUU Intelijen harus berpihak kepada rakyat. “Selama tak berpihak kepada rakyat, jangan harap UU ini berhasil membela rakyat,” katanya.

Peneliti dari Komisi untuk Orang hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Puri Kencana Putri mengatakan setidaknya ada lima hal yang harus diperbaiki sebelum RUU Intelijen disahkan.

Pertama terkait dengan kewenangan khusus yang meliputi pasal penangkapan dan pemeriksaan intensif. Kedua, definisi tentang informasi intelijen yang masih sumir. Ketiga, harus dimasukkan hak dan kewajiban serta perlindungan terhadap aparat intelijen. Keempat, harus dijelaskan fungsi Lembaga Koordinasi Intelijen Negara (LKIN).

“Jangan sampai pembentukan LKIN itu justru mengulang pembentukan Kopkamtib seperti masa Orde Baru,” kata Puri. Terakhir, Kontras juga melihat RUU tersebut belum ada mekanisme koreksi yang harus diawasi sebuah komisi independen yang anggotanya tidak hanya dari anggota DPR.

“Kami sebenarnya setuju dengan adanya UU Intelijen, tapi UU tersebut harus memasukkan prinsip-prinsip demokratik, rule of law, dan melindungi hak asasi manusia,” katanya.

Rencananya, Kontras bersama YPKP akan mengirim petisi ke Komisi 1 yang isinya beberapa hal yang tadi disebutkan. Kontras dan YPKP juga mengirim surat ke Komisi 1 agar diajak berdiskusi tentang RUU Intelijen.

“Kalau ternyata permintaan diskusi dan pasal yang kita tolak itu tetap dimasukkan, kami berencana membuat aksi di depan gedung DPR,” kata Peneliti di bidang Advokasi Kontras, Krisbiantoro.

Intelijen Bukan Penegak Hukum
Secara terpisah, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono mengatakan intelijen bukan lembaga penegak hukum. Dia melihat RUU Intelijen memandang intelijen sebagai institusi penegak hukum. “Intelijen itu tugasnya mencegah sesuatu sebelum kejadian bahaya terjadi,” katanya.

Untuk itu, dia berharap RUU Intelijen memasukkan aturan bagaimana aparat intelijen bisa mencegah terjadinya bahaya. Di RUU tersebut juga harus ada penjelasan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan intelijen. “Jadi, jangan pada ranahnya hukum, intelijen kan tidak ada urusannya untuk menghukum dan menangkap,” katanya.

Regulasi yang mengatur tentang intelijen tambahnya harus menitikberatkan pada usaha untuk membantu aparat intelijen dalam mencegah terorisme. Sayangnya, RUU Intelijen yang saat ini sedang dibahas cenderung hanya mengatur BIN. “Aparat intelijen kan bukan hanya ada di BIN, tapi ada juga di TNI, kepolisian, imigrasi, bea dan cukai, atau kejaksaan,” katanya.(way)

Senin, 06 Juni 2011

Tentang Oligarki, Rizal Ramli, dan Sri Mulyani

Tentang Oligarki, Rizal Ramli, dan Sri Mulyani

(Wawancara dengan Jeffrey A Winters)

Profesor Jeffrey A Winters berbicara memukau di Rumah Integrasi di Jalan Latuharhary Nomor 16, Jakarta Pusat pada Jumat, 3 Juni 2011. Pengajar di Departemen Ilmu Politik Northwestern University, Amerika Serikat, ini diundang Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) yang tidak lain adalah lembaga yang punya kecenderungan kuat mendukung Sri Mulyani Indrawati. Di Rumah Integrasi itu pun, foto-foto mantan menteri keuangan ini mejeng dengan ukuran besar.

Ratusan orang menyempatkan diri mendengar pemikiran seorang indonesianis ini walaupun ruangan sangat pengap karena pendingin yang tak berfungsi. Dengan hanya mengenakan kaus hijau dan jeans, Jeffrey berceloteh panjang mengenai kelahiran oligarki (bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat) di Indonesia. Bahasa Indonesianya lancar, terkadang penulis buku Dosa-Dosa Politik Orde Baru ini mengambil perumpamaan yang cerdas untuk menggambarkan pikirannya.

Berikut adalah wawancara selama 5 menit 49 detik selepas kuliah umum. Pada wawancara ini, selain tentu saja menanyakan tentang para oligark (pelaku oligarki atau bisa juga diterjemahkan sebagai pengusaha pengisap kekayaan Indonesia) yang banyak dibahas dalam buku terbarunya Oligarchy, saya dan satu teman mencoba memintanya untuk menakar siapa sosok yang cocok memimpin Indonesia.

Berikut petikan lengkap wawancara tersebut:

Anda mengatakan, sesudah Partai Komunis Indonesia, tidak ada partai politik yang mampu memobilisasi massa?Maksud saya, hanya pernah dalam sejarah Indonesia ada dua kasus, dua contoh partai yang punya akar rumput, yakini Partai Nasional Indonesia dan Partai Komunis Indonesia. Keduanya punya sifat lain selain elitis. Dan sejak PKI, tidak pernah ada partai atau organisasi yang punya massa akar rumput. Semua bersifat elitis dan menengah ke atas.

Dan tidak hanya itu. Kalau boleh saya mengkritisi gerakan mahasiswa di Indonesia, segala upaya untuk membuat baik di Indonesia, justru mereka yang paling elitis dan paling alergi dengan masyarakat. Karena mereka menganggap ada batasan kampus, di mana batasan kampus itu sama dengan tembok yang tinggi sekali.
Dan saya mengerti bahwa mahasiswa suka bicara atas nama rakyat, tapi cobalah campur langsung dengan rakyat. Itukan lain lagi.

Caranya?Selama ini, mahasiswa paling bisa bergabung dengan mahasiswa lain. Sampai di situ. Tetapi mahasiswa terlibat langsung sebagai leader of the people, belum terjadi. Dan saya rasa mahasiswa hanya bisa benar-benar mewujudkan posisi sejarah mereka kalau mereka bisa mengatasi limitation ini.

Jadi apa yang salah di Indonesia ini? Apa yang mesti diperbaiki?Menjinakkan oligarkinya.

Dengan cara?Memperkuat sistem hukum

Apakah selama ini sistem hukum di Indonesia belum kuat?Hampir tidak ada.

Sistemnya atau orangnya?Enggak, maksud saya, kalau kita definisikan sistem hukum yang kuat dan definisi cukup kuat untuk membuat orang kuat tunduk terhadap hukum, jelas Indonesia gagal. Jadi, jangan kita mengukur sistem hukum dari apakah orang biasa tunduk kepada hukum. Karena setiap hari orang biasa tunduk kepada hukum. Yang menjadi ukuran, apakah orang yang paling kuat di Indonesia tunduk kepada hukum? Dan sampai sekarang itu tidak terjadi.

Seberapa besar ancaman oligarki buat politik di Indonesia?Mungkin tidak ada ancaman yang lebih daripada itu. (Ancaman datang dari) Oligarki liar, bukan oligarki saja. Oligarki liar yang tidak tunduk terhadap hukum. Jadi, yang perlu oligarki jinak di Indonesia.

Apakah karena tidak adanya kepemimpinan yang kuat juga?Soal kepemimpinan, jelas Soeharto sebagai pemimpin bisa menjinakkan oligarki, tetapi kita lihat juga, untuk masa depan panjang Indonesia itu jalan buntu. Karena, orang tidak membangun sistem. Yang perlu, sistem yang lebih kuat daripada orang.
Dan yang diciptakan Soeharto justru orang yang lebih kuat daripada sistem. Yang diwariskan dari zaman Soeharto dan Orde Baru, justru institusi-institusi yang hancur total dan tidak mampu untuk mengendalikan orang yang paling kuat di Indonesia.
Jadi, harus dibangun sistem, bukan orang. Jelas dengan membangun sistem. Namun, itu harus dibantu oleh leader yang tegas, kuat. Orang yang tegas dan kuat itu justru harus bertugas untuk membangun sistem yang kuat, bukan kekuasaan dia sendiri.

Untuk membuat sistem yang kuat harus dimulai dari mana?Saya tidak punya instruction book untuk how to do it. Indonesia harus mencari caranya yang khas. Indonesia sendiri. Konteks Indonesia, sejarah Indonesia, kebudayaan Indonesia dan seterusnya.
Jadi saya tidak bisa katakan, ‘this is how you do it’. Indonesia sendiri harus mobilisasi dan cari sendiri. Kalau ini ga jalan, coba yang ini, coba yang lain. Don’t give up. Saya yakin bisa menang. Don’t give up.

Untuk Pemilihan Umum 2014 idealnya seperti apa?Idealnya Rizal Ramli.

Kenapa?Karena saya menganggap dia leader yang luar biasa, eeee (jeda sebentar), dalam sejarahnya dia, eeee, membuktikan bahwa dia berani ambil risiko, tidak takut siapapun dan selalu konsisten dalam prinsip untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sri Mulyani?Ee (jeda sebentar lagi), Sri Mulyani juga bagus.

Di antara mereka?Ee (kembali jeda untuk berpikir), kenapa harus pilih di antara mereka. Kenapa tidak digabung saja berdua. Hehehe, itu lebih bagus lagi..hahahaha.(***)

Kamis, 14 April 2011

Mengelabui Kereta

Karena transportasi publik masih dianaktirikan, saya akan membagikan sedikit tips yang semoga berguna bagi anda sekalian. Saya hanya akan membahas moda transportasi kereta listrik atau KRL yang setiap hari saya gunakan PP BogorJakarta.

=====

Info awal:
KRL terdiri dari beberapa gerbong. Setiap gerbong terdiri dari dua pintu yang sejajar di sisi kiri dan kanannya.

Ada tiga jenis KRL berdasarkan fasilitasnya, (1) KRL Ekonomi (2) KRL AC Ekonomi dan (3) KRL Ekspres. Masing-masing punya sedikit kelebihan dan banyak kekurangan.

Waktu pemberangkatannya sangat beragam, terutama untuk KRL Jabodetabek. Anda bisa memilih berangkat kapan saja asalkan antara pukul 05.00 hingga 22.30.

=====

Langkah 1: Persaingan Sempurna
Begitu anda masuk pintu kereta, terserah mau masuk di kiri atau kanan, secepat mungkin cari bangku kosong. Di fase ini, anda akan diperkenalkan dengan persaingan sempurna. Masing-masing penumpang punya kans yang sama dan punya hak yang sama untuk mendapatkan kursi.

Namun harus diingat, incar bangku panjang yang terbentang di tengah gerbong. Jangan kau duduki bangku-bangku sudut karena hanya diperuntukan bagi orang-orang berkebutuhan khusus (maaf, di sini juga termasuk manula, ibu hamil, maupun orangtua yang membawa anak).

Jika anda bersikeras duduk di situ, siap-siap saja kembali mengangkat pantat begitu datang orang-orang dengan spesifikasi tadi. Kalau anda tidak punya rasa malu dan hati anda sekeras batu, silakan pura-pura tidur, biar perlu dengan mendengkur, agar tempat duduk yang sedari awal anda perjuangkan, tak dijajah orang lain. Dan jangan lupa, tutup muka dengan masker agar muka kau yang merah hati itu tak terdeteksi.

Sikap seperti ini juga berlaku bagi anda yang sudah duduk di kursi tengah. Karena tidak menutup kemungkinan ada orang yang berspesifikasi tadi tidak kebagian tempat di sudut dan memilih mencari orang-orang yang iba untuk memberikan kursinya.

Langkah 2: Manfaatkan Sudut
Jika anda kalah bersaing memperebutkan kursi, jangan berkecil hati. Di setiap sudut pintu masuk ada sedikit celah yang bisa dimaksimalkan untuk duduk melantai. Syukur-syukur anda punya kursi lipat sehingga bisa langsung digunakan dalam situasi semacam ini.

Kalau tak punya, beli saja koran seribuan dan tarik halaman yang tak perlu untuk dijadikan alas duduk. Pegal sedikit tak apa, perjalanan rute terjauh hanya 1,5 jam. Untuk mengusir kejenuhan anda bisa mengeluarkan ponsel sekadar sms, telpon, browsing dll. Atau bisa baca koran. Mungkin juga ada ide kreatif lain yang intinya bisa mengusir kejenuhan selama perjalanan.

Kalaupun ternyata sudut-sudut pintu sudah terisi penuh, incar lokasi sambungan antargerbong. Di situ ada sedikit celah untuk sekadar menaruh 2 hingga 4 pantat. Saya menyebutnya 'hotspot'. Karena, di lokasi ini anda akan mendapatkan sensasi yang tidak dirasakan penumpang lain. Goyangannya lebih terasa. Apalagi pada saat kereta sedikit berbelok.

Anda akan juga merasakan naik-turun posisi gerbong satu dengan yang lain. Maklum, KRL itu sekumpulan sel-sel yang setiap selnya memiliki karakteristik tersendiri. Ketika anda berada di antaranya otomatis anda akan melihat dan merasakan dua sel sekaligus.

Langkah 3: Saat anda terpaksa berdiri
Setelah tak ada lagi ruang untuk duduk, muka anda jangan tegang. Jika begitu keringat dingin akan keluar dan ini menyebabkan anda semakin nelangsa di dalam kereta. Tetap tenang. Cari posisi berdiri di tengah gerbong. Kalau bisa rapatkan badan anda ke orang-orang yang mendapatkan jatah duduk. Selain ada penopang tangan, posisi itu pun memungkinkan anda untuk tak mudah tergeser pada saat penuhnya sesak.

Jika anda membawa ransel yang super berat, usahakan menaruhnya di brangkas yang sudah tersedia di sisi atas kepala anda. Mempertahankan posisi tas di punggung atau pun dalam pelukan hanya akan membuat muram air muka orang di sekitar anda. Tenaga anda pun. Akan terkuras.

Tak usah cemas, tak banyak kasus pencurian yang terjadi. Lagipula pencuri akan berpikir puluhan kali mencuri barang di posisi yang sulit dijangkau. Namun, tak ada salahnya anda tetap waspada dengan sesekali melirik ke arah barang.

Langkah 4: Mendapati kereta sudah amat padat
Saat mendapati kereta yang sudah amat padat, dorong diri anda sekuat tenaga agar bisa masuk ke dalam kereta. Yang harus tertancap dalam benak anda, "yang penting masuk dulu". Kemudian barulah sedikit-sedikit bergeser ke tengah hingga menemukan zona nyaman. Tapi ingat, senyaman-nyamannya berdiri diapit orang-orang bersimbah keringat, pasti ada saja orang yang juga berusaha mencari zona nyaman.

Pada posisi seperti ini, anda harus siap-siap 'bertarung'. Lagi-lagi terjadi persaingan sempurna. Setiap orang diam-diam pasti punya pikiran jahat untuk mempertahankan posisi nyamannya. Hal ini menimbulkan adanya aksi dorong-dorongan yang terus terang amat tak nyaman. Tapi anda harus tetap berpikir jernih. Biarkan orang lain berusaha mendorong, anda harus mengikuti arus kepadatan. Jangan melawan ketika kereta bergoyang. Ikuti saja gerak kereta dan gerak penumpang di sekitar anda. Dengan begitu tenaga anda bisa dihemat. Dalam posisi amat terjepit, jika keadaan anda tak tenang malah akan membuat anda cepat capek. Ujung-ujungnya menjadi stres dan besoknya anda tidak bisa bekerja karena sakit.

Langkah terakhir: Dikelabui kereta
Jika sudah tak ada tempat lagi untuk naik kereta, sebaiknya anda tidak bekerja di Jakarta. Jakarta hanya cocok untuk orang-orang yang berkepala batu. Yang tak kapok-kapoknya kembali pada suasana pengap, sempit, dan lembab oleh keringat. Yang terpaksa menikmati dikelabui kereta.***

Sabtu, 08 Januari 2011

Tawaran Pluralitas Palalangon

Natal di Palalangon tak ubahnya seperti perayaan Lebaran. Anak-anak bergembira mengenakan pakaian baru. Berlari lintang-pukang di halaman gereja sambil menunggu orang tua mereka selesai beribadat.

Natal di Palalangon pun tak seperti di kota besar. Tak ada penjagaan ketat petugas. Jalannya ibadat berlangsung khidmat dengan kicauan burung dan suara gemerisik daun yang diterpa angin.

Natal di Palalangon juga menyisakan banyak pertanda tentang sebuah cita-cita luhur suku sunda yang senang hidup rukun, damai, dan sejahtera. Dengan khotbah dari pendeta yang banyak menyerukan perdamaian di atas perbedaan.

Pada mulanya keterasingan. Demikian yang diungkapkan Pendeta I Putu Suwintana usai memimpin malam kudus, sehari sebelum Natal, Jumat (24/12). Dia menceritakan awal berdirinya Gereja Kristen Pasundan (GKP) Palalangon yang terletak di Kampung Palalangon RT 02/09 Desa Kertajaya Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur.

"Kehadiran Kristen tak lepas dari intimidasi baik secara ekonomi, politik, maupun primordial," Putu menjelaskan. Dan kehadiran Gereja Palalangon pun tak lepas dari semangat mengasingkan diri. Ini dilakukan agar umat Kristen di tatar Sunda bisa terselamatkan dari gejolak yang berkembang masa itu.

Pencarian lokasi penyelamatan akhirnya dilakukan seorang pengabar injil dari Belanda, BM Alkema. Dia memang datang ke Jawa Barat untuk menyelamatkan umat Kristen yang ada tercerai berai tersebut dengan menyatukan mereka kembali.

Dalam misinya mengajak tujuh orang pribumi yang berasal dari Jawa Barat. Pencarian dimulai dengan menyusuri sungai Cisokan di sebelah utara Cianjur yang diteruskan ke selatan menyusuri Sungai Citarum.

Setelah satu minggu pencarian akhirnya ditemukan sebuah tempat yang agak lapang. Itupun ditemukan tak sengaja akibat salah satu anggota rombongan terperosok. Sebuah tanah lapang dengan kontur seperti punggung kura. Tempat itu dirasa cocok untuk memberi tempat bagi penganut Kristen.

Di tempat ini mereka hidup damai dan bisa menjalankan ibadah dengan leluasa. Penduduk setempat yang jumlahnya tak banyak pun amat toleran dengan perbedaan. Hal ini membuat banyak warga Priangan, baik dari Bogor, Sukabumi, Jakarta, hingga Banten berurbanisasi ke sana.

Pada 1902 barulah dibangun sebuah gereja dan Palalangon dikukuhkan sebagai nama gereja sekaligus nama kampung. Menurut warga sekitar, Palalangon diambil dari bahasa sunda yang berarti 'panggung yang luhur'. Nama tersebut dipilh Alkema karena sesuai dengan kontur tanah serta sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi warga Kristen.

Pada perkembangannya, banyak penduduk yang membangun rumah dekat gereja itu. Mau tak mau hubungan kekerabatan mereka jalin sejak saat itu. Sikap toleransi berkembang lambat-laun. Tak sadar, masing-masing pihak saling menghormati ritual agama mereka. "Dari awal agama Kristen berkembang di sini, tak pernah sekalipun ada konflik. Tak salah dinamai sebagai Palalangon," kata Ucu Suwarna Miun, Ketua 1 Majelis Jemaat GKP Palalangon.

Bola salju kekerabatan ini semakin menggelembung setelah pihak satu dengan pihak lain melebur. Entah dalam status pernikahan maupun persahabatan. Jadilah dalam satu keluarga lumrah ada yang beragama Islam maupun Kristen.

Di Pelalangon saat ini, sudah ada sebanyak 370 kepala keluarga yang menganut kristen dari 7 kk pada 108 tahun lalu. Sebagian besar mereka menghadiri kebaktian yang dilakukan Jumat lalu. Mereka datang berbondong-bondong tanpa memakai kendaraan bermotor. Ini membuat suasana gereja sangat tenang.

Sepengetahuan Ucu yang sudah hidup di Palalangon sejak tahun 1950-an ini tak ada konflik keagamaan yang terjadi di Palalangon.

Pendapat ini diperkuat dengan penuturan Aiptu Kurnadi dari Polsek Ciranjang yang sudah bertugas sejak 1985. Ditemui saat sedang bersantai sambil menjaga keamanan gereja pada Sabtu (25/12), Kurnadi menceritakan bahwa tak ada satu pun konflik besar yang terjadi karena perbedaan agama. "Orang di sini hidup rukun. Kondisi ini diperkuat
dengan masih adanya hubungan kekerabatan antara penganut agama Islam
dan Kristen," kata pria asli Subang ini.

Kalaupun ada konflik, itu hanya riak-riak kecil. Pendeta Putu mengatakan konflik kecil ini biasanya dilontarkan oknum yang menghina salah satu agama. Hal ini bukan masalah bagi warga sekitar. Selain kontraproduktif, warga di sana sudah paham dengan niat busuk dari sebagian kecil masyarakat yang tidak ingin melihat adanya kerukunan.

"Jika ada masalah, kami selalu mengembalikannya pada musyawarah. Kami selalu melibatkan tiga aparat, aparat desa, kepolisian, dan babinsa. Biasanya masalah bisa langsung dimediasi," jelas Putu.

Hubungan kekerabatan yang justru terus terjalin erat. Lewat berbagai aktivitas, mulai dari bakti sosial, perayaan hari-hari besar Islam maupun Kristen, hingga pesta panen yang biasanya dilakukan Agustus.

"Contoh kecil pada acara pengobatan gratis di gereja beberapa waktu lalu. Yang hadir bukan hanya warga beragama Kristen. Mereka tak sungkan untuk datang ke gereja," Kata pria asli Bali ini.

Pada kebaktian malam kudus menjelang Natal, walaupun petir menggelegar, ibadat tetap jalan. Umat tetap khusuk mengikuti prosesi keagamaan. Mungkin ini pertanda bahwa di Palalongan, isu perpecahan tak terasa.(*)

Penunggu Cirata

Rumah di Tengah Danau Berhalaman Kolam
“Jika saya punya tanah di daratan, lebih baik saya memilih tinggal di sana. Membesarkan anak seperti orang-orang lain,” ujar Ayub Cahyadi (57 tahun) pertama kali menyadari dia harus tinggal di Waduk Cirata.

Ayub, ayah lima orang anak dan tujuh orang cucu, memilih hidup di atas Cirata karena terdesak ekonomi. Mantan sopir truk ini terpaksa tinggal di hamparan Waduk Cirata karena perusahaan tempat dia kerja gulung tikar akibat embusan krisis ekonomi pada 1997.

Daripada tak punya pekerjaan dan tak bisa menghidupi keluarga, Ayub kemudian menerima tawaran kakaknya menjadi penjaga kolam ikan di Waduk Cirata pada 1999. Cirata pada saat itu tak seperti Cirata masa sekarang. Suasana masih hutan. Datang ke sana saja enggan, apalagi untuk tinggal dan mencari nafkah.

“Awalnya saya tak betah. Tempatnya sangat gelap. Tapi karena terdesak dan juga faktor umur, saya terpaksa hidup di sana,” ujar Ayub saat ditemui di kediamannya di tengah Waduk Cirata Sektor Cilincing Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur, akhir Desember lalu.

Lama kelamaan, dia semakin akrab dengan Cirata. Lambat-laun, dari yang hanya sebagai penjaga, Ayub bisa mencicil untuk membuat kolam sendiri. Dia juga semakin betah tinggal di atas danau karena bisa membangun rumah yang bisa ia perluas sesukanya. Tanpa takut terkena semprot penghuni lain karena di atas waduk tak perlu menyerobot tanah milik orang lain.

Sebelas tahun tinggal di Cirata, Ayub sudah memiliki 3,5 unit kolam atau 14 petak kolam yang ia tanami ikan emas dan ikan nila. Dari jumlah itu, sedikitnya dia bisa menghasilkan 14 ton ikan dalam tiga bulan. Dan itu cukup untuk menghidupi keluarganya. Bahkan, dia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Tinggal di atas danau bukan berarti tanpa kesulitan. Apalagi bagi orang yang terbiasa tinggal di darat. Ayub bercerita, paling susah mendapatkan air bersih untuk minum. Pertama kali tinggal di sana, Ayub harus membeli air jauh ke jalan besar di Ciranjang. Meminum air waduk amat berisiko. Ayub hanya berani memakai air waduk untuk mandi, itu pun harus sudah disaring memakai saringan khusus yang ia beli seharga 2 juta rupiah.

“Sekarang untuk membeli air minum sudah gampang karena banyak penjual air isi ulang yang jaraknya tidak jauh dari sini,” kata Ayub yang juga memelihara dua anjing dan merpati di sekitar rumahnya sebagai cara menghilangkan rasa sepi.

Lalu bagaimana dengan listrik? Pertama kali tinggal di sana, Ayub harus rela dengan penerangan lampu minyak. Tapi belakangan dia sudah mampu membeli diesel untuk menghidupkan listrik minimal.

Perkara izin mendirikan bangunan, itu pun bisa diatur. Rumah pria asli Betawi ini sudah tercatat sebagai rumah tinggal di RT 03//09 Kelurahan Kertajaya Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur. Pajak rumah dihitung dari jumlah kolam yang ia miliki. Per tahun Ayub mengaku membayar pajak sebesar 196 ribu rupiah.

“Keuntungan tinggal di waduk, kami tak pernah terkena banjir,” ujarnya. Terang saja, rumahnya berdiri di atas pelampung superbesar. Rumah apung ini pun dilengkapi 26 jangkar yang terbuat dari batu yang dimasukkan ke karung. Satu karung jangkar masing-masing seberat 2 kuintal.

Pelampung dan jangkar itulah sebagai kunci agar rumahnya tak tenggelam dan tak bergerak. Jangkar pun sangat membantu jika air waduk surut maupun pasang. “Saya tinggal tarik-ulur jangkar saja sesuai debit air,” ujarnya enteng.

Saat ini, Ayub merupakan satu di antara 2 ribu penghuni di Waduk Cirata. Sebagian besar memang tak seperti Ayub yang berniat membangun rumah dengan harga mencapai 57 juta rupiah. Sebagian besar hanya menghuni beberapa bulan saja hingga ikan dipanen, setelah itu mereka pulang ke rumah untuk bertemu keluarga mereka.

Selain penghuni, di Cirata juga terdapat warung kelontong dan restoran ikan air tawar, bahkan penginapan. Warung kelontong sangat dibutuhkan para penghuni sekitar jika ada kebutuhan mendesak seperti membeli beras ataupun membeli kebutuhan untuk mandi.

Sedangkan restoran dan penginapan dibangun seiring adanya kunjungan wisatawan. Walaupun tak banyak seperti wisata di tempat-tempat komersil, pada hari libur pasti ada beberapa orang yang datang sekadar untuk mencicipi ikan bakar.

Jika mereka malas untuk pulang, mereka bisa menyewa kamar barang satu atau dua hari dengan harga terjangkau. Dijamin suasananya bakal berbeda dan sensasional.(*)

Wisata Ganjil Waduk Cirata

Suasana Pagi di Waduk Cirata Sektor Cilincing

Sejatinya waduk Cirata tak diciptakan untuk sebuah tempat wisata. Para perencananya pun mungkin tak terpikir kalau waduk buatan seluas 6.200 hektar itu menjadi lahan pengembangbiakan ikan air tawar yang menghasilkan ribuan ton pertahun. Dia diciptakan hanya untuk memenuhi cadangan listrik yang konon hingga sekarang belum juga terpenuhi.

Dan siapa yang menyangka apabila di atas waduk tersebut ada orang yang sedia menggantungkan hidupnya. Berkeluarga di atasnya. Bahkan memelihara anjing maupun merpati sebagai penghilang rasa sepi di saat malam menyelimuti waduk. Di situlah, mungkin, sebuah wisata dimulai. Dari sebuah kemurnian. Keterkejutan sejarah.

Wisata di Cirata dibangun oleh serba ketidaksengajaan. Bahkan pencemaran yang dilakukan oleh penghuni maupun zat kimia yang berasal dari turbin yang menghasilkan listrik, juga bisa disebut wisata. Betapa menyayat hati melihat ikan-ikan yang mengambang di permukaan waduk. Bukan hanya puluhan, tapi ratusan ikan terhampar karena terpapar timbal.

Waduk Cirata merupakan waduk terbesar di Jawa Barat. Luasnya mampu menjangkau tiga kabupaten, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Bandung Barat. Waduk ini dibuat untuk membangkitkan listrik melalui tenaga air (PLTA). Perusahaan Listrik Negara (PLN) sengaja menenggelamkan lahan milik untuk ditanami air. Butuh waktu lima tahun terhitung sejak 1982 hingga 1987 untuk membuat waduk ini.

Dari Cirata PLN mampu menghasilkan listrik berkekuatan 6 x 151 megawatt. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan tambahan listrik pertahun yang mencapai 3.000 megawatt. Jika airnya sedang surut, listrik yang dihasilkan pun semakin sedikit.

Koran Jakarta kebetulan menyambangi Waduk Cirata di sektor Cilincing Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur. Untuk mencapai waduk ini pengunjung harus melewati jalan yang amat sempit sepanjang enam kilometer dari Jalan Raya Ciranjang. Jalan menuju ke waduk sebagian besar belum beraspal, terutama di satu kilometer terakhir.

Di sektor Cilincing mungkin tak akan terpikir bahwa waduk ini merupakan pembangkit tenaga air. Di sini kita hanya melihat sebagian besar waduk tertutup kolam-kolam ikan. Antara satu kolam dengan kolam lain hampir saling berhimpitan. Letaknya yang tak teratur membuat waduk terlihat kumuh.

Dari seorang penghuni bernama Gumilar (24 tahun) atau lebih ingin dipanggil Bejo diceritakan bahwa waduk ini mulai dijamuri para penambak ikan sejak 1997. Krisis keuangan yang melanda Indonesia membuat waduk ini ramai. Bahkan orang-orang tak segan membangun rumah di atasnya. Awalnya untuk menunggu kolam, namun lama-kelamaan menjadi tempat tinggal tetap karena tak kunjung mendapat tempat di daratan.

“Dulu hanya satu-dua. Itupun penduduk sekitar sini. Tapi sejak krismon (krisis moneter, red.) waduk ini diserbu banyak orang,” kata Bejo dengan logat khas sunda.

Bisa dibilang, Bejo adalah generasi pertama yang memilih tinggal Cirata sektor Cilincing. Sejak umur lima tahun Bejo sudah diajak ayahnya tinggal di Cirata. Dia diperkenalkan bagaimana membuat kolam dan menanam ikan. Di Cirata pula cintanya dengan penduduk sekitar tumbuh. Hingga dia dikaruniai seorang anak lelaki dan tetap berkomitmen untuk tinggal di kolam itu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Bejo membangun warung kelontong yang mengapung di atas waduk.

Warung Bejo satu-satunya di Cirata sektor Cilincing. Dia bersama istrinya menjual segala perabotan yang dibutuhkan para petani ikan. Mulai dari sabun mandi hingga camilan berupa mie instan rebus layaknya warung kopi.

Sebenarnya pekerjaan utamanya menjaga kolam. Warung yang ia bangun hanya sampingan. Dia juga memiliki beberapa rakit untuk disewakan bagi para pemancing sebagai tambahan penghasilan. Dari pekerjaan sampingan ini dia bisa membeli sebuah kapal motor yang ia pergunakan untuk transportasi dan sesekali disewakan bagi para pengunjung.

Waduk Cirata banyak dikuasai orang luar kota. Mereka berlomba-lomba membuat kolam. Tanpa ada pungutan resmi, asal bisa membangun kolam, mereka bisa menguasai waduk. Itu makanya orang-orang luar kota yang berduit amat mudah membangun kolam di sana.

Seorang pemancing, Yono (29) mengatakan hanya dengan uang 12 juta rupiah, siapa pun bisa membuat kolam di Cirata. Izin membuat kolam tinggal minta terhadap oknum, membayar seadanya, kolam pun tinggal dibangun.

Dengan Modal sebesar itu, orang bisa membuat satu kolam dengan empat petak. Satu petak, berukuran sekitar 7x7 meter, bisa ditanami maksimal 30 kilogram bibit ikan. Dalam tiga bulan, bibit ikan sudah bisa dipanen dengan berat rata-rata mencapai 1 ton.

“Biasanya, para penambak menanam dua jenis ikan, ikan emas dan nila. Selain cepat panen, kedua jenis ini dinilai resisten terhadap limbah,” kata Bejo.

Betapa menggiurkan bisnis ikan di waduk ini. Tak heran jika ada sebanyak 200 ribu petak kolam yang tersebar di waduk Cirata. Dan rata-rata pemiliknya dari luar kota seperti Kota Bandung, Jakarta, maupun luar Jawa.

Kondisi ini juga dikeluhkan I Putu Suwintana. Dia adalah pendeta di Gereja Palalangon yang berlokasi tak jauh dari waduk itu. “Penduduk di sini bahkan tak merasakan sama sekali manfaat dari keberadaan waduk itu. Bahkan untuk menikmati listrik yang dihasilkan dari sana,” jelas Putu yang sudah tinggal sejak 2008.

Warga di sekitar Gereja Palalangon pun lebih memilih menjadi buruh tani dibandingkan menambak ikan.

Di balik invasi orang-orang luar, waduk Cirata tetap memiliki eksotisme yang masih tersembunyi. Hampir 20 tahun tinggal di Cirata, Bejo fasih membaca perilaku waduk itu. Bejo bertutur bahwa waduk ini punya sifatnya tersendiri. Salah satu ciri khas wadu ini adalah pada Januari hingga Februari air waduk biasanya menjadi putih seperti air beras. Angin baratlah yang menyebabkan air waduk seputih air beras.

Menurut ayah beranak satu ini, putih air waduk disebabkan lumpur dari dasar waduk naik ke atas. “Anginnya juga sangat besar. Saat angin barat berhembus, biasanya virus datang dan membuat ikan-ikan di sini mati,” kata Bejo.

Pada dua bulan ini pula para penambak ikan yang bergantung pada Waduk Cirata, cemas. Ikan-ikan bergelimpangan, baik di dalam maupun di luar kolam. Para pemancing juga cemas karena tangkapan mereka berkurang.

Lengkap sudah wisata di Waduk Cirata. Pengunjung disuguhi bukan dengan keindahan waduknya, tapi cerita yang terhampar di atasnya. Wisata yang ditawarkan Cirata adalah wisata yang berwujud perilaku manusia yang serakah. Ditambah ornamen manusia-manusia danau yang menggantungkan hidup di atasnya hanya karena terhimpit kebutuhan ekonomi.(*)

Sabtu, 03 Juli 2010

Judi Provokasi

Selalu ada kejutan dari Diego Armando Maradona. Di saat Jerman pusing memikirkan bagaimana menghentikan liukan Lionel Messi, Sang Legenda justru asyik memamah cerutu sambil memantau anak asuhnya berlatih.

Sebelumnya, ia juga dengan santai berkomentar pedas tentang para pemain Jerman. Thomas Mueller yang masih berusia 20 tahun ia pandang tak lebih sebagai pemungut bola. Ia bahkan enggan untuk satu meja dengan pemuda tanggung ini saat konferensi pers. “Saya baru akan duduk di sana (meja konferensi pers, red.) jika si ballboy itu sudah selesai meracau.”

Gaya intervensi yang sangat khas Argentina. Negara berkembang yang pertumbuhan ekonominya nyaris sama dengan Indonesia ini terkenal dengan silat lidahnya. Tak jarang mereka menggunakan gesture untuk meyakinkan pernyataanya. Bahkan pemain Jerman mengatakan, pasukan Tango pintar mengintervensi wasit.

“Lihat saja bagaimana mereka ikut campur saat wasit sedang berdiskusi dengan hakim garis (saat mengesahkan gol Tevez ke gawang Meksiko). Keahlian mereka memang seperti itu. Yang penting, kita jangan sampai terprovokasi. Kita harus fokus pada pertandingan,” jelas Bastian Scweinsteiger.

Sepak bola memang sarat dengan intrik. Sedikit kita terprovokasi pernyataan orang, walaupun itu tak ada hubungannya dengan teknis bermain, hasil akan berubah. Lihat saja bagaimana cara Jerman (Barat) memanipulasi sedemikian rupa ulah pribadi Johan Cruyff di Piala Dunia 1974.

Majalah terbitan Jerman Barat, Bild, sehari menjelang pertandingan final Piala Dunia 1974 mengangkat artikel berjudul provokatif, ”Cruyff, Sampanye, dan Gadis-gadis Telanjang”. Di dalam artikel itu, Johan kedapatan berpesta dengan gadis cantik di pinggir kolam renang hotel tim Belanda menginap.

Cruyff yang dikenal sangat cinta terhadap keluarga tersentak. Alih-alih berkonsentrasi mempersiapkan diri jelang laga final, ia justru sibuk menelpon istrinya, Danny Coster. Ia berusaha agar istrinya tak mempercayai artikel itu.

Simon Kuper pada majalah FourFourTwo edisi Juli 2009 menguatkan temuan Bild. Mengutip saudara Cruyff, Hennie, FourFourTwo mengabarkan, dering telepon hampir semalaman terdengar. Dan inilah pangkal masalah yang membuatnya letoy di final.

Jerman Barat berhasil mengintervensi Belanda secara psikologis. Mereka juga berhasil menggondol tropi Piala Dunia kala itu. Inilah contoh sempurna betapa perang psikologis sangat berdampak pada teknis pertandingan. Belanda yang kala itu memiliki temuan strategi yang brilian lewat total football harus kalah di tangan Jerman yang pantang menyerah dengan pertahanan berlapis yang digalang Berti Vogts.

Perang klasik itu kembali dihadirkan di lapangan. Di tanah Afrika Selatan. Argentina lebih agresif memberikan tekanan psikologis. Jerman yang merasa sangat santun ketika menanggapi serangan Argentina, justru mengemas perang batin ini dengan cara-cara lain.

Jerman punya cara yang lebih baru dalam mengintervensi hati tim lawan. Lihat bagaimana mereka bisa membelokkan keputusan wasit saat bola hasil tendangan Frank lampard jatuh sekitar 90 sentimeter di dalam gawang Neuer. Cermati sikap Neuer yang seolah bola itu tak pernah masuk. Dengar pula pengakuannya seusai pertandingan. “Saya sebenarnya mengetahui bola itu masuk, tapi saya sengaja bersikap seolah-olah bola itu tak pernah melewati garis gawang.”

Jerman dan Argentina adalah dua negara yang memiliki teknik bermain sepak bola yang setara. Malam ini, mereka akan bertarung di atas lapangan Stadion Green Point, Cape Town. Wasit yang akan memimpin laga kedua negara ini adalah Ravshan Irmatov asal Uzbekistan. Salah satu jalan untuk bisa melaju ke semifinal adalah cara-cara licik. Intervensi.

Hati-hati Irmatov! Bisa-bisa Anda akan menjadi kartu As pemain dari kedua kubu ini untuk memenangi pertandingan. Maklum, keduanya sudah terbukti lihai memprovokasi.

Mencari Batang Hidung Cruyff

Dua hari kita puasa pertandingan Piala Dunia. Televisi dan surat kabar melulu menampilkan ulasan pertandingan perempat final yang akan dilangsungkan mulai hari ini. Sambil, tentu saja, menyertakan gosip-gosip sebagai bahan pembicaraan pemirsa maupun pembaca di tempat kerja atau warung kopi.

Malam ini, saatnya kita larut kembali pada pertandingan. Porsi begadang harus kembali kita ambil agar tak melewatkan diri menjadi saksi sejarah sepak bola.

Malam ini pula, Belanda dan Brazil akan berjibaku meraih satu tempat di semifinal. Informasi paling gres yang bisa memperpanas laga keduanya adalah semifinal Piala Dunia 1998 di Prancis. Saat itu Brazil menang dalam tos-tosan, 4-2.

Kekalahan menyakitkan itu tentu akan memantik Belanda dan jutaan rakyatnya mengunyah dendam. Untuk kemudian memuntahkannya saat pluit panjang.

Di kubu Brazil, buruan rekor akan menjadi pemantik mereka untuk mengukuhkan kedigdayaan di ajang sepak bola. Raihan enam kali jawara Piala Dunia adalah motivasi terbesar mereka. Para pendukungnya tak sungkan-sungkan membawa tulisan "Barzil,6" di setiap laga yang dimainkan Pasukan Dunga. Tulisan yang akan terus mengingatkan Kaka cs untuk tetap pada rel juara.

Kesamaan motivasi tentu akan menghadirkan drama yang menarik saat keduanya bertanding di Stadion Nelson Mandela Bay, Port Elizabeth. Inilah yang ditunggu seluruh pecinta sepak bola di dunia.

Namun, akan lebih menarik lagi jika kita menengok gosip yang berkembang sebelum keduanya bertanding.

Belanda yang sedari babak penyisihan bermain aman dan merebut semua kemenangan, diguncang dengan pernyataan Robin Van Persie. Saat Pelatih Belanda Bert Van Marwijk menggantinya di 10 menit terakhir saat Belanda bertemu Slovakia, Robin tak rela. Sekonyong-konyong striker klub Arsenal ini melontarkan emosi dengan menyatakan bahwa rekannya Sneijder-lah yang layak diganti.

"Sneijder bermain lebih buruk dari diriku, tapi kenapa aku yang ditarik. Padahal aku sudah melihat rekahan-rekahan di barisan pertahanan Slovakia dan siap untuk mencetak gol."

Komentar Robin itu tertangkap mata dan telinga kamera dan langsung menyebar di surat kabar-surat kabar Belanda.

Publik Belanda kembali cemas. Memori buruk pertikaian internal jelang laga penting kerap membuat tim ini kalah.

Ingat bagaimana konflik antara pelatih Belanda sebelumnya, Guus Hiddink, yang bersitegang dengan Edgar David di Euro 1996. David yang kala itu menghina Hiddink saat konferensi pers langsung dipulangkan. Hasilnya, Belanda tersingkir.

Juga konflik Marco Van Basten saat mengarsiteki Belanda di Piala Dunia 2006. Ia berkonflik dengan Van Bommel, Seedorf, dan si bengal Ruud Van Nistelrooy. Ujung-ujungnya juga tersingkir.

Jelang kontra Brazil, konflik kembali pecah. Pemicunya Arogansi Persie. Lebih pelik lagi, konflik Persie dan Sneijder sudah menahun. Keduanya juga sempat bersitegang saat tragedi adu mulut yang memperebutkan siapa yang berhak mengeksekusi bola mati di sebuah laga Euro 2008. Belanda akhirnya tersingkir karena kalah dari Rusia.

Apakah ini sinyal kejatuhan kembali Belanda? Sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Yang jelas Marwijk sudah buru-buru menyatukan kompatriotnya dengan pertemuan intensif. Ia bahkan memanggil Persie-Sneijder untuk berbicara enam mata.

Beralih ke kubu Brazil. Di tim ini memang tak terdengar konflik internal, namun beberapa punggawanya digosipkan cedera. Gelandang bertahan andalan mereka Felipe Melo diragukan tampil. Juga tandem Kaka di lini tengah, Elano. Pemain Galatasaray ini divonis menderita cedera engkel kiri. Tulangnya tergores. Sebuah cedera yang langka diderita pesepakbola.

Ada lagi yang patut dicatat di sini. Pernyataan legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff, tiba-tiba mengusik skuadBrazil. Ia semena-mena menyatakan permainan Brazil tak layak tonton. Ia bahkan tak tertarik menyaksikan laga Brazil. "Saya tak akan pernah membeli tiket menonton pertandingan Brazil."

Pernyataan ini unik karena jauh-jauh hari Cruyff juga mempertanyakan filosofi sepak bola yang lama digoreng Belanda: total football. Ia kecewa Marwijk mengkhianatinya.

Dan saya ragu Cruyff tak mau menonton laga Brazil lawan Belanda. Diam-diam, mata kamera pasti akan mencari-cari di mana Cruyff kedapatan serius menonton pertandingan ini.(wandiudara.blogspot.com)

Senin, 28 Juni 2010

Menanti Robin Hood Eropa

Belanda menjadi salah satu tim Eropa yang jauh dari rongrongan kritik. Walaupun sempat dihujat karena mengkhianati filosifi total football, mereka masih bermain baik dengan tiga kemenangan beruntun di penyisihan Grup E Piala Dunia 2010. Bandingkan dengan dua finalis Piala Dunia 2006, Prancis dan Italia yang tersingkir di babak penyisihan.

Tiga kemenangan juga membuat Belanda menjadi tim yang paling diharapkan publik Eropa untuk mempertahankan kedigdayaan Eropa di kancah sepak bola. Inggris dan Jerman memang melaju ke babak 16 besar, tapi keduanya sempat kalah dan menjadi sasaran kritik di negaranya.

Kekhawatiran lain publik pecinta sepak bola Eropa adalah, dari 13 negara Eropa yang menjadi peserta Piala Dunia 2010, hanya enam negara yang lolos ke 16 besar. Mereka adalah Inggris (Grup C), Jerman (Grup D), Belanda (Grup E), Slovakia (Grup F), Portugal (Grup G), dan Spanyol (Grup H).

Di perempat final, jumlah tim Eropa praktis tinggal tiga negara karena keenam negara itu sudah saling jegal di 16 besar. Inggris v Jerman, Belanda v Slovakia, serta Portugal v Spanyol. Bandingkan saat Piala Dunia 2006 yang berlangsung di Jerman. Tim Eropa yang berhasil melaju ke perempat final ada enam negara. Dan negara Eropa pula yang akhirnya menjadi juara setelah menempatkan Italia dan Prancis (dua negara Eropa) di final.

Kondisi ini bertolak belakang dengan tim dari Amerika Selatan. Semua wakilnya lolos dari penyisihan grup. Brasil, Cile, Paraguay, Argentina, dan Uruguay melaju mulus ke 16 besar. Bahkan Uruguay sudah pesan kursi di perempat final setelah mengandaskan salah satu wakil Asia, Korea Selatan. Tulisan ini belum termasuk pertandingan antara Argentina v Meksiko yang bertanding dini hari tadi.

Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke mengakui bahwa tim Eropa memang sedang dalam kurva menurun. Valcke yakin, babak penyisihan grup mencerminkan betapa keroposnya sepak bola Eropa. “Memang mereka mempunyai kompetisi lokal yang berjalan panjang, namun kenyataannya mereka tidak mendominasi.”

Seorang pengamat sepak bola dari Australia, Les Murray, pun percaya, Piala Dunia kali ini bisa menjadi titik kejatuhan sepak bola Eropa. Apalagi jika tim Eropa tak mampu menjuarai Piala Dunia kali ini. Kutukan bahwa negara-negara Eropa tak bisa juara di luar benua mereka, semakin benar adanya.

Kembali ke awal tulisan, Belanda sepertinya layak menjadi Robin Hood bagi tim-tim Eropa. Mereka punya kans untuk bisa mempertahankan kedigdayaan sepak bola Eropa di mata dunia. Walaupun punya kelemahan karena belum sekali pun menjuarai Piala Dunia, setidaknya Van Persie dkk bisa berkaca pada kegagalan.

Tanda-tanda lain bahwa Belanda yang harus dipilih sebagai penyelamat Eropa adalah gol yang dicetak Klaas Jan Huntelaar menjelang injury time ke gawang Kamerun. Gol tersebut semacam sinyal bahwa para sinyo Belanda punya semangat juang tinggi sebelum pluit panjang dibunyikan.

Malam ini, perjuangan Belanda menjadi Robin Hood dimulai saat melawan Slovakia. Vladimir Weiss sebagai pelatih mampu menyatukan anak-anak Slovakia menjadi tim debutan yang sukses melenggang ke Piala Dunia. Prestasi monumental mereka semakin mentereng karena berhasil mengalahkan Italia di laga terakhir babak penyisihan. Sempat menjadi negara yang paling tak berpeluang lolos dari Grup F, mereka justru bisa keluar dari lubang jarum.

Melawan Belanda, bekal Slovakia tak terlalu banyak. Dari empat gol yang disarangkan (tiga di antaranya oleh Robert Vittek), Slovakia hanya mampu melakukan usaha tendangan sebanyak delapan kali. Bandingkan dengan Belanda yang menendang sebanyak 20 kali.

Dan yang patut diwaspadai Belanda adalah serangan balik Hamsik dkk. Selain pertahanan mereka yang kokoh di bawah kendali Martin Skrtel, lini depannya juga jitu memanfaatkan kelengahan lawan.

Jika bisa melewati Slovakia dan (kemungkinan) mengalahkan Brazil di perempat final, Belanda semakin mungkin menjadi pencipta sejarah Eropa. Lebih dari itu, mereka pun bisa menjadi penyelamat Eropa.

Minggu, 27 Juni 2010

Menjinakkan Kick and Rush

Legenda hidup sepak bola Jerman Franz Beckenbauer sangat berharap pertemuan Jerman dengan Inggris di 16 besar Piala Dunia 2010 berakhir seri. Tak peduli berapa gol yang tercipta. Der Kaizer ingin agar pertandingan diakhiri dengan adu penalti. Dan tentu saja, Jerman yang menang seperti di Piala Dunia 1990 dan Piala Eropa 1996.

Franz sebelumnya sempat syok, Jerman dan Inggris harus bertemu lebih awal. Maklum, rivalitas kedua tim sudah melengenda sejak 1966. Saking tegangnya, ia sempat melontarkan kata-kata ‘bodoh’ untuk Inggris. Menurutnya, Inggris belum pantas bertemu lebih awal dengan negaranya. Ia memaki Inggris tak bermain bagus di penyisihan grup dan hanya bisa lolos sebagai runner up.

Tentu saja pernyataannya itu adalah sinyal ketakutan. Walaupun dia akhirnya meminta maaf atas perkataannya dan berbalik menyanjung kehebatan sepak bola Inggris, tetap saja kekhawatiran Jerman tetap kentara.

Di lain pihak, Inggris tak ikut larut dalam pernyataan provokatif Franz. Pelatih Inggris Fabio Capello justru punya keyakinan tim asuhannya akan menang. Salah satu yang membuatnya optimis adalah kemenangan Inggris saat laga persahabatan di kandang Jerman pada November 2008. Saat itu Inggris mempermalukan Jerman di kandangnya sendiri, di Berlin, 2-0.

Kiper Inggris David James, yang belakangan tampil bagus juga menanggapi pernyataan Franz dengan tenang. Walaupun Inggris hanya bisa lolos dengan dua gol, James yakin pertandingan tidak akan berakhir lewat adu penalti. “Jelas kami lebih baik dari Jerman dan ingin mengalahkan mereka untuk kebahagiaan rakyat Inggris,” katanya.

Kalau Capello berkaca pada kemenangan di laga persahabatan, James juga berkaca atas kemenangan Inggris di laga kualifikasi Piala Dunia pada 2001. Inggris menang besar 5-1, juga di kandang Jerman di Stadion Olympic.

Seiring berkembangnya permainan Inggris, Wayne Rooney justru menjadi sorotan. Ia tak juga mampu mencetak gol. Namun, saat laga terakhir melawan Slovenia, ia sudah mulai bermain ngotot. Temannya di Manchester United, Nemanja Vidic, yakin Rooney akan kembali. Entah saat melawan Jerman atau pada laga selanjutnya jika Inggris melaju.

“Jika Rooney meledak pada partai melawan Jerman, saya yakin dia akan menjadi pemain terbaik di Piala Dunia kali ini,” kata James yakin. Walaupun Vidic tak menyatakan itu, dari pernyataannya tersirat harapan serupa.

Kondisi Jerman justru lebih baik dari segi kemampuan pemain. Di tim ini, tak ada pemain yang sangat diharapkan untuk mengangkat performa tim seperti Rooney. Pelatih Jerman Joachim Loew mampu membuat kemampuan semua pemainnya merata. Adapun yang menonjol, mereka tak terlalu menjadi kunci yang tak tergantikan. Sebagai contoh, saat performa Miraslav Klose sedang turun, Jerman punya pengganti yang sepadan lewat pemain muda, Cacau. Begitupula saat lini depan Jerman mandek. Pemain tengah macam Mesut Ozil mampu mengeluarkan Der Panzer dari kebuntuan.

Fakta bahwa Jerman meniru gaya Inggris juga menarik diangkat. Mantan duet Loew, Klinsmann, mengakui bahwa Jerman menerapkan permainan gaya Inggris. Keduanya sering menonton Liga Premier dan kerap mengobrol tentang gaya permainan cepat dan umpan-umpan lambung akurat.

Dan pada pertandingan di babak penyisihan, Jerman justru tampil lebih atraktif dengan gaya Inggris. Gaya ini bisa dilihat saat Jerman dengan gemilang memecundangi Australia 4-0 di laga perdananya. Setelah itu, Jerman sempat kalah dari Serbia karena ada yang terkena kartu merah. Di pertandingan terakhir, mereka kembali bermain baik setelah mengalahkan Ghana 1-0 lewat gol cantik Ozil.

Bagi pecinta bola, tak terkecuali para penggemar Inggris dan Jerman, pertandingan ini akan menarik karena kedua tim sedang dalam performa baik. Keduanya juga akan bermain dengan gaya menyerang yang banyak melepaskan bola. Walaupun Capello sempat membantah ia tak bermain kick and rush, Inggris tentu tak ingin mereka dikalahkan oleh jurus ciptaannya sendiri.