Usai ditahan imbang Amerika Serikat, keesokan harinya tiga pemain Inggris bermain golf di The Lost City Golf Course, Sun City. Mereka, Robert Green, Peter Crouch, dan Wayne Rooney. Green yang menjadi kambing hitam masyarakat Inggris nampak santai memukul bola. Begitu pula dengan Rooney dan Crouch yang sebelumnya bermain di bawah performa.
Apakah ini sinyal bahwa Inggris tak tertekan dengan hasil imbang melawan AS. Bahkan mereka juga tak terlalu peduli dengan cemoohan rakyat Inggris? Layaknya pertanyaan itu dijawab usai Three Lions bersua Aljazair petang ini di Cape Town.
Meski begitu, saya sedikit terusik dengan sikap Fabio Capello. Mengapa Don Fabio tak meledak-ledak saat tim asuhannya bermain biasa dan hanya menuai imbang. Ia yang biasa berbusa memarahi pemain, kali ini justru melindungi blunder Green dari tusukan pena hampir seantero wartawan Inggris. Ia bahkan tak memberi sinyal akan mengganti Green di pertandingan berikutnya.
Dengan santai ia berdalih bahwa kesalahan Green itu manusiawi. "Dia melakukan satu kesalahan. Tapi, ia juga melakukan banyak penyelamatan gemilang di babak kedua. Saya puas dengan penampilannya. Kadang kala, seorang striker kehilangan peluang bagus. Kadang kala, kiper melakukan kesalahan. Itulah sepakbola," kata Capello mengutip Goal.
Bandingkan sikap itu dengan insiden ngambek Capello saat Inggris menang 3-0 lawan anggota Liga Primer Afrika Selatan, Platinum Stars, di laga terakhir uji coba. Ia marah karena melihat buruknya kerjasama tim, terutama seringnya para pemain melakukan kesalahan sendiri. Tak hanya marah, ia bahkan memaki-maki para pemain di kamar ganti. Kemarahan yang menurut Jhon Terry paling menakutkan selama Capello menangani Inggris.
Atas sikap bertolak belakang Capello ini, saya jadi teringat sosok ayah. Capello benar-benar menempatkan dirinya sebagai teman saat anaknya dalam kesulitan. Sebaliknya, saat sedang latihan ia bebas mencaci pemain semata karena performanya menanjak. Begitu masuk kompetisi, Capello merasa sudah harus melepas. Fase marah-marah harus ditanggalkan kalau tidak ingin anak asuhnya kalut.
Capello saat ini justru menjadi satu-satunya pelindung para pemain Inggris. Ia bahkan menjadi tameng saat semua orang meragukan tim Inggris. Satu contoh, bagaimana ia melindungi Green.
Capello yang biasanya diam tak beraksi dengan kritikan terhadap pola permainannya, juga langsung bereaksi saat legenda Jerman Franz Beckenbauer mengkritiknya. Sang Kaisar menyebut bahwa Inggris kurang kreatif bermain sepak bola. “Mereka banyak membuang bola ke depan. Tipikal kick and rush,” katanya.
Alih-alih mempertahankan diri, ia justru menjawab kritikan itu dengan memuji para pemainnya. "Kami tidak memainkan bola-bola panjang. Kami memainkan banyak umpan dan punya peluang mencetak gol. Karena alasan ini, saya tak paham apa yang Beckenbauer katakan," tambahnya.
Menarik disimak adalah alasannya menyalahkan jabulani. Bola ini kembali menjadi aktor utama di Piala Dunia 2010, mengalahkan aksi para pemain. Menurutnya, jabulani adalah bola terburuk yang pernah ia lihat selama hidupnya.
“Bencana bagi para pemain. (Bola) itu buruk bagi kiper karena pergerakannya sulit. Sangat sulit memahami ke mana bola bergerak, apalagi saat mengumpan jauh. Sangat susah dikendalikan, ," paparnya mengutip BBC Radio Five Live.
Lalu, siapa yang akan menang? Inggris atau Aljazair? Oh, saya luput membahas teknis pertandingan. Sikap Capello terlalu menarik untuk diulas. Pertanyaan itu mungkin bisa saya jawab besok, saat semua koran ibu kota menyimpan berita di halaman satu tentang keberhasilan Inggris mengatasi Aljazair.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar