Italia wajib menang atas Slovakia jika tak ingin bernasib seperti Prancis. Tersingkir di permulaan babak hanya akan melanggengkan cibiran setelah dua kali mereka imbang. Pilihan sejarah untuk mengaitkan hasil Italia malam ini adalah, sukses melaju ke babak kedua seperti Piala Dunia 1982 atau gagal total seperti di Piala Dunia 1986.
Harapan melaju sebenarnya ada walaupun bermain imbang. Tapi itu harus dengan memo, Selandia Baru kalah dari Paraguay. Skenario ini amat kecil kemungkinannya. Dan malu jika Italia yang mantan juara Piala Dunia 2006 itu hanya bisa lolos dengan catatan.
Ringkasnya, Italia harus mampu meringkus Marek Hamsik dkk! Caranya? Pernyataan mantan pelatih Italia (1991-1996) Arrigo Sacchi pantas dikutip.
“Italia hanya perlu mempelajari motivasi. Materi di tahun 2006 (saat Italia juara) juga tak bagus-bagus amat. Hanya ada tiga yang mentereng, yakni Buffon, Cannavaro, dan Materazzi. Jadi, jangan beralasan kalau materi pemain saat ini kurang berkualitas.”
Motivasi bagi Sacchi ibarat bensin. Ia mengandaikan, Italia saat ini layaknya mobil Ferrari yang kehabisan bensin. Secepat dan secanggih apapun mobil, tanpa bensin tidak bisa melaju.
Peluang meraih kembali motivasi juara sebenarnya terbuka lebar. Italia diuntungkan dengan posisi Slovakia yang saat ini berada di ekor Grup F dengan hanya mengumpulkan nilai satu hasil dari imbang melawan Selandia Baru (1-1) dan kalah dari Paraguay (0-2).
Posisi tak mengenakkan itu memaksa Slovakia untuk tampil menyerang jika ingin punya asa lolos dari fase grup. Di sinilah keuntungan Italia yang tak didapat di dua laga sebelumnya.
Dalam posisi diserang, Italia justru senang. Sejarah membuktikan bahwa Italia adalah tim yang tidak nyaman menang dalam penguasaan bola. Mereka kerap tak menemukan kreativitas jika diuji untuk membongkar puzzle pertahanan lawan.
Masih segar di ingatan bagaimana Montolivo dan De Rossi tak mampu mengirim bola bagus ke Iaquinta saat ditahan All Whites, Selandia Baru. Umpan-umpan datar yang diinstruksikan Marcelo Lippi justru tak digubris. Para pemain malah menerapkan umpan-umpan lambung yang mubazir karena tangguhnya pertahanan yang digalang Ryan Nelsen.
Apalagi jika Andrea Pirlo dipercaya bermain. Siapa yang meragukan sniper Italia di lapangan hijau ini. Bersama Gattuso, kehadiran Pirlo pasti akan membantu menjalankan ciri khas Italia, serangan balik. Umpan-umpan jauhnya akan memanjakan siapa pun yang berada di depan. Terlebih jika Lippi memasang striker yang punya kecepatan lari seperti musang. Dan Gilardino patut diberi satu tempat untuk menjalankan tugas itu.
Untuk menyempurnakan misi ini, Italia juga harus berani menempatkan hanya tiga pemain di belakang. Tempatkan Cannavaro sebagai sweeper. Untuk memotivasinya, beri dia video rekaman aksi-aksi Franco Baresi saat memimpin Italia melaju ke final Piala Dunia 1994.
Video tersebut amat penting jika melihat perangai Canna, sebutan Cannavaro, yang meledak-ledak. Bek Juventus ini juga harus lebih tenang mengantisipasi bola-bola cepat dan datar. Kesalahan seperti saat melawan Selandia Baru haram untuk diulangi. Tak ada alasan lagi untuk tidak bisa memotong, mengontrol, dan membuang bola jauh dari kotak penalti.
Jika sudah bermain tanpa cela, Bonucci dan Chiellini yang mendampinginya di belakang sudah cukup untuk mengamankan gawang yang dijaga Marchetti.
Skenario selanjutnya, bersiap-siaplah menghadapi Belanda di babak 16 besar.
(Foto: Fabio Cannavaro/AFP)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar