Rabu, 23 Juni 2010
Menafsir Petisi (Pemain) Inggris
Pemain Inggris gusar. Mereka mulai menuntut cara melatih Capello yang asal Italia itu. John Terry juga mulai jumawa dengan status Inggris di dadanya.
“Anda tahu apa? Lalu kenapa? Saya di sini untuk Inggris!”
Terry melontarkan kalimat itu di hadapan pers. Konteksnya, Terry dan delapan tulang punggung skuat Inggris ingin Capello mengubah cara dia memperlakukan pemain.
Selepas kalah dari Meksiko (2-0), sembilan pemain Inggris dipanggil Capello untuk membicarakan performa tim. Reaksi pemain justru di luar dugaan Capello. Mereka mengajukan tiga tuntutan: (1) Ganti Emile Heskey dengan Joe Cole, (2) beri sedikit kelonggaran, dan (3) sediakan waktu lebih banyak untuk mempelajari tim lawan.
Capello bergeming. Ia hanya ingin membicarakan performa keseluruhan tim. Gara-gara sikap keras kepala Capello, tiga tuntutan itu akhirnya terpapar ke media. Dan keluarlah kata-kata keras seperti yang saya kutip di atas.
Menarik membahas tiga tuntutan pemain Inggris. Emile Heskey yang selalu diturunkan di dua pertandingan Inggris, tampil tak maksimal. Duetnya dengan Wayne Rooney di depan sangat tak padu. Keduanya kerap bermain melebar. Heskey yang dulu sangat oportunis di depan gawang, kali ini tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan untuk sekadar menyambut umpan silang pemain sayap, ia kerap luput. Anehnya, Capello kerap telat menggantinya.
Pilihan Joe Cole sebagai pengganti juga menarik disimak. Dia belum pernah diturunkan saat melawan AS maupun Meksiko. Dan posisinya juga bukan penyerang. Joe lebih sering ditempatkan di sayap kanan saat bermain di Chelsea. Tapi, dari segi kreativitas, pemain kelahiran London 29 tahun lalu ini tak perlu diragukan lagi.
Para pemain Inggris percaya, kehadiran Joe akan membuat serangan Inggris semakin bervariasi. Dia juga dipercaya bisa membangkitkan kreativitas Rooney yang tak kunjung muncul.
Tuntutan mengganti Heskey dengan Joe otomatis meminta Capello mengganti pola permainan. Faktanya, Inggris yang selalu bermain 4-4-2 hanya memasukkan satu gol dari dua pertandingan. “Berarti, ada yang salah dengan formasi.” Mungkin demikian yang ada dibenak para penuntut Capello.
Merujuk posisi Rooney di Manchester United, formasi Inggris versi Capello sepertinya tak cocok untuk Rooney. Di MU, Rooney ditempatkan sebagai penyerang tunggal. Dan terbukti, dia sakti mencetak gol. Menarik disimak, Chelsea yang juga banyak menyumbang pemain untuk timnas Inggris, juga menerapkan formasi yang menempatkan satu pemain di depan.
Artinya, pola 4-4-2 yang diterapkan Capello sudah kagok diimplementasikan pemain. Mereka justru meminta Capello menumpuk banyak pemain di tengah. Tuntutan memasukkan Joe juga masuk akal karena dia bisa berperan sebagai pencuri yang sewaktu-waktu menusuk ke daerah pertahanan lawan dan menjebol gawang.
Dilihat dari pertahanan pun, Inggris akan beruntung dengan banyaknya pemain tengah. Ketiadaan tiga bek pendamping Terry, yakni Rio Ferdinand (cedera), Ledley King (menyusul cedera), dan Jamie Carragher (akumulasi kartu), bisa ditutupi oleh pemain tengah.
Tuntutan kedua pemain, “Beri kami kelonggaran!” Nah, ini yang multiinterpretasi. Melihat jadwal latihan tim Inggris, para pemain sebenarnya mendapat banyak kelonggaran. Capello memberikan waktu bebas dua kali bagi pemain, yakni pada pukul 14.00 hingga 19.30 dan pukul 21.30 hingga keesokan harinya sebelum latihan (pukul 08.00). Artinya, dalam sehari, waktu bebas mereka sebanyak 15 jam! Lebih dari cukup untuk berleha-leha.
Tapi, ketika ingat bahwa Capello meminta para pemain untuk tak minum alkohol dan tak bercinta selama Piala Dunia, saya mafhum. Rooney dan kawan-kawan merasa tak bisa keluar dari tekanan media dan warga Inggris yang terkenal bermulut tajam. Mereka merasa, alkohol dan bercumbu dengan WAGs adalah solusi keluar dari tekanan. Termasuk tekanan dari terkaman kata-kata Capello sendiri. Berapa jam pun mereka diberi kebebasan, tanpa ‘minum’ dan ‘ngeseks’, terasa menjemukan.
Sedang tuntutan ketiga, menurut saya, adalah ekses. Meminta pelatih untuk memperpanjang waktu mempelajari kekuatan dan kelemahan tim lawan sebenarnya tidak masuk akal. Bukankah itu tugas Capello yang sudah digaji FA (PSSI-nya Inggris) sebesar Rp81 miliar per tahun? Pemain tinggal menerapkan instruksi pelatih.
Sekarang, tinggal bagaimana Capello berbesar hati mengabulkan dua tuntutan anak asuhnya. Untuk permintaan ketiga, bolehkan dia menolak. Setidaknya, Capello tidak cepat-cepat didepak dari tim Inggris hanya karena kalah melawan Slovenia dan gagal melaju fase 16 besar.(*)
(Foto: Capello dan Terry/AFP)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar