Prancis benar-benar dalam tekanan. Diusirnya Nicolas Anelka merupakan puncak gunung es carut-marutnya internal tim juara Piala Dunia 1998 dan juara Piala Eropa 2000 ini. Sejak lolos kualifikasi dengan kontroversial karena peristiwa “tangan Tuhan” Thiery Henry, Prancis kerap disorot sebagai tim yang tak berhak maju ke putaran final Piala Dunia.
Semua media menyorot Raymond Domenech atas pincangnya performa tim Ayam Jantan ini. Dia yang telah melatih tim ini sejak 2004, belum pernah sekalipun mengangkat gelar. Prestasi terbaiknya adalah mengantar Prancis menjadi finalis Piala Dunia 2006. Sayang, mereka kalah dari Italia lewat drama adu penalti. Kekalahan itu semakin diperunyam dengan diusirnya Zinedine Zidane karena menanduk dada Marco Materazzi.
Sejak saat itu, prestasi Prancis tak pernah stabil. Persoalan regenerasi pemain juga bermasalah. Frank Ribery yang disebut-sebut sebagai pengganti Zidane, justru terus bermasalah dengan pribadinya. Ada pula Yoann Gourcuff yang dipercaya Domenech menggantikan peran Zidane mengatur lapangan tengah Prancis, masih jauh dari sekadar mirip.
Prancis justru terpuruk di Piala Eropa 2008. Mereka tak mampu menjadi dua terbaik di Grup C yang merupakan grup neraka. Prancis pun hanya mampu meraih nilai satu.
Domenech tak dipecat dengan hasil buruk di Piala Eropa. Media-media Prancis sempat memintanya untuk mundur, namun Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) masih percaya padanya. Saat itu, FFF beralasan Prancis harus siap-siap menghadapi Piala Dunia 2010. Mencari pelatih baru berarti harus membangun tim dari nol lagi.
Keputusan FFF keliru. Tim Prancis ternyata tak lebih baik. Mereka terseok-seok di kualifikasi dan lolos dengan kontroversial saat menjalani laga play off melawan Irlandia. Seperti yang dijelaskan di awal, Prancis harus mengklaim dukungan “Tuhan” melalui tangan Henry yang menahan bola sebelum mengoper ke William Gallas yang saat itu menjadi penentu kemenangan.
Alih-alih mentereng di putaran pertama Piala Dunia, Prancis tak berdaya melawan Uruguay di partai perdananya di Grup A. Di pertandingan itu, tak satu pun peluang bagus didapat Ribery dkk. Prancis justru kebingungan mencari cara untuk mengolah bola yang benar untuk dikonversikan menjadi gol.
Hasil tak maksimal itu memunculkan berbagai rumor. Dosa masa lalu kembali terungkap. Domenech kembali dituding tak realistis saat memilih 23 pemain berdasarkan astrologi. Domenech sangat menghindari memanggil pemain dengan zodiak scorpio. Tak heran jika Robert Pires, Ludovic Giuly, Podreti, dan Micoud tak pernah menjadi prioritasnya. Tak masuknya Samir Nasri dan Karim Benzema pun semata-mata karena ramalan bintang.
Ekspektasi semakin tinggi kala Prancis menjamu Meksiko. Sebelumnya, Meksiko tak pernah menang lawan Prancis. Publik Prancis berharap, laga melawan Meksiko ini menjadi batu loncatan Prancis untuk bangkit dan merebut kemenangan demi kemenangan.
Lagi-lagi, Prancis gagal. Meksiko justru berhasil menorehkan sejarah gemilang dengan menumbangkan Prancis 2-0. Prancis yang bertabur bintang itu tetap tak punya kreativitas untuk membuka pertahanan lawan. Ribery yang dimainkan di tengah bermain tanpa arah. Malouda yang ditempatkan di sayap kiri kerap salah paham dengan Ribery. Di depan, Anelka seperti anak ayam kehilangan induknya. Dia berlari tak keruan.
Zidane sebenarnya sudah membujuk empat pemain Prancis agar mereka melapor ke Domenech untuk mengubah pola menjadi 4-4-2. “Pasang satu penyerang lain untuk menemani Anelka. Kembalikan lagi posisi Ribery di sayap kanan,” mungkin begitu saran Zidane. Namun, Domenech tak mendengarkan saran itu. Ia tetap bermain dengan pola yang sudah usang.
Keadaan semakin buruk ketika Anelka ditarik keluar sebelum laga melawan Meksiko berakhir. Ia kesal. Menurut wartawan, Anelka sempat melontarkan kata-kata kotor ke depan muka Domenech saat di ruang ganti. “Sialan, dasar kamu anak pelacur!” Begitu kata Anelka. Namun, Anelka membantah telah melontarkan kata kasar. “Itu hanya karangan media,” imbuhnya.
Lepas dari kata apa yang terlontar dari mulut kecil Anelka, dia akhirnya didepak FFF dari skuat Prancis. Para pemain bereaksi dengan mogok berlatih pada sesi latihan Minggu (20/6).
Melawan tuan rumah Afrika Selatan malam ini, Prancis minimal harus menang telak 4-0 untuk bisa melaju ke babak 16 besar. Itu pun dengan catatan, laga Meksiko kontra Uruguay tak berakhir imbang. Inilah ujian Domenech sesungguhnya. Dia harus menang agar dosa-dosanya terampuni.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar