Apabila ingin menjinakkan Spanyol, lihatlah permainan Barcelona. Cermati pula bagaimana tim-tim penakluk Barcelona menerapkan strategi. Setidaknya, belajarlah pada Rubin Kazan dan tentu saja Inter Milan yang keduanya mengalahkan tim Catalan itu di Liga Champion. Segera hubungi Jose Mourinho yang tahu betul cara membutakan mata kaki para pemain tengah Spanyol.
Dan kalau perlu, simpanlah bus di depan gawang sebagaimana yang dilakukan Mourinho saat menekuk Chelsea dan Barcelona di Perempat Final dan Semifinal Liga Champion tiga bulan lalu. Niscaya, Spanyol akan frustasi. Mereka juga akan kelelahan untuk sekadar mendobrak pintu depannya.
Skuad Spanyol di Piala Dunia 2010 ibarat tim Barcelona yang disusupi semangat nasionalisme. Pemain Barcelona berada di semua lini tim Spanyol. Mulai dari kiper (Victor Valdes), belakang (Gerard Pique dan Carles Puyol), tengah (Xavi, Andreas Iniesta, dan Sergio Busquets), hingga depan (Pedro Rodriguez).
Jadi, jangan heran jika melihat permainan Spanyol seperti melihat permainan Barcelona yang diarsiteki Pep Guardiola. Mereka mampu bermain seperti sebuah orkestra di Kualifikasi Piala Dunia. Menyapu habis 10 pertandingan dengan kemenangan dan mencetak 28 gol dengan hanya lima kali kebobolan.
Pilar lapangan tengah Swiss, Gelson Fernandes, amat waras dengan prestasi jawara Piala Eropa 2008 itu. “Ya, mereka memang seperti Barcelona. Bermain sangat kolektif walaupun bertabur bintang. Anda bisa melihat mereka dalam satu kesatuan. Dan pertandingan nanti akan sangat menarik,” ucap Fernandes panjang lebar di laman AFP, dua hari lalu.
Kesadaran Fernandes patut diwaspadai Del Bosque saat timnya menghadapi Swiss di laga kedua Grup H Piala Dunia malam ini. Walaupun secara head to head, Spanyol menang 8 kali dari 10 pertandingan, pernyataan Fernandes bisa jadi sinyal kalau Swiss sudah tahu cara menjinakkan kedahsyatan si merah hati, La Furia Roja.
Di belakang sepasukan Swiss juga ada nama besar pada diri Ottmar Hitzfeld. Dia bahkan dipercaya sebagai salah satu peletak dasar sepak bola modern. Pria kelahiran Swiss ini telah malang-melintang di Liga Jerman. Prestasi paling prestisiusnya adalah langganan juara Bundesliga bersama Borussia Dortmund dan Bayern Muenchen. Hanya, kapasitasnya kurang sempurna karena belum meraih Piala Champion.
Lepas dari itu, Hitzfeld merupakan pelatih ulet. Sama seperti Mourinho, ia mampu memotivasi para pemainnya. Untuk soal manajemen, bisa jadi mantan guru matematika dan olahraga ini melebihi The Special One. Para pemain bintang Muenchen ia bikin sama rata. Egoisme mereka dikikis untuk membentuk tim yang solid.
Pria kelahiran Lörrach, Switzerland, 61 tahun lalu ini juga terkenal dengan disiplin yang tinggi. Ia bahkan bisa merambah menangani manajemen klub jika itu memang penting buat tim (kemampuan ini yang tak dimiliki Mourinho).
Patut dicatat, mulutnya pun tak setajam Mou. Pada konferensi pers jelang pertandingan melawan Spanyol, kemarin, Hitzfeld lebih memilih merendah. Ia justru memuji setinggi langit Spanyol.
"Saya rasa Spanyol adalah tim terbaik di dunia. Swiss yang merupakan tim biasa saja akan kesulitan menghadapi tim nasional terkuat di planet Bumi.” Ia melanjutkan, "Spanyol punya gelandang terbaik di dunia, penyerang sangat bagus, juga bek dan kiper yang sangat baik. Tidak hanya pada satu lini saja melainkan semua lini."
Di balik pernyataan itu, saya yakin mantan pemain Basel ini sudah tahu kunci kelemahan Spanyol. Patut dicermati adalah kemampuan Hitzfeld dalam merasionalkan sepak bola. Kepiawaiannya dalam ilmu geometri akan sangat berharga untuk menghitung secara akurat kelebihan dan kekurangan permainan tim Matador dalam angka.
Di pertandingan nanti, saya membayangkan Hitzfeld akan memerintahkan pasukannya untuk terlebih dulu mematikan lini tengah Spanyol. Membutakan mata kaki Xavi, Iniesta, atau Fabregas. Kemudian, dia juga akan menempatkan sedikitnya enam pemain di daerah pertahanannya agar David Villa atau Fernando Torres frustasi.
Setelah itu,…? Hanya Hitzfeld yang tahu.(*)
(Foto: AFP)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar