Selasa, 15 Juni 2010

Sembrani Bisa Mencuri

Sulit menentukan mana yang lebih penting antara partai Brasil versus Korea Utara dan Pantai Gading kontra Portugal di Grup G. Korea Utara memang terlihat paling gurem dibandingkan tiga negara lain. Tapi jangan lupa, Korut datang dengan kekuatan yang penuh misteri. Di tempa di tempat yang sangat isolatif di negara yang masih memandang nilai-nilai luhur komunisme, Korut sangat mungkin tampil mengejutkan.

Melihat misteri yang melindapi skuad Korut, pantas kiranya partai Brasil melawan Korut diulas. Apalagi Brasil merupakan tim yang bertabur bintang dan sangat menarik untuk diulas dari sudut mana pun.

Bertanding di Stadion Ellis Park, Johannesburg, keduanya akan bertanding dalam suhu yang relatif dingin, antara 9 hingga 16 derajat celsius. Maklum, Johannesburg ada di ketinggian 1.700 meter dpl.

Faktor cuaca sedikit banyak akan menjadi keuntungan Korut karena sudah terbiasa dengan cuaca dingin sesuai geografis negara itu. Sebaliknya, malapetaka bagi skuad Brasil yang lebih nyaman diiklim tropis.

Menarik juga diangkat adalah perilaku bola jabulani yang lebih liar di cuaca dingin. Peneliti Senior Teknologi Olahraga di Univeristas Lougborough, Leicestershire, Inggris, Andy Harland, mengatakan pergerakan jabulani akan lebih kencang hingga 5 persen jika dimainkan di cuaca dingin.

Faktor-faktor renik itu bisa menjadi malapetaka bagi Samba, julukan Brasil. Apalagi fakta bahwa Julius Cesar, kiper Brasil, amat tak suka dengan jabulani yang menurutnya tak lebih baik dari bola yang banyak dijual di supermarket.

Untungnya, secara teknis, lini depan Brasil sudah matang. Trio Kaka, Robinho, dan Fabiano mampu tampil garang saat memperkuat Negara. Kaka memang banyak dibekap cedera sehingga tersingkir dari 11 pemain pilihan mantan pelatih Real Madrid Manuel Pellegrini. Robinho juga sempat menjadi pilihan kedua oleh Pelatih Manchester City Roberto Mancini sebelum akhirnya menemukan kepercayaan diri di klub lokal Brasil, Santos. Fabiano bahkan belakangan diragukan karena minim mencetak gol bersama Sevilla.

Tapi, saat memperkuat negara, ketiganya tampil sempurna.

Mungkin, di sektor tengah dalam, Brasil sedikit bolong. Felipe Melo diragukan bermain maksimal walaupun tampil bagus pada Piala Konfederasi 2009. Keraguan terhadap Melo tidak lain karena penampilannya yang melempem bersama Juventus. Di Liga Italia, ia bahkan mendapat penghargaan Bidone d’Oro atau pemain terburuk pada 2009.

Tandemnya, Gilberto Silva juga sudah uzur. Kemungkinan besar pemain kelahiran 7 Oktober 1976 ini akan kewalahan jika diturunkan selama 90 menit, terlebih dengan cuaca dingin Johannesburg.

Korut bisa memanfaatkan kelemahan itu. Mereka juga bisa menggedor pertahanan Brasil melalui sisi lapangan karena pemain sayap belakang Brasil, Maicon dan Santos, kerap membantu serangan. Lubang yang menganga itulah yang bisa dimanfaatkan untuk memecah konsentrasi dua palang pintu tangguh, Lucio dan Juan. Dan tentunya punya peluang langka mencuri gol.

Perkara mencuri gol ke gawang Brasil ini bisa jadi jalan satu-satunya Sembrani Merah, julukan Korut. Pasalnya, mustahil bagi Korut untuk bermain menyerang melihat skuad Brasil. Walaupun punya kelemahan, Brasil tetaplah Brasil. Negara yang sudah lima kali juara dunia dan punya mental juara.

Tak heran kalau jauh-jauh hari Pelatih Korut Kim Myong-won mengisyaratkan pemainnya untuk bertahan menghadapi tim mana pun.

Pemain andalannya, Jong Tae Se, mafhum dengan strategi sang pelatih. Walaupun pemain berjuluk Rooney dari Asia ini sedikit kurang nyaman karena terbiasa bermain menyerang di klubnya, Kawasaki Frontale, salah satu klub dari Liga Jepang.

"Bermain untuk timnas tidak sama kala bermain untuk klub. Dalam kasus ini, timnas memainkan sepakbola bertahan, sehingga membuat banyak tekanan pada saya."

"(Namun) saya bermain untuk tim nasional dengan kebanggaan. Sementara bagi Kawasaki Frontale, saya bermain dengan penuh sukacita dan menikmati permainan bersama rekan yang lain karena kami merupakan tim ofensif, sehingga terdapat perbedaan," jelas Jong dikutip di laman goal.com.

Paling tidak, Jong bisa punya kapasitas untuk sewaktu-waktu menyelinap ke jantung pertahanan Brasil dan membuat sejarah.

(Foto AFP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar