Senin, 21 Juni 2010

Gemuk di Tengah

Banteng yang ditunggangi matador terlalu gemuk. Ini membuat lari mereka lambat. Serangan-serangan hanya tertahan di tengah. Tercatat, Spanyol hanya delapan persen bisa menguasai lini depan. Di sayap kanan, persentase penguasaan bola juga tak melebihi sepuluh persen.

Padahal, dari penguasaan bola, Spanyol menguasai hampir 60 persen. Sedangkan Swiss hanya sesekali menyerang dan memanfaatkan kosongnya lini belakang Spanyol.

Dan petaka itu terjadi, Spanyol yang keasyikan menyerang, justru tersengat. Swiss berhasil menjebol gawang yang dijaga kurang ketat oleh Iker Casillas. Spanyol pun tumbang. Gelar tim paling favorit memenangi Piala Dunia terkikis.

Di pertandingan kedua yang akan berlangsung dini hari ini, Spanyol wajib menang melawan Honduras. Tentu, laga akan berlangsung menegangkan karena kedua tim sama-sama mereguk kekalahan di pertandingan perdananya di grup H. Mau tak mau, kemenangan harus didapat jika tak ingin angkat koper lebih awal.

Sedikit berkaca pada sejarah, kedua tim baru bertemu sekali pada Piala Dunia 1982. Saat itu, Spanyol bertindak sebagai tuan rumah. Dan laga itu adalah laga perdana Spanyol dan laga debutan bagi Honduras di Piala Dunia.

Hasilnya, Honduras mampu merepotkan Spanyol yang kala itu diarsiteki Jose Santamaria. Negara yang berada di ekor Amerika Tengah itu mampu memimpin terlebih dulu melalui gol Hector Zelaya di menit ke-7. Penggila La Furia Roja yang memadati Stadion Luis Casanova (saat ini Stadion Mestalla), Valencia, sempat tegang selama hampir satu jam sebelum akhirnya Spanyol diselamatkan tendangan penalti di menit ke-65. Spanyol terselamatkan.

Dan 28 tahun kemudian keduanya kembali bertemu. Pelatih Honduras saat ini, Reinaldo Rueda, yakin bisa mengatasi perlawanan Spanyol. Ia yakin mampu membawa anak asuhnya mencapai target tertinggi dibandingkan pada 1982.

“Saya sudah melihat bagaimana mereka bermain melawan Swiss. Materi pemain mereka memang bagus, koordinasi permainan juga susah untuk dihentikan. Tapi dengan kebersamaan kami, tidak ada hal yang tidak mungkin untuk mengalahkan mereka,” umbar Rueda.

Pernyataannya memang tepat jika dikontekskan pada saat Spanyol dikalahkan Swiss. Tapi Rueda alpa, Spanyol saat itu bermain dengan satu striker. Pelatih Vicente Del Bosque terlalu menumpuk pemain di tengah. Seakan-akan dia tak ingin satu pun pemain tengah Spanyol yang saat ini bertabur bintang, tak diturunkan secara bersamaan sebagai pemain inti.

Di sinilah kesalahan Spanyol. Mantan Pelatih Spanyol Luis Aragones juga keras mengkritik strategi Bosque itu.

Aragones menyatakan, menyatukan dua gelandang bertahan Sergio Busquets dan Xabi Alonso amat mubazir. Keduanya terlihat kikuk untuk menempatkan posisi.

Kehadiran dua pemain ini juga menyulitkan Xavi dan Iniesta untuk bergumul menciptakan peluang bagi pemain depan. Alonso kerap mengambil alih posisi Iniesta. Terpaksa, Iniesta pun harus lebih berperan sebagai penyerang. David Villa yang dipasang sendirian kerap kesulitan menerima umpan-umpan Iniesta kerena jarak mereka terlalu dekat.

Kritik itu tentu membuat Bosque geram. Namun, diam-diam ia menerimanya. Rencananya Bosque akan memainkan Fabregas dan mengistirahatkan Busquets. Selain itu, ia juga akan menduetkan Villa dengan Fernando Torres yang sudah pulih dari cedera. Kehadiran Torres tentu akan menggeser antara David Silva atau Alonso.

Dengan formasi 4-4-2, Spanyol akan lebih menggigit. Lini tengah akan kembali proporsional. Tinggal bagaimana mereka bisa bermain tenang dan tak terburu-buru untuk mengirimkan umpan ke depan. Jika skenario seperti itu, Spanyol dipastikan akan menang besar.(*)
(Foto: Vicente Del Bosque/AFP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar