Sabtu, 19 Juni 2010

Misi Belanda di Mabhida

Dua negara mantan penjajah Indonesia, Belanda dan Jepang, akan berperang malam ini di Stadion Moses Mabhida, Durban. Gelandang Jepang Yuki Abe sudah buru-buru menebar ancaman di situs Goal. "Belanda berpikir mereka memiliki kekuatan di lini depan. Kami akan mencoba membuat mereka frustrasi. Kami akan menjaga setiap pemain Belanda," ujar gelandang klub Urawa Reds itu.

Pernyataan terburu-buru Abe adalah sinyal motivasi Jepang untuk buru-buru juga melangkah ke babak 16 besar. Laga sebelumnya, Jepang sukses mengalahkan Kamerun 1-0. Di laga tersebut, para pemain Jepang juga membuat tak berkutik Samuel Eto’o dan sejawatnya.

Selain Abe, optimisme pun teruar dari gelandang berpengalaman Junichi Inamoto. “Rasa bersatu dan kepercayaan diri meningkat setelah kemenangan melawan Kamerun. Yang jelas, ini positif setelah empat kekalahan (di laga uji coba).”

Performa tim Jepang saat melawan Kamerun memang sangat baik. Gol Keisuke Honda sangat brilian. Berawal dari umpan silang lambung Daisuke Matsui di sisi kiri pertahanan Kamerun, Honda mampu mengontrol bola dengan baik sebelum meneruskannya menjadi gol. Bukan hanya golnya yang indah, gabungan umpan pendek dan umpan jauh yang membuat Kamerun ketar-ketir juga tak kalah berkelas. Matsui bahkan mampu mengirim umpan yang bisa melewati dua menara Kamerun.

Bertolak belakang dengan Jepang, Belanda justru bersikap hati-hati. Pelatih Belanda Bert van Marwijk menilai laga melawan Jepang akan lebih sulit dibandingkan saat mengalahkan Denmark.

Jepang yang dulu tak pernah diperhitungkan di tingkat dunia, berubah menakutkan bagi tim Eropa, bahkan tim sekaliber Belanda. Begitu kira-kira kata lain dari pernyataan Marwijk.

Dilihat dari performa, permainan Belanda memang tak terlalu bagus. Walaupun menang 2-0, permainan mereka masih jauh di bawah performa kala bermain di kualifikasi maupun uji coba jelang Piala Dunia.

Seperti Spanyol, Belanda punya kelemahan mudah menyerah jika berhadapan dengan tim yang bertahan super. Sejarah yang menyesakkan selama Piala Dunia 1974 dan 1978 masih menempel erat di benak para pemain. Datang sebagai tim favorit, Belanda sangat terpukul dengan dua kali kalah di final Piala Dunia tahun itu. Sehingga, mereka tak pernah benar-benar bisa bangkit pada Piala Dunia berikutnya.

Tapi ini masih babak penyisihan. Masih jauh untuk membicarakan trauma. Para pemain Belanda juga sudah sedikit-sedikit mengikis efek trauma itu. Apalagi, banyak pemain Belanda yang sudah bermain di Liga Jerman. Menurut filosof sepak bola, Sindhunata, pengaruh (semangat) Jerman diam-diam telah meresapi para pemain Belanda.

Sindhu lalu mengutip pernyataan Pelatih asal Belanda Huub Stevens yang menyatakan bahwa pemain Belanda telah mengubah mentalnya. “Mereka tidak lagi memberikan semuanya untuk menang,” jelasnya.

Sampai di sini, saya paham mengapa Belanda memilih bermain untuk menang daripada bermain sombong memperlihatkan keindahan. Inipula yang pernah dikritik “penyebab” trauma Belanda, Johan Cruyff: Bahwa Belanda sudah terjangkit virus sepak bola “pragmatis”.

Lihat saja saat laga melawan Denmark. Pasukan oranye bunga tulip ini bermain biasa saja. Gol pertama terlahir karena bunuh diri. Gol kedua yang diciptakan Dirk Kuyt juga tak seindah gol semata wayang yang mengantar Jepang mengalahkan Kamerun. Serta, Tak banyak publik Belanda yang mengapresiasi hasil itu.

Menanggapi fakta tersebut, jawaban Wesley Sneijder cerdas. Salah satu pemain kesayangan Jose Mourinho saat masih menangani Inter Milan ini menyatakan, "Di Spanyol dan Italia, para pendukung amat suka jika Anda bisa menang dengan permainan bagus. Namun, tanpa itu pun, mereka mengapresiasi sebuah kemenangan."

Pernyataan berikutnya lebih menohok, “Saya tidak pernah ingat jika ada tim di Piala Dunia ataupun Euro yang tampil fantastis dalam enam pertandingan yang mereka mainkan.”

Melawan Jepang malam nanti, Belanda tetap favorit. Mereka tidak akan terlalu ngotot untuk bermain sepak bola indah seperti yang diinginkan publiknya. Para pemain yakin, dengan mengejar kemenangan, publik Belanda tetap akan memaksakan diri datang ke Moses Mabhida.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar