Dua dari tiga tim Eropa yang punya liga ternama sudah bisa menghindari kutukan tanah Afrika. Inggris dan Jerman sukses mengalahkan lawannya masing-masing dan melaju. Walaupun di 16 besar keduanya bersua, itu perkara lain. Hanya Prancis yang gagal lolos. Sebagian besar orang Irlandia mengatakan bahwa Prancis tak lolos karena mereka tim terkutuk akibat ulahnya di partai play off. Tapi dari segi teknis, Prancis memang tak pantas berada di 16 besar.
Saat ini giliran Italia dan Spanyol yang harus lolos dari lubang jarum. Italia tadi malam sudah diketahui nasibnya. Tulisan ini dibuat sebelum Italia bersua Slovakia.
Praktis, hal yang paling menarik dibicarakan adalah Spanyol. Dini hari ini mereka harus mati-matian mengalahkan Chili yang berada di atas angin untuk lolos karena punya tabungan nilai enam poin.
Di laga melawan Honduras, permainan Spanyol sudah mendekati sempurna. Kekurangannya, para pemain masih tergesa-gesa menyelesaikan peluang matang di depan gawang. Tiki-taka atau umpan pendek-cepat yang menjadi khas mereka sudah mulai berjalan dan enak dilihat mata.
Formasi juga sudah berubah dari saat dikandaskan Swiss. Sergio Busquet bermain lebih ke belakang. Permainan tengah dipegang Xavi Hernandes. Sedangkan Xabi Alonso dan Navas dikonsentrasikan untuk memainkan bola-bola di sayap. Perubahan radikal ada di depan, Pelatih Spanyol Vicente Del Bosque akhirnya menaruh dua penyerang yang sempat dikabarkan tegang, David Villa dan Fernando Torres.
Patut diwaspadai saat melawan Chili adalah kreativitas para pemainnya. Tanah Afrika yang ramah terhadap negara Amerika Latin juga membuat Chili lebih percaya diri. Ditambah tiga perwakilan zona Amerika Latin sudah memegang satu tiket, yakni Uruguay, Argentina, dan Brasil. Paraguay sudah bertanding tadi malam, tapi hingga tulisan ini dibuat, hasilnya belum diketahui.
So, Chili pasti akan termotivasi. Dan tak afdol jika membicarakan Chili, nama Marcelo Bielsa tak disebut. Dialah yang membuat Chili berbeda. Di bawah asuhannya Chili berjaya di kualifikasi zona Amerika Latin. Mereka parkir di posisi kedua, di bawah Brasil yang memimpin satu poin lebih banyak. Namun dari segi kemenangan, Chili lebih baik dari Brasil.
Di tangan ”Si Gila”, sebutan Bielsa, Chili menjadi tim yang menyerang agresif. Ia menerapkan strategi yang aneh, 3-3-1-3. Sebuah formasi menyerang yang tak satu tim punya berani memakainya. Bahkan Belanda yang jaya dengan penyerangan total football-nya pun tak berani menempatkan hanya tiga bek dengan tiga pemain tengah dan empat penyerang.
Trio penyerang Gonzalez, Suazo, dan Sanchez. Juga didukung penyerang lubang Fernandez, serangan Chili amat berbahaya. Ketajaman mereka sudah terbukti saat menekuk Honduras dan Swiss.
Dan Spanyol harus waspada itu. Di pertandingan terakhirnya, mereka bertemu dengan lawan sepadan. Paling menarik dari pertandingan ini adalah filosofi menyerang yang dianut keduanya.
Saya berani menyatakan bahwa pertandingan ini sangat langka dilihat di Piala Dunia. Di saat tim-tim lain membelot memainkan sepak bola sekadar menang (untuk menyebut bermain pragmatis), partai Spanyol dan Chili menjadi pengecualian. Bahkan bisa jadi pertandingan ini akan dikenang sepanjang sejarah sebagai pertandingan terbaik di Piala Dunia. Lepas dari tim mana yang menang dan akan melaju ke 16 besar.
Di pertandingan ini kita akan melihat tusukan-tusukan khas tiki-taka Spanyol. Kita juga berharap aksi-aksi Torres dan Villa mencetak gol. Atau umpan-umpan magis Xavi dan Iniesta di lapangan tengah. Sambil berharap, Chili meladeni serangan-serangan Spanyol dengan permainan-permainan individu pemain dalam menusuk pertahanan Spanyol. Melihat umpan-umpan terobosan dari kiri-kanan-tengah menuju Suazo yang sangat dingin di depan gawang.
Spanyol tentu banyak diharapkan menang. Apalagi tim ini banyak dihuni pemain yang sudah banyak dikenal pencinta sepak bola. Tanpa kehadiran Spanyol di babak 18 besar, Piala Dunia semakin tak menarik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar